
Dengan setengah memaksakan diri, Mikaila mempersiapkan diri untuk resepsi yang mengusung tema modern di malam mendung kota Solo. Dan ketika sentuhan terakhir berupa lipstik merah ombre ala-ala Korean look, dia berdiri seraya memandangi tubuhnya yang berbalut gaun panjang salem pilihan Tegar. Potongan gaun itu sederhana, tidak banyak payet yang digunakan seakan Tegar memintanya untuk tampil sempurna apa adanya meski tak di pungkiri pundaknya yang terbuka mempertontonkan tulang belikat dan leher miliknya membuatnya malu.
Mikaila tersenyum geli. “Oke, kita habiskan malam ini untuk menyenangkan Tegar sebelum kabur.”
Tegar mengangkat tatapan dan memandang Mikaila yang memanggilnya dengan siulan dari lorong taman.
Tegar memberikan senyuman nakal seraya menyilangkan kakinya, dia memuji istrinya yang lebih cantik dari masa ABG.
“Ketos bisa girly juga, Daff.” pujinya di antara pagar bagus dan pagar ayu yang sejak kemarin menemaninya menjalani prosesi pernikahannya.
Daffa dan Wicak bersiul-siul, ikut memuji Mikaila yang memang berdiri memukau di atas sepatu hak tinggi gadis itu.
“Kalo Bu Weni ada sih, kalian langsung di suruh praktek gambar anatomi tubuh manusia tanpa perlu lihat buku.” celetuk Wicak dan Sarina langsung menabok punggungnya.
“Gak usah ngomongin kayak gitu, malu di dengar orang, Wicak.” ucapnya menasihati.
Wicak memutar mata. Sumpah, mau pingsan dia rasanya pacaran dengan Sarina. Tiap hari dia mendengar nasihat dari cewek yang masih kuliah hukum itu sekecil apapun masalahnya.
“Daripada kita putus, kamu terima aku apa adanya lah, aku ya gini.”
“Aku kan ada buatmu, buat mengubahmu, honey.”
Kini giliran Daffa yang tergelak karena pasangan itu. “Honey, honey... Nih pasangan yang mau honeymoon aja masih ribet ngurus panggilan sayang, kalian udah hani hani.”
Wicak dan Sarina memutar mata, Daffa tak ubahnya seperti orang ketiga yang slalu di antara mereka bertiga.
“Jadian aja sama Melody kamu, Daff. Dari SMA jomblo terus, gak mau kayak Tegar dan Mikaila kalian? Bisa ciuman gitu.”
Daffa dan Melody membuang pandangan ke pengantin yang sedang bercumbu di dekat mereka.
Daffa menabok punggung Tegar. “Lipstik Mikaila luntur ntar, Gar.”
__ADS_1
Tegar menarik diri dari bibir ranum Mikaila seraya mendengus. “Gue setuju Lo pacaran sama Melody biar punya kegiatan kayak gini sekali-kali, Daff!”
Bibir Melody menipis lalu memungut tisu untuk Mikaila. “Sepuluh menit lagi resepsi mulai. Kalian siap-siap.” katanya tanpa berminat membahas perjodohan itu. Daffa bukan tipenya, pun bagi Daffa Melody cocoknya jadi sahabat bukan partner hidup meski sekarang keduanya saling melirik.
“Udah-udah, gak usah berantem." ucap
Mikaila seraya menyeka bibirnya dengan tisu. Sementara Tegar memanggil tukang rias untuk membetulkan lipstik Mikaila.
Di rasa persiapan oke, resepsi itu masih di lakukan di pendopo yang sama seperti acara akad tadi sore. Hanya saja malam itu menjadi malam intim bagi tamu-tamu penting saja.
Tegar dan Mikaila berjalan ke tengah pendopo untuk berdansa bersama keluarga dan kerabat.
Tegar tersenyum ketika semua mata tertuju padanya dan Mikaila. Mereka raja dan ratunya, tapi Wicak dan Sarina paling heboh di sisi lain pendopo sampai Daffa menginterupsinya agar diam.
“Aku trauma dansa sama kamu, Sar! Jadi gak usah ngarep banget dan tolong ngertiin aku!” bisik Wicak.
Sarina melengos pergi ke meja makanan lalu memandangi sahabatnya yang sedang berdansa. Tegar melingkarkan lengan di tubuh Mikaila, memeluknya hangat sambil meliukkan tubuhnya perlahan mengikuti irama musik lambat yang mengudara sedangkan Mikaila merebahkan kepalanya di dadanya.
Melody tergelak. “Bukan masalah gampang atau gak, tapi mau atau gak!” selanya, menatap Wicak. “Kalo capek sama Wicak udah aja lagi, gak usah maksa diri. Kebaikannya bukan tanggung jawabmu, Sar!”
Sarina memelototinya. “Jomblo diam aja, Mel.”
“Oke.” Melody tersenyum lebar. “Tapi sayangnya jomblo lebih bahagia daripada punya pacar.”
“Melody!!!”
“Sstttt...” Wicak mundur dari menonton Tegar, “Ayo kita pulang aja!” ajaknya sambil menarik Sarina menjauh dari ruang dansa.
Alih-alih marah, Tegar dan Mikaila justru tertawa dengan tingkah sahabatnya itu lalu menyudahi dansa seraya melanjutkan acara selanjutnya. Makan malam.
Mikaila tersenyum di antara keluarga Tegar dan keluarganya sendiri. Ada Dela dan Rio, Naufal dan Brittany. Semuanya memiliki kisah masing-masing dan telah melanjutkan hidup pasca patah hati.
__ADS_1
Tegar sendiri nampak santai, dia menikmati acara resepsi itu dengan sebaik-baiknya karena Rio baginya bukan musuh dan Brittany hanyalah mantan sialannya.
“Setelah makan kalian mau langsung ke hotel atau rumah?” tanya Harris, memecah keheningan usia makan malam selesai.
Tegar menyantap potongan terakhir daging sapinya. “Hotel maybe.”
Dalam hati Mikaila menggeleng cepat-cepat. “Gimana kalo rumah? Kamarku? Lebih menggoda kayaknya untuk di tinggalin waktu malam pertama kita?”
“No, babe. Hotel!” pungkas Tegar seraya menyeka sudut bibirnya dengan serbet lalu menyunggingkan senyum.
“Boleh kami pergi sekarang, Ma, Pa?”
Harris, Shinta, Mike, Sera dan Adnito saling bertatap-tatapan. Kurang yakin mereka melepas anak-anak mereka ke hotel berdua saja. Tatapan Tegar sudah seperti ingin memburu Mikaila dan itu betul-betul terjadi, Mikaila berlari setelah melepas sepatu hak tingginya dan menarik gaunnya ke atas keluar dari pendopo ketika izin sudah turun dari khayangan.
“Aku gak mau, Gar. Jangan sekarang...” serunya sambil berlari.
Tegar tergelak, dia tetap memburu Mikaila dengan langkah lebarnya di trotoar jalan diikuti Daffa dan Wicak setelah mengambil mobil di parkiran.
“Gak suka roman-romantisan dia, sukanya pakai adrenalin! Daff, Cak, tangkap Mikaila!” katanya setelah masuk ke dalam mobil.
Wicak langsung menekan pedal gas, menyalip kendaraan untuk mengejar Mikaila yang tampaknya mengerahkan seluruh tenaganya untuk kabur dari Tegar.
Mikaila berjongkok, napasnya terengah-engah lalu berlari lagi sebisanya ketika Daffa menyoraki namanya.
“Usaha dulu daripada gak sama sekali!!!”
“Ngebut, Cak!” Dan ciatttt... Mobil berbelok di depan Mikaila secara frontal. Tegar keluar dari mobil seperti mafia yang hendak menculik gadis.
Tegar tersenyum sambil bertepuk tangan.
“Hebat banget sayang, hebat sekali. Kakimu pasti semakin kokoh nanti ya.”
__ADS_1
Mikaila menjerit histeris saat Tegar membopongnya ke dalam mobil dengan sedikit paksaan lalu mendekapnya erat-erat.