
Pesta ulang tahun Daffa hanya tinggal beberapa jam lagi. Tetapi Mikaila masih sibuk gedubrakan dikamar, ia mengeluarkan baju-baju terbaiknya yang rata-rata sudah sering di pakai seraya mencoba dan melepasnya, berulang kali ia mencoba sampai capek sendiri. Walhasil di penghujung sore ia malah rebahan sambil melihat langit-langit kamar.
“Tegar datang nggak ya?” Mikaila memejamkan mata sembari menghela napas. “Udah jelas datang, satu geng itu pasti jadi bintangnya.” Ia tersentak seraya bangkit saat Sera memanggilnya.
“Sarina dan Melody udah datang, Mik. Kamu kok belum siap-siap?” Sera menatap pakaian putrinya yang berantakan di kasur dan meja belajar. “Kok gini sih? Bingung pakai yang mana?” tanyanya sembari memunguti pakaiannya.
“Hatiku lagi battle, Ma. Mama bantu pilih ya, yang cocok buat party. Harus cetar membahana, apalagi Mika ketua OSIS. Pesona Mika harus terpancarkan!”
Melody dan Sarina nyaris melontarkan tawa saat melihat sahabatnya begitu ingin mempesona di ambang pintu.
“Pasti gara-gara jadian sama Tegar tuh. Biasanya juga santai banget.” Sarina berbisik.
“Bisa jadi.” Melody nyengir, tatapannya pindah ke Mikaila yang melambaikan tangan. “Kirain udah siap, Mik. Taunya, udah buru-buru kita ke sini pake ngebut segala.” Ia memberitahu sembari mendekat.
“Biasalah.” Mikaila menerima kaos striped panjang dan slip dress Korean style hitam dari ibunya.
“Nanti tinggal pake sepatu sama kaos kaki sekolah, biar berasa vibes ketua osisnya.” Sera menyunggingkan senyum kepada Melody dan Sarina yang tidak bisa lagi menyembunyikan tawa.
“Aneh-aneh aja maunya, Dik. Pesta kok bawa-bawa status ketua OSIS segala. Mana seru ya, dik.” Sera menepuk bahu Melody. “Kalian yang sabar ya, suka berlebihan anaknya!”
Mati-matian keduanya menghentikan tawanya sembari mengangguk. “Ya, Tante.”
Mikaila menutup pintu kamar setelah Sera keluar kamar. Dilemparnya pakaian pesta ke kasur. “Gila, gak mood banget aku datang ke sana. Tuh gorila pasti mengada-ada! Pasti menganggap ku pacar beneran!”
“Kalo enggak?” sahut Melody. “Gelagat dia aja keliatan ogah-ogahan jalan sama kamu, gak usah kepedean lah, Mik! Santai aja gitu, kamu penguasa sekolah, dia penguasa jalanan, beda kasta!”
“Ya iya beda kekuasaan, tapi...” Dengan semangat menggebu-gebu ia menceritakan kondisi sesungguhnya siapa Tegar.
“Jadi dia anak orkay gitu, terdampar ke sekolah kita karena terpaksa?” tanya Melody, keningnya berkerut.
“Yups, jadi selain kita beda kekuasaan, kita beda kelas ekonomi. Kalian lihat gak sepatu, tas sama jaketnya yang sering dia pakai? Rata-rata mahal semua, jelas minder aku.” Mikaila menguncupkan bibirnya.
__ADS_1
Melody dan Sarina spontan menertawakan Mikaila yang nampak frustasi sekali setelah umpannya digenggam Tegar.
“Justru karena gak ada rasa sama Tegar, kamu bisa biasa aja kali.” kata Melody pelan.
“Itu masalahnya, kayak ada yang salah sama dadaku.” Mikaila menggeram. “Gak mungkin juga kan aku ngajak putus sekarang? Masih ada beberapa bulan lagi sebelum serah terima jabatan dan itu menakutkan.” Mikaila yang tengkurap menepuk-nepuk bantalnya kesal.
“Santai ajalah.” Sarina menarik kaki Mikaila agar turun dari ranjangnya, dengan pasrah pula gadis itu melorot dari ranjang.
“Kamu ubah skenarionya, bikin Tegar yang tergila-gila sama kamu! Sekarang dandan.” Sarina mengganti setelan slip dress Korean style itu dengan dress yang lebih girly dan sepatu high heels lima senti.
“Lupain tuh vibes ketua OSIS waktu party. Obsesi kok gak tau tempat!” cibir Melody.
Pasrah, Mikaila menyiapkan dirinya dengan sangat lama. Nyaris sejam kedua sahabatnya menunggu sampai harus touch up make up.
Beberapa saat kemudian Mikaila cs tiba di rumah Daffa berbarengan dengan mobil Dela cs. Setelah kedua kubu keluar mobil, Mikaila tercengang melihat Rio dan Ben bersama mereka.
“Ngapain mereka ke sini? Cari mati?” Jengkel Mikaila menatap sinis Rio dan Dela yang bergandengan tangan di tengah kedua sahabatnya.
“Daffa juga apa-apaan sih, pake acara doorprize couple goals segala. Jadi aneh-aneh kan yang ikutan.” Mikaila mendesis.
“Mika pasti panas lihat kita, kak.” ucap Dela.
Rio yang terpaksa mengiyakan ajakan Dela sebenarnya hanya ingin melihat rupa Tegar. Seberapa tampan dan keren laki-laki itu sampai beberapa selentingan kabar mengatakan bahwa dia adalah idola baru The Evolve Wild.
Rio menyipitkan mata ketika kakinya menginjak rumput taman yang di hiasi lampu hias kecil kelap-kelip dan di penuhi kursi-kursi dan meja-meja yang di penuhi makan dan minuman dingin. Dia menyentuh bahu Ben, mendatangi sarang musuh bukanlah ide bagus, makanya ia menyuruh Ben menyiapkan bala bantuan untuk menunggu tak jauh dari mereka jika The Evolve Wild tidak terima dengan kehadirannya di sana.
“Yang duduk sama Drew, itu Tegar. Biasa sih kelihatannya, tapi dia pinter banget. Julukannya jagoan sekolah, kalo kemarin pas balapan liar gak ada Mika, habis Matt di tangannya.” Dela menghela napas, dia mengakhiri tatapan Rio yang tertuju sepenuhnya pada Tegar.
“Kak Rio udah bener-bener gak sayang sama Mika lagi kan?”
Rio mengendikkan bahu. “Mika tambah cantik, tapi lupakan!”
__ADS_1
Dela bernapas dengan tiba sabar. Benar kan, meskipun musuhan karena rebutan visi misi ketos unggulan hatinya gak bisa bohong, Mikaila si cerdas dan konyol itu tetap ada di hati Rio, kapan menang dari Mika.
Dela melepas tangannya dari Rio seraya menarik kursi dan mendudukkannya.
“Gak usah marah.” Rio mengelus rambutnya.
Dari luar, Mikaila yang menontonnya mendengus. Apa-apaan mereka!
“Angkat dagumu, Mik. Angkat sampe setinggi jemuran!” Melody mengingatkan sambil memijat bahunya seolah sahabatnya hendak masuk ke ring tinju. “Ayo semangat, samperin Tegar! Tunjukan cintamu itu!” Melody menepuk bahunya. Tapi bukannya semangat, bahu Mikaila malah melorot meski dia memang mendekati Tegar dengan muka masam.
Tegar meletakkan gitarnya di meja bar seraya menyambut tatapan pacarnya dengan senyum samar dan kedipan sebelah mata. Mikaila memalingkan wajah dengan perasaan yang kian dongkol.
“Mau duduk bareng?” tanya Tegar sembari menyentuh ujung jemarinya. Drew yang menonton penampilan Mikaila melontarkan tawa gelinya, “Tumben-tumbenan pake gaun, pindah yuk Lil. Ada yang mau pacaran.”
Drew menggandeng Lila lalu memandang Melody dan Sarina seraya mengibaskan tangan.
Kompak semua orang yang berada di radius dekat Mikaila dan Tegar pergi sambil membawa minuman dingin.
Mikaila menguncupkan bibir sambil memejamkan mata rapat-rapat. “Beraninya pada keroyokan! Kenapa sih, Gar?”
“Gak tau. Duduk!”
“Males... Argh... Aw...” Mikaila ambruk ke arahnya saat Tegar menariknya. Ia tersenyum kala Mikaila memakinya dan memukuli badannya sekuat tenaga.
“Gak kerasa sakitnya! Jadi duduk yang manis atau kamu mau kelihatan nakal nempel-nempel aku?” Tegar berdehem dengan mata berbinar.
“Idih!” Mikaila spontan tergesa-gesa bangkit dan merapikan gaunnya. “Dasar cowok sialan, cari-cari kesempatan kan kamu!” tukasnya sambil menendang tulang keringnya.
Tegar jelas saja segera mengiyakan tuduhan kekasihnya, dia mencari kesempatan dengan memeluknya tiba-tiba sampai Mikaila menjerit histeris. “Apa-apaan sih, Gar.”
“Lo diam aja daripada mantanmu ngerti kita gak saling cinta!” bisik Tegar seraya membawa Mikaila ke tempat gengnya.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung^^^