Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 71 : Drama Sekolah


__ADS_3

Mikaila memain-mainkan kebayanya seakan perlu membuat semua terkesan dengan gayanya yang super duper mirip calon pengantin wanita karena make up dan kebaya yang melekat di tubuhnya membuatnya ayu sekali dan menjadi pusat perhatian banyak orang yang mendatangi area gedung serbaguna SMA Garuda Pradipta Jaya.


Sekalian jadi superstar. Sekalian malunya juga.


Mikaila menyunggingkan senyum seraya melangkah, membiarkan ekor kebayanya menyentuh rerumputan.


“Anjay, ketos satu itu emang pinter cari muka!” celetuk Daffa sambil menyentuh bahu Tegar yang baru pura-pura telepon.


Tegar berbalik, ia mengamati ceweknya dari kejauhan. Pandangannya menyusuri ujung kepala hingga ujung kakinya. Dia terpukau, boneka hidup milik Sera dan Adnito itu benar-benar sempurna.


Tegar menyunggingkan senyum, mata hitamnya yang sehitam raven berkilau. Tegar mendaratkan ponselnya ke dada Daffa.


“Titip.”


Tegar berlagak merapikan kerah jasnya sembari menghampiri Mikaila dan menyambar satu buket bunga yang ditawarkan penjual keliling. Ia berlutut satu kaki di depan Mikaila yang pura-pura ternganga sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Marry me, Mikaila?” Tegar mengulurkan bunganya.


Mikaila menutupi wajahnya yang malu seraya menyentuh lengan Tegar dengan ekspresi kecentilan. “Jangan gitu ah, aku masih anak sekolah!”


“Lo terima bunganya dulu deh atau gue malu seumur hidup!”


Mikaila tergelak. Sementara itu siswa kelas dua belas pontang-panting menghampiri mereka dalam formasi yang pas bersama tim dokumentasi sekolah.


“Terima... Terima... Terima...”


Mikaila menyahut bunganya seraya malu-malu kucing. “Aku terima. Tapi maaf ya...” Mikaila melemparkan bunga itu ke belakang seraya berkacak pinggang.


Wo-wo-wo-wo... Ah-ya-ya-ya-ya, ya-ya


Wo-wo-wo-wo... Ah-ya-ya-ya-ya, ya-ya


Mikaila mendekati Tegar. “Tiap kali kau bermanja. Gemetar rasa di dada. Ingin kubisikkan cinta... Tapi hati ini malu jadinya....


Aku masih anak remaja tiga SMA, belum bisa begini dan begitu... Aku masih anak mama dan papa, tunggu tiga empat tahun lagi...”


Tegar berhenti memamerkan atraksinya seperti petinju yang memenangkan pertandingan. Tegar bersedekap sembari memutari Mikaila. Mukanya berlagak kecewa.


“Kamu pikir, kamu yang paling hebat. Merasa paling jago, dan paling dahsyat.”


Dia memang jago... Dia memang dahsyat.

__ADS_1


Mikaila tergelak. “Terus kamu pikir kamu keren gitu ngajak aku nikah sekarang? Hello...” Bersama geng sekelasnya ia mendekati Tegar. Tegar sendiri kontan mundur bersama pasukannya seolah takut ke dalam gedung serbaguna.


“Kamu pikir... Kamu yang paling hebat


Merasa paling pintar, dan paling kuat.”


Dia memang pintar... Dia memang kuat.


Tegar berbalik dan berkacak pinggang. “Aku memang kuat dan memang pintar. Terbukti dari nilaiku... yang paling besar.”


Mikaila dan Tegar berdiri berhadapan saling menantang. Bu Weni tergopoh-gopoh menghidupkan peluit.


“Udah-udah... Pentas dramanya udah...”


Mikaila dan Tegar lantas tersenyum sembari bergandengan tangan dan membungkukkan badan. Gemuruh tepuk tangan terdengar riuh.


Bu Weni menyerahkan mic ke Mikaila. Tegar sendiri ogah pidato waktu gladi resik kemarin.


“Terima kasih kami sampaikan pada guru seni yang sudah mendampingi proses pelatihan drama ini. Tapi sebenarnya ini curhat juga sih dan sebagai ganti dari pidato kami sebagai siswa berprestasi dengan nilai terbaik tahun ini. Buat adik-adik kelas. Pacaran jalan, berprestasi juga jalan. Tapi satu yang paling penting, jangan kebablasan. Jangan nikah muda. Kata mama itu bahaya!”


Sera menyunggingkan senyum bangga lalu mengacungkan jempolnya.


“Selamat untuk kalian berdua. Beri tepuk tangannya dong untuk murid-murid kami dari kelas IPA unggulan untuk opening seremonial wisuda dan perpisahan sekolah ini.”


Gemuruh tepuk tangan dan seru-seruan memenuhi gedung serbaguna. Hanya Drew yang cemberut. Dia lulus, syukurlah.


Mikaila dan Tegar duduk di kursi dekat panggung. Menjadi pionir kebanggaan sekolah, sementara acara wisuda dan pelepasan siswa terus berlanjut.


Tatapan Tegar dan Mikaila tertuju pada Harris dan Shinta yang baru saja masuk ke dalam gedung.


“Untung bokap gak lihat drama tadi. Malu gue.” gumamnya sambil terus mengamati ke mana orang tuanya akan duduk.


Mikaila tersenyum geli. “Ada videonya ya, ntar juga sampai ke ortumu filenya.”


Tegar memberengut. Padahal dia males menjadi pemeran utama pentas drama itu karena dia sudah punya rencana sendiri untuk nyanyi, tapi kelakuannya kemarin-kemarin menjadikannya satu-satunya kandidat kuat pemeran utama.


Tegar menghela napas. Gue berharap gak ada yang kenal bokap. Cari gara-gara aja itu orang udah tau punya skandal.


Harris tersenyum padanya manakala tatapannya bertubrukan dengan mata Tegar.


Tegar memutar mata dan memilih melihat Pak Rama cuap-cuap di panggung. Mikaila meringis saat melihat manuver Tegar.

__ADS_1


“Papamu lagi caper tuh.”


“Diam Lo!”


“Gengsi amat, padahal kemarin-kemarin nangis pengen di perhatiin.”


Tegar lantas menyunggingkan senyum dan menatap Mikaila. “Terkadang gue nyesel terbuka sama Lo. Mulut Lo bener-bener pengen gue tutup!”


“Pake mulutmu?”


Tegar menyentuh hidung Mikaila dengan ujung jarinya sambil tersenyum genit. Bu Weni ngelus dada, Sera hampir melempar lemper ayam dari kursinya.


“Maaf-maaf.” Tegar mengatupkan tangannya lalu berdiri, dia mengulurkan tangannya membantu Mikaila berdiri untuk menerima rapot pertama di panggung.


Pak Rama menepuk-nepuk lengan atas Tegar. “Selamat, kamu sudah membuktikan keampuhan julukan si jagoan itu di tempat yang tepat.”


Tegar memberikan hormatnya lalu memeluk sebentar Pak Rama. “Terima kasih atas kesempatannya, Pak.”


Ganti Pak Rama menatap Mikaila dengan senyum tulusnya.


“Terima kasih, Mika. Tugasmu selesai hari ini!”


“Di luar sini masih panjang, Pak. Tapi that's oke, aku akan mengerahkan kekuatan ekstra dengan cinta yang kumiliki ini.”


Pak Rama mengiyakan seraya bergeming di belakang mereka. Foto-foto lagi. Beliau kelak akan merindukan sosok-sosok seperti mereka karena kabarnya The Evolve Wild hiatus.


Mikaila dan Tegar berpisah, mereka berbaur dengan orang tua masing-masing sambil menyaksikan penyerahan rapot ke seluruh siswa.


Tegar bergeming ketika Harris merangkulnya dengan bangga. “Papa senang kamu berhasil.”


“Terima kasih. Papa gak usah ngerayu.”


“Tidak akan.” Harris menepuk-nepuk pundaknya. “Papa akan menjauh dan memperbaikinya pelan-pelan. Kalo kamu butuh apa-apa, cari papa. Termasuk sebelum menikahi Mikaila.”


Tegar mendadak merasakan sesak di dadanya semakin berani mengecilkan hatinya. Bercerai denganmu pun tidak akan memperbaiki keadaan. Ibunya sudah membuat keputusan untuk tidak bercerai dengan ayahnya. Tegar menundukkan kepalanya, bimbang bersikap. Shinta menggenggam tangan Tegar.


“Jalani mimpimu, Gar. Tidak perlu memikirkan kami, kami akan menuntaskan tugas kami sebagai orang tuamu. Kan kamu paling kuat dan hebat. Jadi santailah.”


Tegar menyandarkan kepalanya di bahu ibunya sambil tersenyum malu. Namun lihat, tepat setelah ratapan panjang tanpa kepastian itu, dia masih perlu mengumpulkan hatinya demi pemaafan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2