
Tegar terpaksa membawa pacarnya sepulang sekolah demi memenuhi rasa kangen Mikaila di rumahnya. Dan karena badannya bau kecut, Tegar memilih mandi dulu sebelum menemani ceweknya duduk santai di samping kasur. Rumah sepi by the way. Shinta sedang rajin melamar pekerjaan di instansi penting yang berkaitan dengan gelar sarjananya. Sementara Dinda terpaksa dititipkan di rumah teman mainnya. Sebuah keputusan yang Shinta sesali tapi harus ia lakukan karena Harris tidak memberi jaminan bagaimana nasib mereka kelak.
Tegar melipat kedua tangannya sembari tersenyum sedih. “Jadi gini doang kalo kamu kangen? Cuma mau ketemu aja? Berdua?”
“Iya berdua.” Mikaila menyunggingkan senyum.
“Mama kamu bilang kita harus pacaran sehat, kamu gak lupa kan?”
“Emang gini aja bikin pacaran kita jadi gak sehat?” tukas Mikaila seraya menatap kaki jenjang Tegar yang terlihat kokoh. “Berat badanmu berapa kilo?”
“Gak penting.” Tegar mengangkat bahu. “Buat apa emangnya tau berat badanku segala?”
“Aku mau tau, cuek bikin kamu kurus enggak.”
Tegar menatap Mikaila tak terima. Cuek bikin kurus? Mana ada. Bikin kangen iya.
“Mau makan di sini apa di luar?”
“Kan baru kangen, kenapa malah ngajak keluar. Dih jadi cowok gak peka banget.” cibir Mikaila seraya memutar mata.
“Kenapa sih harus kayak gini? Kamu menyembunyikannya sesuatu dariku? Perasaanmu berubah sampe harus menjauh?”
__ADS_1
Tegar langsung membantah tuduhan Mikaila. “Gak ada yang berubah, Mikaila. Perasaan gue ke Lo tetap sama. Gue sayang sama Lo.”
“Terus kenapa cuek bebek? Kamu gak butuh kita saling perhatian emangnya?”
“Ya butuh. Tapi kita sama-sama lagi berjuang keras biar lulus SMA dengan nilai bagus! Gue berharap bisa masuk UGM atau UI jalur prestasi kayak Lo. Irit.” aku Tegar, dia tidak sampai hati bilang jika urusannya keluarganya lebih penting daripada pacaran. Bisa ngamuk parah ceweknya nanti. Tapi alih-alih senang mendengar kampus impiannya menjadi tujuan Tegar juga, Mikaila justru cemberut.
“Terus kalo seumpama kita gak bisa masuk bareng-bareng ke kampus itu gimana? LDR?”
“Ya LDR, mau gimana lagi, gue tetap pegang janji, habis jadi sarjana dan dapat kerja langsung lamar kamu.” Tegar menggapai tangan Mikaila, mengelus punggung tangannya dengan lembut.
“Gak usah khawatir gitu mukanya. Lo milik gue selamanya.”
Mereka bergeming dengan tatapan yang beradu. Kegelisahan nampak di sorot mereka. Rupa-rupanya ada perasaan gamang yang terjadi. Perasaan terpisahkan oleh takdir yang membawa mereka ke masing-masing jalan masa depan setelah perasaan terjalin begitu dekat.
Tegar menaruh telapak tangan Mikaila ke pipinya. “Pasti berubah. Lo sama gue bakal dewasa. Akan lebih banyak yang terjadi di antara kita.” Tegar nyengir. “Lo emang segitunya cinta sama gue ya? Gak mau pisah sama gue?” cibirnya dengan maksud membuatnya gengsi dan marah-marah. Tapi rencananya gagal sebelum berjuang.
“Kamu janji kita belajar di kampus yang sama cuma beda jurusan!" Mikaila memberengut.
Tegar kembali nyengir. Cewek semuanya sama ya? Sukanya nagih janji. Atau emang gue banyak umbar janji?
“Gimana? Kamu bisa menyesuaikan kampusku kan? Kamu harus dekat sama aku, kamu gak boleh jauh-jauh dari aku karena aku peduli sama kamu!”
__ADS_1
Tegar bergidik mendengar nada harapan yang merayu itu. Tegar memilih melanggar peraturan pacaran sehat yang mati-matian Sera ingatkan saban hari. Ia harus memanfaatkan waktu sempit mereka sebaik-baiknya dengan memeluk dan memujanya. Tegar menyentuh pipinya dengan ujung jarinya.
“Apa aku boleh menciummu?”
Perut Mikaila melilit. Dia benci hari ini, hal waras yang seharusnya ia lakukan adalah menjauh dan memarahi Tegar, tapi ia justru memejamkan mata. Menghadiahkan bibirnya pada Tegar yang mampu membuatnya melupakan hal-hal buruk yang ia pikirkan hingga napasnya tersengal-sengal.
“Maaf-maaf. Aku hilang kendali.” Tegar mengaku seraya mendekap Mikaila erat. Mencegah kemarahan yang akan dilakukan ceweknya atau kabur sebagai bentuk kekecewaannya namun Tegar mendapatkan reaksi lain. Mikaila meringkuk di dadanya dan mendekapnya. Ciuman itu menyerap rasa takut yang menyebar di sekujur tubuhnya.
“Aku hanya memberanikan diri untuk memilikimu. Aku cinta kamu.” bisiknya pelan.
Tegar membenamkan wajahnya di rambutnya sambil berkhayal andai situasinya dia adalah Naufal dengan segala kemudahan harta yang dan status keluarga yang jelas. Andai dia bisa membanggakan diri sebagai anak Harris Abiyasa. Namun kenyataannya lebih menyakitkan. Ia perlu usaha keras membuat namanya besar dan baginya tadi bukan sekedar bermesraan. Bibir Mikaila seolah tangan kokoh yang menyokongnya, memberikan lem yang merekatkan hatinya yang pecah karena rasa tidak percaya.
“Jangan pernah melepasku.” ucap Tegar dengan serak. Dua bulir air mata jatuh di pipinya yang tirus.
Mikaila mengangguk. Dia mencium rahang Tegar tanpa banyak kata membuat Tegar
ingin menghentikan waktu. Membuat hari itu lebih indah sebagai kenangan manis masa remaja. Seindah masa SMA yang akan berakhir beberapa bulan lagi.
...***...
^^^Bersambung^^^
__ADS_1