
“Mikaila...”
Mata cewek pemakai baju tidur beruang madu itu membeliak. Satu-satunya perasaan yang menghujam benaknya sekarang hanyalah cemas.
Mikaila buru-buru menyembunyikan hpnya di laci seraya menutup wajahnya dengan bantal. Satu-satunya benda yang bisa menyembunyikan area privasinya paling jelas dari Dela.
“Tante...” Dela berlari kecil ke halaman rumah sambil menggendong keril berisi persiapan persami. Dia mencium punggung tangan adik ibunya.
“Mikanya mana?” Dela melongok ke dalam, melewati bahu Sera.
“Di kamar, Del. Kecapean dia, habis persiapan kemah.”
“Oh sama dong, tapi mungkin Mikaila kecapean gara-gara tadi pulang sekolah di hukum beresin perpus, Tante.” Dela merogoh hpnya.
“Tadinya Dela mau bantuin Mika, tapi ternyata teman kami ada yang dihukum juga, Tant. Dengar-dengar mereka bolos bareng waktu hari PTS pertama.”
Sera mengambil hp Dela, melihat rekaman sembunyi-sembunyi yang nyaris tidak sempurna tapi bisa memperlihatkan detail-detail kejadian di perpustakaan.
Sera mengerutkan keningnya. Mengamati Tegar dengan teliti. “Mikaila, ngomong sama mama!”
Dela tersenyum samar seraya mengikuti tantenya masuk rumah. Di kamar Mikaila mengigit bibir. “Sialan, mau apa itu cewek malam-malam begini menabuh genderang perang di rumahku lagi!” Jemari tangannya mengepal, jengkel.
“Mika, beneran kamu bolos sekolah hari pertama PTS?” Sera meraih bantalnya dengan paksa. “Lihat mama!”
Mikaila menyipitkan mata, meminimalisir cahaya lampu. Meski begitu lirikan matanya melihat muka ibunya sudah berang, muka Dela semringah.
Emang gila tuh cewek! Bener-bener tanpa basa-basi nyerangnya! Mikaila langsung panas dingin, jelas saja tuh cewek akan memenangkan penghargaan bergengsi sebagai sepupu kurang ajar darinya langsung.
“Aku lagi nyantai, mama. Besok Mika kerja keras membawa pasukan kelas 12 ke laga terakhir melawan dingin dan ketakutan tengah malam.” ucapnya mendramatisir.
“Kamu kenapa bolos sekolah? Nilai kamu juga turun! Mau kehilangan beasiswa dan batal masuk universitas dengan jalur prestasi.”
Sekilas ucapan Tegar menyusup di celah kemarahannya sebagai tameng yang diam-diam menguatkannya dari mata cela sepupu dan sikap ibunya yang menahan berang.
__ADS_1
“Aku emang bolos kok, Ma. Bertiga sama Tegar, en Daffa di suatu tempat. Tempat bau oli, banyak ban-ban bekas dan baru. Tapi kita bertiga masuk peringkat teratas di kelas. Bagus kan?” ucap Mikaila sambil menatap ekspresi galak ibunya.
Sera menarik napas dan menahannya sekejap di dada. “Terus apa alasanmu bolos sekolah, Mikaila?”
“Pengen aja, Mika gak pernah bolos sekolah seumur hidup soalnya. Sekali-kali boleh kan, Ma?”
“Ya ampun, Mika!” Sera menghela napas dengan kasar. “Terus apa maksudmu peluk-peluk Tegar terus dia cium kamu? Mau jadi apa kamu masih SMA kayak gitu! Mau nikah kamu seperti kakakmu? Iya?”
Mikaila mengikat rambutnya sambil tersenyum putus asa. Kekacauan itu pasti sungguh menyenangkan buat Dela.
“Itu mama udah tahu, aku sama Tegar emang pacaran. Kalo cita-cita Mika sih masih sama, gak berubah. Tegar juara satu!”
“Juara balapan juga, Tante. Dia anak geng, geng motor sekolah. The Evolve Wild. Terakhir bikin gaduh sekolah karena tawuran sama geng sekolah lain!” sahut Dela, mengompori hati Sera yang sudah panas hingga nyaris terbakar.
Mikaila mengangguk. “Semua itu betul, Ma. Dia pintar, dia juga bad boy dan aku suka!”
“MIKAILA!” desis Sera. “Kamu jauh-jauh dari Tegar atau papa mu yang akan turun tangan!”
Perasaan Mikaila jadi tegang. Dia jelas murka melihat betapa Dela ingin menghancurkan ia dan keluarganya dalam sekali jadi. Mikaila berdiri, memungut tas keril dan hpnya di laci.
Mikaila berjalan melewati mereka dengan ekspresi tak acuh,dan ketika memasuki kamar Alvian, dia menutup pintunya dengan kencang.
Sera dan Dela saling beradu pandang. Sera lumayan merasa bersalah karena memarahi Mikaila di depan Dela. Sera menepuk pundak Dela. “Kamu tidur di sini aja, Del. Mika lagi banyak pikiran pasti, dia capek.”
“Iya, tante.” Dela memberi senyum tak bersalahnya seraya bersorak gembira tanpa suara saat pintu tertutup rapat.
“Kenapa di kamar kakak, Dek?” tanya Alvian beberapa jam kemudian, nyaris tengah malam dan adiknya masih terjaga sambil bermain ponsel. “Ada Dela, kan? Sana-sana, tidur berdua. Kakak capek banget!” Alvian menarik sebelah tangan Mikaila.
Mikaila menggeram, tanpa kepura-puraan dia menunjukkan wajahnya yang sembab.
“Lho... Lho... Lho... kenapa? Berantem sama Dela? Atau kenapa?”
Mikaila mengusap ingusnya dengan kerah bajunya. “Dela ngerusak keharmonisan keluarga kita kak, dia bilang sama mama kalo Mika punya pacar anak bad boy!”
__ADS_1
Alvian spontan tercenung. Teringat Tegar. “Laki-laki kemarin, temen kelompok bedah kodok kamu?”
Mikaila membaringkan diri lagi di ranjang setelah mengangguk. “Mama marah sama aku, jauhi Tegar atau papamu turun tangan!” ucapnya mengikuti suara berang ibunya.
“Padahal kemarin waktu aku tanya sama Tegar, aku harus milih kakak atau kamu kalo berantem. Dia jawab milih kakak karena kakak bakal jagain sebaik mungkin, makanya aku suka dia. Sekarang kakak mau jagain aku atau sama kayak mama? Dela?”
Alvian yang baru pulang dari kantor mengembuskan napas. Tidak bisa membela salah satunya.
“Mama marah pasti ada sebabnya, Mik. Gak mungkin sampe segitunya. Kamu bikin masalah?” Alvian memandang curiga.
“Ya! Aku bolos dan Tegar cium aku. Padahal aku tadi kesurupan kak. Aku gak sadar, perpus banyak penunggunya! Aku sadar setelah Pak satpam datang.”
“Emang ngapain kamu di perpus? Belajar? Cari buku?” Alvian mengerutkan kening.
“Aku dihukum beres-beres perpus! Mereka keganggu paling terus bikin aku menjadi-jadi!”
Dan kegigihan Mikaila untuk mencari dukungan nyaris berhasil. Keesokan paginya, di ruang makan. Mikaila dan Dela bertemu. Keduanya memasang ekspresi yang sangat berbeda.
Mikaila mengambil bekal yang wajib di bawa dengan muka malas.
“Kamu berangkat sama Dela, Mik. Mama suruh dia jagain kamu biar nggak dekat-dekat Tegar!”
“Ma...” Alvian menginterupsi dengan suara tegas. Menyita perhatian Sera dan Adnito. “Mereka mau persami tiga hari dua malam, tugas Mikaila menjaga teman-temannya, bukan dijagain.”
“Al, adikmu sudah melanggar aturan keluarga! Mama dan papa gak bisa lagi mentolerir.” Sera berkata berang. Merusak suasana sarapan yang biasanya hangat dan nyaman.
Mikaila menghabiskan susu coklatnya yang begitu nikmat untuk dihindari. Dia menghentakkan gelasnya, semakin menambah panas suasana.
“Gak mungkin kan Ma, Pa. Ketua pemandu sorak menjaga ketua OSIS! Bawaanku nanti toa, ikut jadi komandan. Bawa motor! Bawa perbekalan sekolah. Enak aja Dela cuma jadi gulma dalam tugasku.” Mikaila melengos pergi, menggendong tas kerilnya di sofa seraya menyahut tongkat Pramuka di tembok dan keluar rumah. Ia mengabaikan panggilan ayah dan ibunya.
Mikaila tersenyum masam. Tegar sudah menjemput, menunggunya di persimpangan jalan.
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^