
“Udah deh udah, kalian gak usah Public Display of Affection. Ulang tahunku nih!” seru Daffa yang berarti pamer kemesraan.
Mikaila melepas tangan Tegar dengan tak sabar di dekat meja paling besar yang menjadi tempat kado dan kue ulangnya berada.
“Dia tuh yang main narik-narik tanganku, Daff. Gak ada niat pamer kemesraan! Emang siapa yang mau mesra-mesraan. Aku sih ogah!” Mikaila menyahut kaleng minuman soda seraya berbalik. Putaran tubuh gadis yang menghempaskan tubuhnya ke sofa itu membuat gaunnya mengembang sekilas dan membuat Tegar tersenyum kecil.
“Dia lupa, Daff. Pulang dari Jogja nemplok di punggung gue sampe ngiler. Bekasnya masih ada di jaket gue.”
“Idih, jorok! Ngapain gak di cuci!” potong Lila dengan kerutan jijik diwajahnya.
“Biar dia ngerti kalo gue terima dia apa adanya!” Tegar melepas jaketnya seraya melemparnya ke paha Mikaila yang terpampang jelas di mata seluruh tamu undangan.
“Apaan sih!” Mikaila meremas jaket itu dan menantang tatapannya.
Tegar memberi peringatan dengan mata sadisnya agar ia membetulkan posisi jaketnya. Dengan terpaksa Mikaila menjabarkan jaketnya seraya membuka kaleng soda.
Pura-pura cinta kok sok-sokan posesif.
Tegar mengambil minuman kaleng seraya membawakan cheese cupcake untuk Mikaila.
Bibir Mikaila menipis dan menegang tapi tangannya terulur, mengambil cheese cupcake darinya.
“Makasih. Tapi gak mungkin aku ngiler, itu cuma alasanmu aja buat malu-maluin aku. Ya kan?”
“Daffa sama Wicak saksinya!”
Buru-buru Daffa menelan kuenya sambil menganggukkan kepala kuat-kuat. “Kamu bikin kita bertiga susah! Kamu, Mik. Sepanjang perjalanan kita bertiga bukannya takut sama demit atau begal, tapi takut ente jatuh ke aspal dan kena marah ortumu!” semburnya berapi-api dan meledakkan tawa seluruh anggota gengnya.
Mikaila melahap krim cheese yang di taburi sprinkle trimit gula warna-warni lalu membuang tatapannya ke sembarang arah.
Aku cuma ketiduran, bukan terlalu nyaman molor di punggung Tegar.
Daffa mengomandoi teman-teman untuk berhenti melakukan tor tawa dengan bertepuk tangan.
“Guys, Bray and Sis. Kumpul yuk. Kita mulai party malam ini.” serunya penuh semangat.
Tegar yang hanya berdiri menarik tisu di meja seraya mengulurkan ke Mikaila. “Bibirmu.”
Mikaila mencoba menelan seisi kaleng dalam sekali teguk seraya berdiri, dia menyampirkan jaket Tegar ke bahunya.
“Bersihin dong, gak usah nanggung banget kalo mau jadi pacar posesif!” ucap Mikaila rendah—nada memerintah.
Tegar melupakan sejenak seluruh manusia bumi yang mulai mengerubungi Daffa dan otomatis mengelilingi The Evolve Wild juga. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Mikaila seraya menariknya lebih dekat.
__ADS_1
Tegar menyunggingkan senyum ketika matanya berkilau di bawah cahaya lampu. Pemandangan yang membuatnya tersadar dari ketertarikan palsu.
“Cantik juga kamu.” Tegar menyeka sudut bibirnya lebih lembut dari tatapan Mikaila.
“Udah bersih. Ada yang lagi mau dibersihkan? Mantanmu?” Tegar mengulum bibirnya sambil melepas Mikaila yang menyingkirkan tangannya cepat-cepat. Risi. Pemuda yang berkulit coklat eksotis itu nampak terpukau dengan dirinya.
“Gak usah kayak gitu kamu, ih, sebel.” Mikaila memukul dadanya seraya melengos pergi, menghampiri dua sahabatnya yang melambaikan tangan.
“Ini bener-bener gila geng, Tegar mulai berani menunjukkan ketertarikannya. Hih.” Mikaila merinding sendiri sambil mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
Melody dan Sarina tidak bisa berkata banyak, mereka sibuk membawa makanan dan menyantapnya. Sementara di dekat Daffa yang bersiap-siap menyanyikan lagu ulang tahun dengan adanya orang tua dan saudaranya, Tegar menarik sudut bibirnya.
Mantanmu akan lenyap secepatnya dari hatimu dan perhatianmu, Mikaila Dannies.
Tegar mengambil gitar dan mengiringi lagu ulang tahun yang sangat meriah dinyanyikan seluruh tamu undangan sambil bertepuk tangan.
Daffa memotong kue ulang tahunnya yang berbentuk motornya dengan logo The Evolve Wild.
“Semakin kita berkembang liar, semakin kita kuat bersama-sama!” Daffa menyerukan semboyan gengnya yang dibalas sorakan dari anggota gengnya yang lain dan nyala kembang api meramaikan suasana pesta ulang tahun.
Tegar tersenyum, bergabung dengan geng seperti memiliki keluarga kedua dan itu mereka rasakan ketika keluarga sendiri tidak bisa melakukannya. Mereka memberikan kebebasan dan rasa peduli yang konkret. Hal itu terdengar sempurna bagi seorang anak yang kehilangan kemesraan keluarga.
Daffa mencium pipi ibu dan ayahnya seraya berpelukan dengan saudara-saudaranya sebelum mereka pergi. Membebaskan pesta ulang tahun Daffa dengan menaruh beberapa ajudan biar suasana tetap kondusif.
Cekikikan Melody dan Sarina saat Daffa menyerahkan mic ke MC acara lalu berleha-leha di sofa bersama gengnya.
“Tuh Rio sama Ben enaknya di apain, Bray?” tanya Daffa, sementara MC mulai menyebutkan pasangan-pasangan yang hendak mengikuti doorprize darinya.
Drew memandang lurus Rio dan Ben yang ikut berpartisipasi dalam ajang mesra-mesraan yang harusnya hanya untuk menjebak Mikaila dan Tegar.
“Rio jadi urusannya Tegar, Ben sama Mira?” Ia mengernyit sebentar. “Tuh cewek kayaknya jadi backingan Mamat.”
Lila mengangguk seraya berdiri dan menarik tangan Drew. “Ayo kita ikutan dansa.”
“Cieileh, berasa kurang aja kalian mesra-mesranya.” cibir Daffa, tapi mendadak wajahnya membelalakkan mata saat di panggilnya namanya dan Melody, lalu Wicak dan Sarina.
Kedua gadis itu terbahak melihat betapa terkejut wajah si jomblo dan si playboy yang membawa gebetannya. Jelas saja, gebetan Wicak langsung memukuli lengannya dengan muka kecewa.
“Katanya aku yang jadi pasangan terbaikmu, kok itu ada Sarina. Siapa Sarina?” bentaknya marah.
Sarina makin cekakakan, membuat Mikaila juga tidak bisa berhenti tertawa. “Jadi ini yang kalian rencanakan?” tanyanya sambil memegangi perut.
Melody dan Sarina mengangguk, ide brilian itu mereka dapatkan demi melancarkan ide Mikaila dalam mengurusi dua berandalan itu.
__ADS_1
“Kita ke sana, aku mau lihat reaksi mereka langsung.” ajak Melody. Mikaila mengambil kentucky fried chicken dan menuangkan mayones pedas ke piring kecil seraya mengikuti sahabatnya dengan berlari kecil.
“Cie Wicak, pasanganmu banyak banget!” cibirnya dengan muka cengengesan.
Wicak mendengus. Jelas di jengkel banget karena itu di luar dugaannya. “Aku gak daftar sama Sarina, aku daftarnya sama Marlina! Mar-li-na!” ejanya dengan berang.
Baik Sarina dan Marlina saling bertatapan, Sarina bodynya mirip bass betot makanya Marlina yang kurang gizi tapi cantik langsung marah, dia meninggalkan Wicak setelah menamparnya.
Wicak mengelus pipinya yang nyeri lalu mendekati Sarina dengan tampang galak. “Pasti kerjaanmu?” tukasnya dengan alis bertaut. Tegar memegangi bahunya, jaga-jaga.
Sarina menepuk-nepuk pipi Wicak dengan santai. “Daffa sama Melody udah oke tuh, daripada kita nganggur iyain ajalah ajakku.”
Tegar menahan tawa sampai perutnya mengeras. Satu geng gesrek semua!
Dengan kepala yang mengepulkan asap tak kasat mata, Wicak lalu menarik tangan Sarina menuju pesta dansa.
“Emang doorprize-nya apaan sih?” tanya Mikaila.
Tegar menunjuk tumpukan kado didepannya. “Banyak, tapi yang paling spesial dinner bareng di kafe, all service.”
“Oh, aku pikir doorprize-nya mobil sampai pada rela ikutan.” Mikaila memasang muka tak berminat pada pasangan-pasangan yang berada di dekat kolam renang. “Mending makan aja, pulang tinggal tidur.”
“Mik...” ucap Tegar dengan suara lembut sambil mencegahnya kembali mengelilingi meja. “Aku juga isi google form itu!”
Mikaila spontan tersedak mayones pedas yang membuat pernapasannya terbakar. Sekonyong-konyong dia mencari air minum dan meneguknya cepat-cepat lalu menarik Tegar ke tempat yang lebih sepi—jauh dari Rio dan Dela.
“Kita sama-sama tahu, kita gak saling cinta. Terus ngapain pake ikutan doorprize couple goals segala!” ucapnya berang sambil beradu tatapan dengannya.
Tegar menghela napas, dengan satu tangan yang balik menggenggam tangannya lebih erat dan satunya lagi terangkat di tembok, ketua OSIS yang gugupnya setengah mati itu resmi berada di dalam kekuasaan Tegar.
“Lo yang ngajak gue menyederhanakan pertemanan kita dengan tambahan kasih sayang. Apa iya sekarang Lo jadi pengecut?”
Mikaila mengangkat lututnya hingga mengenai si joni dan membuat Tegar kelimpungan.
“Rasain, suruh siapa nyerang Mika!”
Tegar yang memegangi celananya sambil membungkukkan badan menyeringai. “Lawan yang seimbang. Vamos a gozar*!”
( *Ayo bersenang-senang)
...***...
^^^Bersambung^^^
__ADS_1