
“Olimpiade biologi?” sentak Daffa yang terkejut bukan main. “Yakin kamu setuju ikut lomba tahunan ini?” Daffa memeriksa lembaran materi yang akan di bahas besok.
“Ini sih gampang sebenarnya, tapi olimpiade yang ikut encer semua otaknya. Apa kamu yakin tetap maju?”
“Mau gimana lagi, gue di kasih kepercayaan demi nilai plus kita. Mau kan Lo berdua? Gue harap sih mau demi citra diri.”
Daffa dan Wicak saling tatap, Daffa mungkin pintar dan gesit. Tapi Wicak perlu berpikir keras demi jawaban yang benar.
“Udah deh gak usah banyak pertimbangan ajakan gue!” pungkas Tegar. “Humas sama Playboy udah cukup buat kita berani maju. Urusan menang kalah gampang, yang penting percaya dulu.”
Tegar mengulurkan tangannya. Daffa dan Wicak menumpuk tangan mereka kemudian lalu terkekeh. “Sialan, bisa kayak gini juga kita. Mama bangga gak ya aku ikut olimpiade biologi?” ucap Daffa.
“Yang pasti iya!” sahut Tegar.
Di hari berikutnya, setiap satu jam pelajaran mereka mendapatkan les spesial dari Bu Weni di ruang khusus. Kekompakan geng itu membuat Drew yang melihatnya memutar mata.
“Mulai sombong banget mereka! Mulai caper sama guru-guru!” Drew mengangkat dagunya seraya melewati Tegar dan sengaja menyenggol tangannya yang patah.
Tegar memekik kaget, gips dan pen di dalamnya ia jaga sekuat tenaga agar segera pulih, eh Drew main senggol-senggol aja. Gak ngerti seberapa susahnya apa dia beraktivitas dengan benda itu. Kurang ajar, Tagar nyaris melawan jika Daffa tidak pasang badan.
“Gak usah cari masalah, Bray! Udah untung ortu Mika jamin kita gak akan melakukan hal itu lagi dengan jauhin Tegar dan Mika. Kurang puas apa kamu?” sergah Daffa.
Drew menuding Tegar dan melengos pergi setelah berkata perusak.
Tegar memutar mata. “Untung gue sakit, coba kalo gak. Gue hajar dia!”
“Gak usah dimasukin hati, Gar. Dia cuma iri.” Daffa menonton gips yang sudah berubah menjadi tempat curhat.
“Perlu di bawa ke rumah sakit gak tuh?”
“Kayaknya hatinya yang perlu di periksa, Daff.” potong Wicak. “Tegar pasti kangen banget sama Mika.”
Tegar lalu menatap ceweknya yang baru keluar dari perpustakaan. Tatapan mereka bertemu. Mikaila memejamkan mata saat melewatinya tanpa tegur sapa. Otomatis hal itu membuat Tegar lemes.
“Dia kayaknya lagi jadi cewek patung sampai gak lihat masih punya pacar.” keluh Tegar.
“Namanya juga baru di hukum, Gar. Dia baru menjaga kepercayaan ortunya biar gak putus. Jadi terima ajalah, banyak yang lebih susah dari kalian!” saran Wicak.
__ADS_1
Tegar menatap lantai. “Tapi kangen, mana sekarang gue kebelet lagi. Ada yang mau nolongin gue di kamar mandi?”
Daffa dan Wicak sontak lari tunggang langgang mengejar Mikaila.
“Mik... Mika... Gawat tuh si Tegar. Sana tolongin!”
“Kenapa emangnya?” tanya Mikaila dengan tampang bingung.
Daffa mengibaskan tangannya sambil jalan di tempat. “Pokoknya bantuin dia, kita gak mampu soalnya!”
Mikaila mendesis dan berbalik arah. Ia menuju Tegar yang berwajah sepolos mungkin.
“Kenapa?” tanya Mikaila datar.
“Kebelet.” Tegar meringis. “Bisa bantuin. Gue susah untuk yang satu ini.”
Mikaila memutar mata jengah. Tapi ia bersyukur atas privasi yang ada di dekat kamar mandi, Mikaila melepaskan ikat pinggang Tegar sambil memejamkan mata.
“Lagian kalo masih sakit mending di rumah aja. Nyusahin!”
“Mana mungkin. Aku kangen kamu.” seru Tegar di dalam kamar mandi.
“Apa aku perlu melakukannya lagi?”
“Walaupun kamu lagi cuek, jadi pacar yang baik kayaknya seru.”
Di saat-saat seperti itu Mikaila merasa kasian pada Tegar. Dia kurang diperhatikan akhir-akhir ini karena itu ia merapikan seragamnya sambil mengeraskan hati untuk tidak memikirkan hal lain.
Tegar tersenyum. “Doain gue menang olimpiade biologi ya, gantiin kamu.”
Mikaila mengangguk seraya menempelkan stiker kecil berbentuk love ke gips Tegar. Sebagai indikasi dari cinta dan perhatiannya.
Di hari Senin. Pecahnya The Evolve Wild membuat Mikaila berharap ada ketenangan dan ketenteraman di sekolah. Tidak ada balapan liar dan tawuran antar pelajar. Satu Minggu, dua Minggu dia mengamati perkembangan sekolah dalam diam. Tidak ada pergerakan impulsif dan kentara dari Drew. Sekolah bahkan terasa sepi, tidak ada kegaduhan di berbagai momen pelajaran. Sera nampaknya memberi efek jera yang tidak main-main untuk anak geng itu hingga Mikaila memilih mengundurkan diri dari ketos saat upacara sekolah. Dia memimpin upacara, mengomandani upacara terakhir kelas dua belas dengan serius sampai di tahap ia membacakan surat pengunduran dirinya di depan Pak Rama sebagai pembina upacara.
Pak Rama mengamati Mikaila dengan seksama lalu membuang tatapannya ke arah barisan anak kelas dua belas. Kelas bermasalah yang membuat kepalanya nyaris pecah.
“Bapak kasih pemahaman agar kalian berpikir lebih baik. Beberapa bulan lagi kalian lulus SMA. Setelah keluar dari sini, kalian justru akan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Kuliah, kerja, pencapaian dan gengsi!” Pak Rama tersenyum. “Kalian sekarang boleh jadi masih santai, besok beberapa tahun lagi jika bertemu, kalian akan membicarakan value diri dan pencapaian. Jadi bapak harap kalian lebih bijak bertindak daripada malu kejadian SMA menjadi lelucon seru yang akan di bahas setiap waktu!” Pak Rama menarik napas. Mimik wajahnya menjadi serius.
__ADS_1
“Kalian yang tergabung di geng dan mendapatkan SP akhir masih saya beri keringanan demi akreditasi sekolah ini, jangan sia-siakan kesempatan terakhir untuk revisi jadi siswa lebih baik!”
“YA PAK!” seru semua siswa kelas dua belas tanpa kecuali.
Mikaila memberikan hormat ke pembina upacara. “KEPADA PEMBINA UPACARA, HORMAT GRAK!” serunya dengan lantang.
Dari barisan paling belakang kelas IPA unggulan, Tegar mengamati ceweknya yang tidak lagi ceria. Ceweknya menjadi pribadi yang cuek abis ketika Bu Weni mencopot atribut ketua OSIS di seragam Mikaila.
Mikaila tersenyum lepas setelah tanggung jawab selesai dan Tegar baru menyadari Mikaila memakai bandananya sebagai bando setelah cewek itu melepas topi upacara.
“Dia masih jadi anggota geng?” tukas Tegar lalu melirik Drew yang tidak terima bandana itu di pakai cewek yang merusak gengnya.
“Tanganku gak bisa berantem lagi.” Tegar menggeram seraya menghampiri ceweknya yang bersedia berkontribusi dalam mencari penggantinya dengan mengikuti rapat OSIS di ruang kedisiplinan kesiswaan.
“Mau apa?” tanya Mikaila dingin. “Jangan bilang kebelet terus Daffa dan Wicak gak mau ngurus kamu di kamar mandi!” tukasnya hingga membuat Tegar meringis.
“Lepas bandananya, Drew gak suka.” Tegar menariknya ke belakang hingga rambut ceweknya tergerai perlahan.
“Jangan cari masalah. Aku gak bisa bantu kamu berantem.”
“Kalo gitu bantu aku ngurus Dela dan Rio, aku belum membalaskan dendamku!” Mikaila menolehkan kepalanya lalu meringis. “Kita bikin mereka nikah muda!”
“Sinting Lo!” cibir Tegar dengan suara baritonnya sampai Pak Rama berdehem. “Kalo tanganmu sudah sembuh ikut pelajaran olahraga. Jangan di sini dan ganggu rapat!”
“Oh owww, belum, Pak. Saya cuma kaget, Mikaila ngajak saya nikah muda.”
“Bukan, Pak!” potong Mikaila sambil meliriknya tajam. “Bukan itu dan kalo menurut saya OSIS sekarang harus cowok deh, yang berani, jujur dan netral. Soalnya Drew lagi rekrut anggota baru dan cari pemimpin The Evolve Wild diam-diam.”
“Betul itu, Gar?” sahut Pak Rama.
Tegar mengaku dan tembok di sekitarnya tidak runtuh. Pak Rama memberikan sinyal untuk menunggu giliran rapat dengannya sementara rapat OSIS berlanjut.
Tegar menatap ceweknya yang serius mengikuti rapat itu sambil tersenyum.
“Besok olimpiade-nya, aku janji balas dendammu tersampaikan dengan cara yang lebih sopan. Wish me luck, babe!” bisik Tegar sembari mengelus rambut ceweknya dari puncak kepala sampai ke ujung rambut.
...*** ...
__ADS_1
...Bersambung ...