
Tegar duduk di teras, menatap langit senja sambil memegangi gitar. Terbayang kenangan bersama ayahnya dan itu membuat perasaannya tidak nyaman. Dia menunduk, memetik gitar lalu menyanyikan lagu milik Coldplay - Daddy di penghujung sore dengan suara serak yang menyayat hati.
Mikaila menghampirinya seraya mengusap punggungnya dan memberikan bahunya untuk bersandar. Tegar memiringkan kepala. “Hari terakhir kita di sini dan papa masih tidak bersedia nginep di sini.”
“Ayahmu sedang memperbaiki keadaan di rumahnya.” Mikaila menyeka air mata yang mengalir di pipi Tegar. Dia senang si angkuh mulai terbuka tentang apa pun padanya bahkan menunjukkan kerapuhan dirinya yang sangat terluka. Mikaila tahu Tegar merindukan ayahnya tapi pemuda itu terlalu gengsi menunjukkannya.
Mikaila mengusap punggungnya dengan senyum simpati yang tidak pernah surut untuk cowoknya. “Gak papa. Kamu bakal baik-baik aja.”
Tegar semakin membenamkan wajahnya di rambut Mikaila. Dia tidak tahan meluapkan emosi terpendamnya yang sulit dilepaskan kepada siapapun.
“Gue... gue merasa ini udah terlalu jauh tapi kebodohan dan kebohongan ini gak ada abisnya.”
Mikaila sejatinya bingung, ranahnya belum sampai kehidupan pernikahan apalagi masalah Harris yang diluar perkiraannya. Dia hanya bisa menjadi pacar yang tidak protes dan berusaha ada di kala runyam-runyamnya.
Mikaila berhenti mengusap punggungnya, “Mendingan kamu mandi terus siap-siap. Kita belum ngedate berdua di sini.”
Tegar mengangkat kausnya seraya membersit hidungnya yang dipenuhi ingus.
“Jangan liat gue!” katanya mengingatkan sambil memunggunginya.
Aneh! Gak boleh lihat tapi di suruh ngerasain tangisnya, kepedihan hatinya, apalagi air matanya di bajuku. Dasar. Mikaila memutar mata lalu berdiri.
“Tutup wajahmu sampe kamarmu, Wicak sama Daffa ngintip tuh.” ucap Mikaila.
“Sialan Lo pada!” Tegar menggunakan gitarnya demi menutupi wajahnya yang sembab seraya memutari rumahnya untuk menghindari sahabatnya yang menggodanya. Setelah kondisi wajahnya normal dan ia sudah bersedia meladeni pacar dan sahabatnya. Ia mendatangi mereka di ruang keluarga, rumahnya ramai, untunglah, ada mereka yang mengalihkan perhatian.
“Mau ke mana?” tanyanya. Sementara Shinta, Sera, Mama Daffa dan Dinda sudah jalan-jalan sendiri sejak tadi siang.
Mikaila tersenyum mencurigakan setelah memesan taksi online. “Kamu ikut agenda kita-kita ajalah. Yang pasti seru abis, gak kayak kemarin. Galau mulu.”
“Ke mana?”
Klakson mobil yang terdengar dan chat dari sopirnya membuat Mikaila tidak sempat menjawab. Daffa mendesak Tegar dengan mendorong bahunya keluar rumah. Mereka pergi ke rumah Harris.
“Ngapain ke sini?” protes Tegar sejak tadi.
“Just one day before we back home, kita tungguin papamu di sini!” Mikaila mengambil dompet Tegar dari tasnya, membayar ongkosnya.
Tegar langsung pusing. Ayahnya bukan seseorang yang mudah di cari keberadaannya, kemarin saja setelah perang kata-kata dengan Mike dan Shinta, malamnya sudah pergi rapat kerja dan melakukan perjalanan bisnis, membiarkan dua wanitanya hidup dalam kegelisahan yang sulit disingkirkan.
“Ayo!” Tegar menghela napas saat Mikaila menariknya keluar dari mobil dengan maksa.
“Udah nurut aja, kita mau demo soalnya.”
__ADS_1
“Mik, bokap bukan orang sembarangan. Dia berjuang keras menjaga citra diri!”
“Berisik. Kita lagi cari keadilan juga.” keluh Mikaila jengkel.
Tegar mendengus tak terima, tapi tak mampu menyembunyikan seringai gelinya saat Mikaila dan sahabatnya mencoba merayu penjaga rumah.
“Besok pagi kita udah pulang, Pak. Terus fokus ujian nasional, gak bakal sempat ganggu Pak Harris, cuma malam ini doang. Jadi tolong sampaikan perihal ini.” bujuk Mikaila sambil mengatupkan kedua tangan.
“Tadi Tegar nangis! Kangen ayahnya karena dia nyanyi lagunya Coldplay, Daddy.”
Tak cuma Tegar yang mendelik, di dalam ruang kerja Harris yang terhubung dengan interkom pos satpam pria itu juga mendelik tajam.
“Tegar nangis? Apa kurang tegar anak itu selama di Solo?”
Harris menarik napas lalu memberi instruksi untuk membuka pintu gerbang.
“Silakan masuk, kalian di tunggu di dekat kolam renang.”
“Kenapa bukan di ruang tamu, Pak?”
“Sssttt...” Tegar membekap mulut Mikaila seraya membawanya masuk ke dalam halaman rumah. Ceweknya kebanyakan protes dan itu bisa membahayakan posisinya.
Tegar melepasnya setelah puas membiarkan Mikaila memberontak.
“Diam ya, yang sopan.” Tegar mengingatkan. Mikaila merapikan rambutnya dan pakaiannya. Sementara sahabatnya sibuk berfoto dengan patung-patung harimau yang menjadi pajangan ikonik taman itu.
“Selamat malam.” sapa Harris.
“Selamat malam, Om.” Mikaila tersenyum seraya menyikut siku Tegar. “Ngomong Gar, kok malah diam aja sih!”
Harris tersenyum. “Biarkan saja dia begitu. Duduk cantik.”
“Anaknya grogi om.” seloroh Mikaila seraya mengulurkan tangan, dia menempelkan punggung tangan Harris di keningnya. “Om sehat?”
Tegar menghela napas saat Mikaila dengan santai duduk di depan ayahnya seolah hanya menanggapi ayah Tegar, bukan orang lain.
Nih cewek mentalnya ke mana? Berani-beraninya menghadapi papa tanpa grogi.
“Om habis kerja?” tanya Mikaila.
Mendadak Harris yakin cewek di depannya bukan sembarang cewek yang bisa menaklukkan hati putranya tanpa usaha keras. Terlihat bagaimana dia terpantau tenang, dia sudah menaklukkan anaknya.
“Saya baru saja pulang, kelas berapa kamu?”
__ADS_1
“Dua belas, kita satu kelas, anak IPA unggulan. Tegar kemarin menang olimpiade biologi. Uang hasil lombanya buat tambahan ongkos ke sini.”
Harris lalu menatap anaknya yang tetap bergeming. “Uang ibumu habis?”
“Buat beli rumah, keluarga pakde gak mau di usik.” bisik Mikaila.
“Sebagai pacar kamu terlalu banyak tahu!” cibir Harris. “Sudah lama kalian pacaran?”
“Belum.” Mikaila tersenyum. “Tapi rasanya sudah lama kita bareng-bareng dan saya belum tau rasanya kangen.”
Mikaila meraih tangan Tegar seraya menyuruhnya duduk. “Aku tinggal, kalo ada apa-apa lari aja. Kita siap buka pintu gerbang!”
“Mik... Mika...” seru Tegar saat ceweknya berlalu.
“Ketemu papamu dulu deh. Aku gak ke mana-mana kok. Have fun, babe.” Mikaila tersenyum sambil mengibaskan tangan dan berlari ke arah sahabatnya. Mikaila menarik tangan Daffa dan Wicak. “Buruan ngintip Tegar sama bapaknya. Melow banget ini.”
Mereka bertiga lalu mengendap-endap dan berdiam diri di samping bangunan. Enam meter jauhnya dari posisi Tegar dan Harris.
Tegar mendadak merasakan kegugupan yang hebat di jantungnya saat dua matanya bertemu mata ayahnya. Sorot mata yang sama.
Tegar menunduk kepala. “Besok aku pulang, apa papa masih akan memblokir nomer kami?”
Seorang pelayan datang dari dalam rumah, membawa gitar. Jakun Tegar bergerak.
Mikaila... Gue dalam bahaya. Perasaan gue mendadak lemah. Sialan.
Harris mengulurkan gitarnya. “Nyanyikan lagu itu lagi untuk papa.”
“Tidak!”
“Papa tunggu.” Harris meletakkan gitar itu di pangkuan Tegar sambil tersenyum. “Kamu tidak akan menangis jika kamu tidak merasakan apa pun dalam lagu itu.”
Tegar menggigit gusinya. “Papa tahu maksudku!” jawabnya dengan suara bergetar.
“Lakukan.”
Dia membenahi posisi gitar seraya menatap ayahnya dengan lekat. Dia memetik gitarnya dengan perasaan campur aduk. Suaranya kian menyayat ketika mata Harris mulai berkaca-kaca.
...Won't you come and won't you stay?...
...*One day. *...
...Just one day....
__ADS_1
...***...
Buibu dengar lagunya, baper parah. 🥺