
Keesokan harinya. Mikaila menunggu Dela di depan kelas sembari melipat kedua tangannya. Raut wajahnya murka dan karena itu kedua sahabatnya memilih tidak mendekat seakan kemarahan Mikaila bisa menjalar ke mana saja tanpa kecuali.
Di dalam kelas, Melody mencolek lengan Daffa. “Berantem Mika sama Tegar?” tanyanya pelan.
Daffa mematikan hpnya lalu menggeleng. “Dela cari masalah waktu nikahan Alvian. Dia jelek-jelekin Tegar di tengah suasana keluarga. Gara-gara itu kali dia jadi singa!” tukas Daffa, “Lagian, Mel. Kemarin Tegar nginep di rumah Mika. Mana mungkin mereka berantem!”
“Nginep? Apa-apaan...” Sepasang mata Melody membeliak. “Berani juga temanmu nginep di sana. Yakin aku Tegar babak belur mentalnya!” Melody tergelak, keren juga langkah keluarga Mikaila dalam mengurusi pemuda segudang problematika itu. Bukan cuma menjerat sepasang kekasih itu semakin kuat, tapi juga mulai mengubah cara pandang tentang arti keluarga.
Melody dan Daffa menaikan alis, Sarina yang nguping di belakang pintu melambaikan tangan. Gegas kedua remaja itu pergi ke depan kelas ketika keributan terdengar.
Mikaila mendorong bahu Dela. “Apa-apaan kamu pake jelek-jelekin Tegar segala? Belum puas dapat karma?” ucapnya berang.
Dela menepis tangan Mikaila yang hendak mendorongnya lagi. “Kenapa! Kamu gak terima cowokmu jelek di mata keluarga kita? Di mata mamamu yang gak suka sama dia? Heh, Mikol... Harusnya kamu terima kasih aku bantuin kamu lepas dari Tegar!”
Bara emosi membakar dada Mikaila. Mikol adalah nama plesetannya dari kecil. Mika-Mikol dan itu tidak lucu! Terlebih cara brengsek itu Dela gunakan untuk memisahkannya dengan Tegar.
Mereka belum tau aja Tegar anaknya siapa!
Mikaila menarik napas dalam-dalam sebelum memegangi kerah Dela. Matanya menghujam mata berlensa sepupunya itu. Sumpah marah sekali dia kenapa selalu saja ada halang rintang yang membebani perjalanan asmara dan kehidupannya.
“Aku gak terima bantuan sedikit pun dari kamu! Jadi jangan sekali-kali ikut campur. Ngerti gak?” ancam Mikaila seraya mendorong Dela ke tembok.
Dela merasakan punggungnya menghantam tembok dengan keras. Ia memekik sakit lalu melakukan pembalasan dengan menjambak rambut Mikaila.
Mikaila mendongak. Sarina dan Melody panik, Daffa lari tunggang langgang, menjemput Tegar yang baru sampai di parkiran.
“Cewekmu berantem, Gar. Buruan...”
“Berantem sama siapa?” Tegar mengacak-acak rambutnya sambil melangkah lebar-lebar mengikuti Daffa yang kesetanan.
“Sama Dela. Cewekmu gak terima soal kemarin.”
__ADS_1
“Anjrit, brutal juga tuh cewek!” Tegar akhirnya berlari menuju kelas dengan melewati beberapa siswa-siswi yang menghalangi jalannya dengan sedikit tabrak-menabrak.
Beberapa mengumpat lalu diam setelah tahu siapa pelakunya. Tegar mulai di takuti di sekolah itu.
“BABE, STOP!” Suara Tegar menggelar. Siswa-siswi yang berkerumun membuka jalan bagi Tegar.
Mikaila dan Dela berhenti. Mikaila yang tidak suka Dela berhenti karena panggilan Babe itu mendorong tubuh Dela. “Cuma aku babe-nya. Sini serang aku lagi?”
Tegar menarik lengan Mikaila dan menyembunyikan ceweknya di balik punggungnya.
Gue lagi mau jadi cowok baik-baik, cewek gue malah jadi preman! Kekacauan macam apalagi ini.
Tegar perlu bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk. Masuk ruang kepsek dan BK lagi. Dapat predikat cowok pembawa masalah. Sialannya lagi itu benar-benar predikatnya.
Tegar sengaja berdiam diri agak lama untuk menciptakan ketegangan dan suasana horor bagi Dela yang bergidik. Tapi terpaksa ia menunjukkan sikap kooperatif sebagai cowok baik-baik.
“Lo sekarang lolos dari tangan gue.” Tegar mengeraskan rahangnya seraya mendekatkan wajah dengan tangan Mikaila mencengkeram seragamnya. “Tapi akan beda ceritanya kalo Lo bikin gue dan sepupu Lo pisah beneran. Hidupmu bakal sehancur diriku!” Tegar mengepalkan tangannya seraya melayangkannya ke arah Dela dengan maksud menakutinya. Dela menggeser wajah dengan mata terpejam. Jantungnya bergemuruh. Tapi ini belum selesai. “Aku... Aku cuma bales perbuatanmu kemarin!” katanya terbata-bata.
Dela berusaha meraih rambut Mikaila ketika fakta itu membuat semua tercengang bahkan dirinya sendiri.
Dela berusaha menggapai Mikaila dan
Mikaila sendiri langsung pindah ke depan Tegar. Cowoknya tercenung, makin brutal ceweknya. Tapi ia mendukungnya. Dia menyuruh Daffa ke anak tangga. Jaga-jaga.
“Bisa tutup mulutmu gak?” tanya Dela murka.
Mikaila tersenyum iblis. “Makanya jangan cari gara-gara sama aku! Udah untung keluargamu gak tau kamu udah gak perawan. Tapi di sekolah, kamu habis sama aku!”
Dela melayangkan tamparan ke wajah Mikaila, tapi Tegar sigap mencegahnya.
“Gue gak mau ikut campur sebenarnya, tapi kamu emang keterlaluan, Del!”
__ADS_1
“Woi...” teriak Daffa.
Kocar-kacir para murid membubarkan diri dari pertikaian antar sepupu itu ke kelas masing-masing setelah Tegar mengancam akan menyerang siapa saja yang membocorkan perkelahian ceweknya.
Mikaila mengikat rambutnya sambil mengatur napasnya yang memburu. Dela pergi ke kamar mandi, melewati guru penjaskes dan Bu Weni.
Di kelas Tegar menghela napas, dia duduk di tepi meja Mikaila. “Gue tahu Lo mau bela gue, tapi jangan bikin Lo sendiri kelihatan buruk.”
“Biarin, aku udah muak sama Dela!” Mikaila tak acuh.
Tegar menarik napas dan menghelanya lalu pindah ke mejanya sendiri ketika Bu Weni masuk. Guru itu mengamati wajah-wajah anak didiknya yang diam di meja masing-masing.
“Kok tumben gak berisik? Anak-anak ibu sudah sadar ya kelas unggulan ini jadi contoh kelas lain?” katanya dengan manis.
Sarina memutar mata. Jadi contoh apaan, ya kali semua kelas bakal ribut kayak tadi!
Tegar mengeluarkan bukunya sambil menatap Mikaila yang nampak inhale exhale lalu mengeluarkan bukunya dengan emosi.
Gue bakal ke rumahnya, ketemu Alvian atau Adnito, masalah Mikaila dan Dela harus di urus keluarga mereka. Bukan gue, anjir. Masa iya setiap hari gue harus ready to war, kapan gue balapannya buat cari ongkos ke Jakarta. Sialan.
Mikaila menundukkan kepalanya, secuil hatinya menyesal telah membuka aib Dela. Sepupunya itu pasti malu abis. Tapi secuilnya lagi dia masih berusaha mengibarkan bendera perang. Karena itu, mengingat beratnya masalah yang di hadapi, persiapan Mikaila tidak main-main. Dia berdoa saban detik untuk menghasut Dela lebih parah lagi. Tapi ia berharap sepupunya tidak frustasi, tidak hamil, tidak di keluarkan dari sekolah agar gencatan senjata itu masih ada dan ia tetap bisa menunjukkan rasanya pada Tegar. Makanya dengan segenap kerendahan hati dia mencari Dela ke toilet.
Mikaila menunggu sepupunya menangis di depan pintu kamar mandi. Dela keluar sambil mengusap wajahnya dengan tisu sebelum sepasang matanya kaget.
“Mau apalagi kamu?” tanyanya dingin.
Mikaila menarik sudut bibirnya. “Cuma pastiin kamu gak pingsan!”
“Sialan!”
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^