Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 77 : Merana


__ADS_3

Tiga hari setelah kegiatan resmi dan non resmi Mikaila berakhir, pulanglah dia ke kampung halaman bersama Tegar menggunakan motor gedenya ketika langit Yogyakarta telah gelap gulita.


Mikaila tak tahan lagi ingin memeluk Tegar dari belakang sambil mengungkapkan ketakutan yang menghantuinya sejak kemarin.


Tegar menarik tangan Mikaila dengan lembut, membetulkan pelukan tunangannya yang nampak ragu di pinggangnya.


“Aku kangen banget sama kamu, Mika. Jangan jaim, aku rindu kamu saat jadi ketos!”


Mikaila menggigit bibirnya. Gencar-gencarnya hasrat terpendam Tegar menyusuri sekujur tubuhnya hingga pemudanya bergidik ngeri.


“Aku juga kangen, tapi kamu jangan macam-macam, Gar. Kita lama gak ketemu, ada beberapa keadaan yang mengubah pikiranku!”


Oh... Tegar langsung mengingat sesuatu yang dia tunggu-tunggu sejak kemarin. Tegar menepikan motornya di tepi jalan, di depan ruko tutup. Dia turun dari motor seraya melepas helmnya. Tegar tersenyum simpul.


“Ada apa?”


Mikaila mendengus sedih. Tentu saja kondisi ini tidak terlihat bagus karena ia tidak bisa memenuhi janjinya untuk menikah dengannya setelah jadi sarjana dan sikapnya seakan-akan memenuhi prasangka Tegar.


“Empat tahun berpisah, gue sih yakin emang ada yang berubah dari sudut pandang Lo dalam mencintai atau apa pun itu di kehidupan. Ngomong aja, Babe. Sidang skripsi lebih kejam dari gue kan?”


Mikaila menatap sekeliling, mobil dan motor berseliweran tapi tak seorang pun yang berada di dekatnya untuk membantu jika Tegar murka atau menuntaskan hasrat terpendamnya sekarang juga.


Mikaila menghirup napas dalam dan dibutuhkan waktu selama lima menit hingga ia mengungkapkan ketakutannya dalam kalimat panjang tanpa jeda yang semakin lama membuat kulit-kulit Tegar tergelitik. Dia tergelak sampai perutnya saking.


Oh Tuhan, cewekku masih sepolos dulu.


Tegar mengatupkan bibir Mikaila dengan ibu jari dan jari telunjuknya. “Jangan menganggapku Tegar SMA, aku hanya sedikit rada gila sekarang!”


Mikaila menggeleng cepat. “Gak mungkin! Aku ngerti kamu, kamu punya, Gar... Plis, mundur lagi ya. Setahun gitu.” tawarnya dengan wajah melas.


Tegar semakin tergelitik untuk tertawa lagi. Jadi sejak kemarin cewek yang memakai jaket jins, sepatu boots wanita, dan celana jins belel ini takut nikah, takut melakukan hal itu dan kehidupan pernikahan kelak.

__ADS_1


Tegar menelan ludahnya. Alih-alih menjawab pernyataan Mikaila ia justru terpukul oleh informasi tersebut beberapa saat kemudian.


Tegar menghela napas. Haruskah dengan cara apa ia mengusir semua keraguan yang muncul di benak Mikaila? Dengan cara manis atau brutal? Oh ia rindu menggodanya, membuatnya marah dan memakinya seperti dulu seakan-akan itu caranya mencintainya.


Tegar menghidupkan rokoknya, satu-satunya hal yang bisa menenangkan dirinya sendiri sekarang dari kenyataan konyol itu.


Tegar bersandar di tiang penyangga.


“Segitunya kamu takut nikah sama aku?”


Mikaila turun dari motor ketika wajah keruh Tegar mengisyaratkan ketidakberesan.


“Gak segitunya juga sih, Gar. Maaf, aku deg-degan. Bayanganku kamu cowok gak tau diri yang bakal menghabisiku habis nikah nanti. Kamu kan tega orangnya.”


Tegar memberikan senyuman payah dan selagi rokoknya meranggas jadi abu dia menyandarkan kepalanya di tiang.


“Empat tahun papa mengukuhkan diri sebagai ayahku. Empat tahun gue berusaha jadi anak baik-baik di tengah orang-orang yang menganggap jahat gue dan nyokap. Gue sakit hati, Mik. Dan lo bener, gue emang gak tau diri, gue bahkan bisa membalas mereka-mereka yang anggap gue bajingan. Tapi cuma demi lulus cepat, dapat kerja bagus dan bisa nikahin Lo seperti janji gue dulu gue rela nahan diri. Sekarang Lo takut sama gue, jujur gue merana.”


Mikaila menguncupkan bibirnya, ia lupa bahwa hati Tegar rawan terhadap penolaknya. Dia rapuh dan tunduk kepada orang-orang yang disayanginya. Empat tahun ternyata tak mengubah siapa Tegar.


Sadar, ketakutannya menyulut kesedihan Tegar. Mikaila meraih tangannya perlahan-lahan seraya menaruhnya di pipinya.


“Kamu tenang ya, doain aku siap satu-dua bulan lagi!”


Tegar menyesap rokoknya seraya mengangguk. Tetapi ketika dia kembali menggeber motornya ke arah kampung halaman, Tegar menyeringai lebar.


Ada-ada saja, dia pikir nikah mirip game survival apa dan gue jadi monsternya?


Tegar menyunggingkan senyum. Hatinya menghangat. Masih lucu, masih sama. Hanya butuh sentuhan hati terdalam dan itu mempan mengubah isi hatinya, seperti dulu waktu SMA.


Tegar meremas punggung tangan Mikaila yang memeluknya sebelum menggeber motornya dengan cepat. Sementara itu Mikaila menyandarkan kepalanya di punggungnya, menyesal telah membuat Tegar merasakan kesedihan lagi sebab jauh dari apa yang Tegar ungkapkan ia mengerti pahitnya menjadi sisi gelap manusia.

__ADS_1


“Maafin Mika, ya.” ucapnya saat Tegar menunggu lampu hijau menyala.


“Aku juga.” Tegar mengangguk, “padahal aku gak marah... Aku hanya ingin kamu sadar, usahaku tidak main-main untuk memenuhi syarat menikahimu, Mika. Waktu ini aku tunggu-tunggu dan aku akan melakukannya dengan hati-hati. Kalo bisa...”


Tegar geli sendiri setelah mengungkapkan hal tabu yang slalu menemani malam-malam terakhir menuntaskan usaha kerasnya. “Untuk kamu bisalah hati-hati, kalo seumpama kecepatan berarti aku lagi semangat!”


Mikaila tergelak sembari mencubit perut Tegar. “Apa sih, aku ngerti maksudmu ya. Teman-teman di kampus udah ada yang nikah, suka ngomong itu... Aku malu, Gar. Aku terbayang-bayang.”


Tegar sendiri kontan terdiam. Ada keheningan yang panjang menemani perjalanan mereka sebelum ia menggeram sendiri.


“Aku juga membayangkanmu, tubuhmu dan sentuhanmu. Oh, Mika.” Tegar menaruh tangan Mikaila ke dadanya, menyuruhnya merasakan denyut jantungnya yang merespon segala sesuatu tentang Mikaila dengan cepat.


“Harusnya kamu tidak peduli aku hati-hati atau tidak, karena kita saling memiliki dan menerima. Kalo sakit tinggal jerit, bukannya begitu sayang?”


Wajah Mikaila merona. Hingga setengah jam kemudian, mereka sampai ke rumah. Mikaila tidak sanggup menatap wajah Tegar dengan terang-terangan setelah pembahasan mengerikan itu terjadi.


“Aku langsung masuk, ya. Kamu hati-hati.”


Tegar tersenyum kecil seraya mengangguk. Menyadari maksud di balik sikap malu tunangannya yang canggung.


“Aku langsung ke rumah Daffa, besok pagi ketemu lagi. Selamat tidur, Babe. Mimpiin gue ya.”


“Gak akan!” Mikaila berseru sembari terbirit-birit menuju teras rumah. “Aku gak mau mimpiin kamu, kamu pasti tetap nakal di manapun berada!”


Semua ujung bibir Tegar tertarik, ada sedikit kepuasan diri mengetahui Mikaila memahami perangainya.


“Gemes, jadi gak sabar meminangmu. Sabar... Empat tahun dibanding dua bulan, kecil lah, masih bisa tahan. Ya kan nafsu?!”


Tegar menggeber motornya keluar dari kampung ceweknya. Dia menyusuri jalanan kota yang dia rindukan setelah sekian lama hingga berhenti di basecamp The Evolve Wild yang lama. Warung warmindo milik Drew masih buka dan dia menyempatkan diri menyantap Intel goreng dan es jeruk sebelum memberitahu penjaganya, “Sampaikan salamku untuk Drew! Tegar Abiyasa datang.”


...***...

__ADS_1


^^^Bersambung^^^


__ADS_2