
“Aku antar pulang!” ucap Mikaila sembari mengambil uang kembalian di depan kasir rumah sakit. Dia yang membayar sebagian pengobatan Tegar karena cowoknya itu kekurangan uang.
“Kamu gak usah pusing mikir aku, ntar di tanya-tanya kakak metamorfosisnya udah sampai mana dan hasil analisisnya apa aja soalnya. Ribet birokrasi di rumahku. Apalagi kamu babak belur gini!”
Tegar menggaruk tepi kasa pembalut luka yang menutupi luka di bagian wajahnya.
“Terus aku gimana kalo di marahin mama babak belur begini?” tanya dengan suara aneh, setengah dimanja-manjakan, setengahnya lagi tidak enak di dengar.
Mikaila memasukkan dompetnya ke tas kecil lalu menyerahkan obat anti inflamasi dan pendukung kesembuhan luka Tegar ke tangannya.
“Bilang aja ke mamamu, aku anak geng. Aku habis berantem, Ma.” seloroh Mikaila sambil melengos.
Tegar nyengir seraya mengikuti Mikaila menyusuri koridor rumah sakit. Dia menghela napas atas kekacauan kencan mereka yang berakhir begitu romantis. Bagi dirinya sendiri tentunya, tidak bagi Mikaila karena dia sudah buru-buru balik rumah. Alvian dan orang tuanya pasti menunggu di rumah.
“Kamu kecewa?” tanya Tegar.
“Gak juga, aku lebih mikirin ke hubungan macam apa yang akan kita jalani? Kita start pake kebohongan dan kekerasan!” Mikaila merogoh saku celananya, mengambil kunci.
Tegar menyambar kuncinya, menyimpannya ke saku celana jinsnya. “Aku yang bawa!” Tegar menahan langkahnya. Begitu bangga dia dengan ceweknya saat ini. Wajar banget Mikaila jadi ketua OSIS ketimbang gadis pemandu sorak dan gagasan itu membuat Tegar tersenyum geli. Nyaris melontarkan tawa.
“Kekerasan hanyalah urusan sepele, Mika. Buktinya kamu sanggup melewati.”
__ADS_1
“Apa aku kelihatan keren tadi?” Mikala berkacak pinggang. Tegar mengiyakan dengan wajah bangga. Melambung satu fantasi yang sering Mikaila fantasikan diam-diam. Cewek bandel yang seksi dan keren. Woah...
“Keren banget, akhirnya aku gak cuma lihat cewek berantem jambak-jambakan. Harusnya kamu jadi anggota geng The Evolve Wild, kamu bisa berantem pakai alat-alat pembantu.”
“Ohyaaa?” Mikaila tampak antusias lalu melengos pergi. “Dia tipe pacar yang mendukung kenakalan pacarnya, bukan menasihati!”
Tegar nyengir lagi lalu merangkul bahunya. Mereka melewati koridor rumah sakit tanpa mempedulikan tujuan dari penonton yang melihatnya.
“Serukan? Aku jamin kamu akan ingat hari ini jadi hari terkeren di hidupmu! Kapan lagi kan berantem sama cowok demi aku, My Hero.”
Mikaila menahan napas. My Hero. Kenapa kalimat itu menggelikan sekarang. Mikaila menyentuh kepala belakangnya yang terasa benjol dan nyeri.
“Kayaknya aku besok bisa izin sakit, Gar. Jadi urus sendiri dirimu di sekolah!” Mikaila melompati tanaman hias setinggi lutut untuk memangkas jarak ke parkiran lalu naik ke motor pinjaman bahkan sebelum Tegar menghidupkan mesinnya dan menunggangi joknya.
“Aku juga bakal izin sakit, atau kamu bisa ke rumahku buat istirahat di kamarku?”
Mikaila tergelak, urusan dengan Tegar seharusnya hanyalah mengantarnya ke gerbang kelulusan SMA bersama geng sialan yang betul-betul menguras emosinya. Tapi ternyata salah, perasaan lain menggodanya untuk berbuat lebih dari sekedar simpati, peduli, diakui keberadaanya dan unggul dimata trah keluarganya.
Mikaila memeluknya dari belakang, tangannya membalas ulah Tegar yang menggelitiknya tadi. Tapi alih-alih tertawa, Tegar menahan napas.
“Sakit, Mikaila. Di tinju berkali-kali di situ tadi.” keluhnya pelan.
__ADS_1
“Ohya? Kakakku jago bela diri, kalo seumpama kalian berantem merebutkan aku, aku harus bela siapa?”
“Kakakmu lah, aku cuma anak geng yang ngerusak kamu!” seru Tegar. “A good man with good attitude, dia jaga kamu dengan baik. Gue? Aku? Not yet, hidupku penuh drama dan persoalan susah. Gue gak akan bisa jaga kamu sebaik kakakmu.”
Mikaila tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Itu jawaban yang dia mau. Dia menyukainya. Alvian adalah pengganti ayahnya kelak, tapi Tegar adalah masa depannya. Kalau cowok itu mau melawan kakaknya dengan cara lain. Tetapi Tegar justru bingung, alih-alih kecewa karena tidak ingin mendominasi hubungan, Mikaila justru berbuat di luar dugaannya.
“Udah sampe, turun dan jangan peluk-peluk gue kayak gini di jalan kampung, di lihat banyak orang!”
Mikaila menabok punggungnya sebelum turun dari motor. “Harusnya kamu ngomong terima kasih, utang 50rb kamu!” selorohnya, menutupi rasa malu.
Tegar menyunggingkan senyum sambil menyingkir dari samping motor ketika Mikaila mengambil alih kendalinya.
“Aku tau, besok aku ganti setelah balapan. Tapi, berikan kakakmu satu alasan bagus kenapa aku gak nganter kamu pulang. Oke?” rayunya sembari mengusap punggungnya.
“Maaf untuk malam ini.”
Mikaila menjulurkan lidah sebagaimana mestinya cewek itu bereaksi terhadap cowok sialan yang mengubah arah hidupnya. “Kamu cowok brengsek, jaga diri baik-baik. Janji jangan sampe kenapa-kenapa!”
“Yup.” Tegar membiarkan Mikaila lenyap dari pandangannya. Mulutnya melepas senyum sebelum ibunya mengomelinya di depan teras dengan menabok pantatnya lebih keras dari Mikaila. Sebuah hukuman yang pantas ia terima dari ibunya yang masih bersusah hati mengingat suami dan isi kantong dompetnya yang tipis.
...***...
__ADS_1
^^^Bersambung^^^