
...EMPAT TAHUN KEMUDIAN....
Tegar menggeber motor gedenya dari rumah pribadinya menuju kota Yogyakarta. Melewati gelapnya malam panjang yang mendebarkan jantung hati seorang diri untuk menjumpai tunangannya yang akan melakukan wisuda hari itu.
Tegar sendiri telah menyabet gelar sarjananya seminggu yang lalu dengan predikat cumlaude. Prestasinya tidak mungkin tercapai dengan baik jika tidak ada dukungan dari Harris dan Ibu Mike. Ibu tiri Tegar itu sama halnya dengan Sera, suka mengatur dan banyak aturan yang diberikan demi kebaikan bersama. Tegar yang fasih dengan mudah mencolek hati Mike untuk menganggapnya ada di bagian keluarganya. Untuk sang ibu sendiri, Shinta slalu bijak menjadi istri kedua dengan melayani Harris sekenanya sebab ia sejujurnya hanya ingin di anggap ada walau Shinta tak mungkin sanggup membohongi hatinya. Dia mengorbankan hati untuk anak-anaknya.
Tegar menurunkan standar motor seraya melepas helmnya di depan sebuah minimarket pom bensin setelah tiga belas jam ia habiskan dengan berkendara. Tak sampai sepuluh menit dia sudah keluar, Tegar duduk di emperan toko untuk melahap bakpao dan bakpao hangat.
“Ya Tuhan, gue kangen banget sama Mika.” ucapnya sambil menyandarkan punggungnya di tembok. Tegar menatap suasana pagi di bawah langit kota Jogja yang cerah untuk mengurangi rasa lelah sebelum mengisi bensin dan pergi ke sebuah hotel.
“Cari suprise dulu.” Mampirlah Tegar ke toko bunga setelah merebahkan diri sejenak dan mempersiapkan diri di hotel. Dia membeli bunga mawar merah dalam jumlah banyak hingga menawan seperti Mikaila yang kini sedang ranum-ranumnya.
Tegar tersenyum sembari membawa bunga itu ke motornya sebelum menggebernya ke kampus si pacar yang sudah ia hafal baik rute perjalanannya. Dia kerap mendatangi Jogja untuk memuja Mikaila setiap kali ada kesempatan bertemu.
Tegar mengusap telapak tangannya seraya menyugar rambutnya ketika tiba di Graha Sabha Pramana. Suasana umum wisuda terlihat di seluruh bagian auditorium besar bergaya arsitektur mataram itu.
Tegar memilih menunggu di luar gedung. Bergeming dia di samping pilar. Matanya yang hitam ngantuk tertawan kaca mata hitam dan pakaian formal yang dikenalnya itu membuatnya terlihat seperti wisudawan lain. Namun dari penampilannya yang paling menyita perhatian adalah mawar merah dan pesonanya yang kian dewasa.
Tegar menyunggingkan senyum pada mahasiswi yang curi-curi pandang ke arahnya.
“Andai Mikaila tau, apa dia masih sewot?” Dengan iseng Tegar membagikan mawar yang dia bawa ke mahasiswi-nahasiwi tadi.
“Saya menunggu Mikaila Dannies, salah satu mahasiswi yang di wisuda hari ini. Kalau anda mengenalnya sampaikan kepadanya. Julio datang.”
“Mikaila? Gebetannya Ares?”
Tegar mengendikkan bahu. Lalu kembali bersandar di pilar. “Gebetannya Ares? Cowok seperti apa yang naksir Mikaila?”
Kembali Tegar mengendikkan bahu, daripada bingung dan sesat pikirannya akan dia tanyakan langsung kepada tunangannya yang baru melakukan sesi pidato di atas panggung.
Tegar memasang kupingnya baik-baik. Namanya di sebut, namun Ares juga. Alhasil Tegar tidak bisa menunggu dengan sabar. Dia menelpon Sera untuk memberitahu bahwa dia ada di luar gedung GSP seraya meminta tolong untuk mengeluarkan Mikaila dari sana.
__ADS_1
Butuh sepuluh menit lamanya hingga Mikaila bisa hadir di hadapannya matanya.
Menggunakan kebaya merah dalam balutan jubah hitam. Mikaila tersenyum sembari menghampiri tunangannya yang berekspresi dingin.
“Kok kamu datang gak ngasih kabar dulu sih, Gar? Tapi ganteng banget kamu.” puji Mikaila, tunangannya sudah mirip pengusaha muda sukses berkharisma.
“Sama mama dan Dinda gak?”
Tegar menyerahkan mawar merah yang ia bawa seraya menyingkirkan toga dari kepala Mikaila sebelum mencium keningnya.
“Lo tau suprise? Kalo tau, itu jawabannya!”
“Dingin banget suaranya.” Mikaila menyunggingkan senyum sembari menyingkirkan kaca mata Tegar. “Datang jam berapa?”
Tegar mengerjapkan mata. “Yang jelas gue belum tidur dari tadi malam.” Tegar menatapnya dengan lekat. “Lo ikut ke hotel gue habis ini?”
“Gak bisa.” Mikaila menggeleng. “Mama papa ngajak makan-makan habis ini terus balik ke kost. Malamnya kumpul-kumpul sama temen seangkatan, party. Besok deh.”
“Habis party!” tandas Tegar lalu tersenyum. Dia terpukau dengan wajah cantik yang akan diperistri sebentar lagi. “Masih mau ke dalam?”
“Makasih ya udah datang ke sini. Aku kaget, baru seminggu kita ketemu.”
“Aku juga kaget.” sahut Tegar, matanya jauh melihat suasana wisuda di luar gedung. “Siapa Ares?"
Mikaila lantas menatap tunangannya sambil menguncupkan bibirnya. “Kok itu sih yang di bahas. Kenapa gak bahas aku kangen kamu, dan kamu kangen aku.”
“Mika...” Tegar menggenggam tangannya. “Masalahnya tadi waktu gue minta orang buat cariin Lo, ada yang bilang Mikaila gebetannya Ares? Lo juga nyebutin namanya waktu pidato.”
Mikaila memutar matanya. Make up-nya yang flawless gagal menyembunyikan rasa kesalnya.
“Ares itu anaknya saudara papa, dia yang jagain aku selama kuliah di sini biar gak aneh-aneh dan di gangguin cowok lain! Kamu curiga. Sebel!”
__ADS_1
Mikaila membuang wajah. Tegar kini langsung dilanda perasaan lega. Keberadaan Ares memang tidak pernah Mikaila bicarakan sebab akunya barusan itu bisa membuatnya cemas.
Tegar bersiul. “Sorry deh. Itu hal wajar yang gue lakukan sebagai tunanganmu.”
Mikaila mengembalikan bunga mawar itu ke dada Tegar seraya mendengus. “Gak aku maafkan! Kamu pikir aku selingkuh kan? Jahat pikiranmu.”
“Babe... Empat tahun kita sudah berjuang untuk hari ini. Baikan ya. Aku bikin tatto namamu di pergelangan tanganku. Mau lihat?” rayu Tegar sembari mencegahnya berdiri.
“Kenapa gak sekalian wajahku aja biar sekalian orang-orang tahu aku wanitamu!” sungut Mikaila.
“Oke!” Tegar membawa paksa ceweknya pergi dari sana. Dan ia betul-betul mendatangi tempat rajah. Si tukang rajah pun bingung sambil nyengir kenapa ada sejoli berani dan cantik datang dengan penampilan yang sempurna itu.
“Tunanganku ngambek karena aku nuduh dia selingkuh kak. Jadi demi permintaan maafnya dia minta aku tatto wajahnya di tubuhku!”
Oke, bagi seniman rajah itu mungkin bukan pertama kalinya mengurusi sejoli dimabuk asmara itu. Tapi Mikaila yang mengenakan kebaya merah membuatnya tersenyum-senyum.
“Habis wisuda kak?”
“Iya mas, belum selesai lagi udah di gondol ke sini. Ngaco emang nih cowok!” Mikaila menyaksikan seniman itu mengambil kertas HVS untuk membuat sketsa wajahnya sebelum di salin ke kulit Tegar.
“Kamu serius, Gar?” tanya Mikaila di tengah-tengah suasana pelukisan wajahnya.
“Lo masih gak percaya gue gak pernah main-main setelah empat tahun LDR? Sinting Lo!” ucap Tegar sembari melepas jasnya. Untung tadi ia sempat berfoto dengan Mikaila dan meminta Sera mengambilnya di tukang foto keliling, jadi ia bisa berleha-leha di tattoo bed.
Tegar berbaring menutup matanya dengan lengan. “Asli gue ngantuk parah kak, dari Jakarta langsung ke acara wisuda. Eh curiga dikit marahnya selangit!”
Mikaila langsung menyesali perbuatannya, dia menggenggam tangan Tegar. “Aku tarik ucapanku!”
“Lo salah meremehkan gue, sayang. Wajah Lo dan tubuh Lo sebentar lagi sepenuhnya milik gue. Lo gak lupa kan, gue udah jadi sarjana dan punya kerja tetap? Wait and see, gue bales!”
Seniman rajah yang berada di antara mereka menyunggingkan senyum dan tetap melanjutkan permintaan Tegar. Tapi begitu Tegar terlelap dalam kelelahan yang luar biasa. Mikaila meminta seniman itu merajah nama Tegar dengan tinta merah muda di pergelangan tangannya.
__ADS_1
...***...
...Lanjut terus. 💞...