Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 25 : OMG


__ADS_3

Tegar menarik tangan Mikaila ke arah kerumunan pasangan-pasangan yang akan melakukan perlombaan kekompakan dengan memecahkan balon dengan kepala atau pantat. Mau yang mana terserah yang penting definisi couple goals harus terlihat nyata di tengah suasana pesta yang meriah dengan hadirnya deejay yang terampil dalam memainkan DJ booth.


“Daripada usaha pecahin telur masa depan gue dengan cara brengsek tadi. Lo usaha pecahin ini balon!” Tegar mengambil balon warna biru dari pegawai event organizer yang sejak tadi mencuri pandang ke mereka berdua untuk melaksanakan tugas dari bosnya, Daffa.


Mikaila tercenung sebentar. Jujur agak aneh membahas telur itu dengan Tegar yang notabene pacarnya yang belum disayangi sepenuh hati. Tetapi anaknya yang sesuka hati langsung bersikap bodoh amat.


“Setahuku gak serapuh itu kali. Emang gelas di tendang langsung pecah!” elaknya seraya buang muka. Backingan ku mana nih, nih cowok kayaknya mau mepet-mepet aku terus! Bahaya banget coy buat hati aku.


Tegar mendengus. Untuk kesekian kalinya dia berharap gadis itu ada sedikit rasa iba pada masa depannya. Baik untuk si joni dan hatinya, bukan cuma simbiosis mutualisme yang menjadi dasar keduanya bersama. Tegar tahu Mikaila melakukan itu untuk kepentingannya sebagai ketua OSIS. Teramat jelas baginya alur yang gadis itu jalankan. Hanya saja, Mikaila tidak mengerti Tegar menerimanya karena baginya memacari cewek yang belum dicintainya adalah sebuah tantangan untuk membuka diri. Meski benar, ada ketertarikan dari masing-masing remaja itu jauh di lubuk hati ya... walaupun selimut gengsi masih menyamankan posisi masing-masing.


Tegar meraih tangannya dan berharap tidak perlu mengelemnya agar Mikaila patuh. Mau tak mau, karena Rio dan Dela sekali dua kali memandang ke arahnya, Mikaila memandangi Tegar dengan wajah muram.


“Gini deh, kita kerja sama dulu. Urusan masa depanku, lupain. Gue ada sesuatu yang lebih penting!”


“Apa? Mules?”


“Tau darimana kalo habis di tendang mules, Mikaila?” tanya Tegar dengan intonasi pelan yang mengancam.


Mikaila menelan ludah lalu menundukkan kepala. “Dengar-denger doang.”


Tegar menaruh balon di antara kepala mereka yang nyaris ia pecahkan sendiri dengan tangannya saking gemasnya dengan cewek itu.


Udah banyak makan, seenak jidat, sekarang lihat, dengar-dengar doang. Alasan yang masuk akal tapi gak buat gue! Mencurigakan!


Mikaila mendongak. Itu bukan hal yang mudah saat tatapan Tegar betul-betul menebus dan menyalaminya.


“Gar, kayaknya kita perlu ngomong deh.”

__ADS_1


“Gak usah ngomongin keseriusan, gue nyaman kita gini aja. Tapi kalo Lo keberatan dengan tingkah gue, ngomong aja. Ntar gue perbaiki!”


Tegar menekan balonnya dengan kuat, Mikaila memejamkan mata. Takut balon itu meletus dan jantungnya tersentak kaget. Sekarang pun, pasangan-pasangan yang melakukan hal yang sama ada yang menjerit-jerit dan ketawa-ketawa senang, bahagia, histeris. Cuma mereka yang adem ayem meski kejadian berikutnya diluar prediksi. Balonnya meletus, duarrrr, membuat kening Mikaila dan Tegar bersentuhan secara keras. Sakit sih, malu banget lagi tapi lampu sorot yang menerpa keduanya menjadi momen yang memerangkap keduanya dalam keromantisan palsu.


Tegar mengulum senyum. Meski belum ada ketertarikan pada parasnya, matanya slalu sanggup membuat Mikaila salah tingkah.


“Cium sekalian, Gar. Biar jadi first kiss never end.” seru Drew, si kurang ajar yang sudah membabat habis kecantikan Lila dengan bibirnya.


Tegar melebarkan senyum sambil memburu paras Mikaila yang tersenyum tipis dengan mata membeliak tegang.


“Kenapa? Belum pernah ciuman?” Tegar tetap melingkarkan tangannya di pinggang Mikaila meski gadis itu sering kali mencubit kecil pinggangnya yang tertutup jaket trucker-nya.


Mikaila menggeleng cepat. “Ciuman pertamaku cuma buat suamiku nanti.”


Cup...


Tegar mengecup sekilas bibir cerewet itu seraya menggandeng tangannya pergi dari keramaian pesta dengan berpura-pura semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Padahal dia tidak harus sebrengsek itu mencuri ciuman pertama Mikaila di tengah suasana pesta hingga membuat wajahnya merah padam.


“Kamu brengsek tau gak!”


“Biarin, kalo dengan cara itu gue bakal jadi suamimu nanti.”


“Hahaha!” Pura-pura Mikaila tertawa sambil mengelilingi Tegar dengan gaya preman sok berani, “Bener sih ini udah malam, tapi mimpimu kecepatan!” teriaknya berang.


“Bodo amat.” Tegar tak gentar, ia membalas tatapan Mikaila tanpa berkedip sebentar. “Gue bisa bantu Lo ngurus Drew dan anak-anak yang lain! Tapi Lo jangan ikut campur urusan gue yang lain.”


“Gitu?” Mikaila berkacak pinggang. “Aku gak percaya! Lagian semua yang aku alami kan gara-gara kamu juga, sekarang berlagak jadi pahlawan. Itu gak bisa di terima akal sehatku!”

__ADS_1


Tegar menyeringai. “Come om, Mikaila. Dimana sikap manismu yang slalu perhatian itu?”


Alamak...


Mikaila menggeram frustasi. ”Udah cium-cium, sekarang ungkit-ungkit yang lalu. Kamu punya masalah apa sih?”


Tegar menghela napas lalu mengelilinginya dengan tatapan mengintimidasi. “Banyak, tapi kamu cuma perlu ada buat gue. Itu maumu kan dari kemarin-kemarin? Caper, sok cantik, sok perhatian, Lo deket-deket adik sama nyokap gue buat apa coba? Nyari hati kan? Gue juga sama, gue bakal nyari hati Lo!”


Hening.


Suara nyamuk terdengar di kuping Mikaila yang mematung, hidupnya semakin payah ketika pemuda itu menjentikkan jari di lengannya yang di gigit nyamuk.


“Gimana? Mau berbagi wangsit?”


Spontan Mikaila menahan tawanya agar tidak terlontar dari mulut. Ia memutar bola matanya. “Apaan sih, kamu pencuri tau gak! Ya kali kalo kamu beneran jadi suamiku nanti. Kalo gak?”


“Gue bisa nikahin Lo sekarang kalo mau. Percayalah padaku.”


“KAMU PIKIR!” Mikaila mengepalkan tangannya lalu meninju perut Tegar. Cowok itu spontan mengaduh lalu terbahak.


“Lo emang cocok sama gue, tapi gue yang akan ngalah. Gue gak berani kasar sama cewek karena gue sayang sama nyokap dan adik gue yang tanya-tanya Lo terus, sekarang Lo diam!” Tegar merangkulnya tiba-tiba dengan satu tangan yang meraih ponselnya di saku celana.


“Mau apa?” tanya Mikaila panik.


“Telepon nyokap gue!”


Iuhh... Wajah Mikaila sontak sudah tidak bisa tertolong lagi. Malu iya, marah iya, risi juga, mana perutnya kebanyakan soda dan pedas-pedasan. OMG... Dia frustasi dan tidak ada yang menolongnya sekarang. Lalu di mana Melody dan Sarina?

__ADS_1


...***...


^^^Bersambung ^^^


__ADS_2