
Tegar beranjak seraya bergeming di belakang Mikaila sambil memegangi kepalanya. Mikaila sendiri langsung berdiri dan menatap heran gerombolan The Horizon Blast yang meringsek masuk ke dalam kafe dengan senyum sinis.
“Ada yang baru makan-makan nih... Enak banget, boleh gabung?”
“Mau apa kalian?” tanya Tegar dingin.
Matthew melemparkan chicken nugget ke dalam mulutnya seraya mencondongkan tubuhnya. Dia melirik Mikaila sekilas, cewek itu menatap sinis kepadanya.
“Cantik juga cewek kamu.” Matthew mencolek dagu Mikaila, dan gadis itu menarik tangannya dan memelintirnya.
“Gak usah pegang-pegang!” ucapnya super galak.
“Upss... Sorry...” Matthew menyeringai lalu dengan mudah memutar balik keadaan, dia memutar tangan Mikaila seraya menariknya dengan cepat. Matthew mengungkung dirinya di depan Tegar yang bergeming mengamati keadaan.
Sendirian, lawan mereka semua, ada Mikaila lagi. Hmm... Agak ribet ini. Risikonya babak belur, Mikaila bisa terluka tapi yang lebih parah tuh cewek gak bisa balik jam sembilan.
Tegar mengelap sedikit darah yang keluar dari kepala ke jaketnya.
“Lepasin dia!” ucap Tegar dingin. Sementara anggota The Horizon Blast yang lain mencomot makanan yang tersaji seperti orang kelaparan, ia maju selangkah. Menyentuh ujung sepatu flatshoes Mikaila dengan sneaker-nya.
“Aku bilang lepasin Mikaila!” Tegar memberi isyarat tajam dengan matanya.
Matthew melirik Mikaila yang berwajah dingin seperti pacarnya. Cewek itu tidak gentar, badannya bergeming, pikirannya mencoba mengali pikiran Tegar seakan ingin mengetahui langkah apa yang hendak cowok itu ambil dengan slalu menatapnya lekat-lekat.
Matthew meringis, dia mengeratkan pelukannya dengan kasar. “Dia nyaman sama aku, lihat. Mika diam aja, Gar. Dia senang aku peluk-peluk gini!”
Darah Tegar mendidih. Level kemarahannya meninggi, tetapi dia tidak ingin Mikaila kena getahnya. Dia bersedekap, menyaksikan Mikaila yang kesulitan bernapas dan berusaha menyingkirkan lengan Matthew sambil menginjak-injak kakinya dan berubah fatal saat ia menggerakkan kepalanya, membentur mulut Matthew.
Matthew terhuyung ke belakang, memegang bibirnya yang berdarah.
Tegar tersenyum miring lalu menarik Mikaila ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Sorry, cewek gue kasar!” Tegar mengayunkan kakinya dengan cepat, menendang perut Matthew sampai ia tersungkur ke belakang. Matthew memekik sakit.
The Horizon Blast kontan tersadar dari lezatnya makanan. Beberapa ada yang membantu Matthew berdiri sementara yang lain menyerang Tegar.
Tegar mendorong Mikaila ke belakang, Mikaila tersuruk-suruk berlari ke arah kafe inti, memanggil karyawan dengan suara terbata-bata menghindari serangan Reno.
“Sini kamu!” kecam Reno sambil menarik lengannya.
“Panggil Daffa atau bantu mereka... kak...” teriaknya di meja kasir. Mikaila mencengkeram tepian meja, mempertahankan diri. “KAK, BANTUIN...” Mikaila memberontak.
Dari arah dapur, karyawan-karyawan yang baru membicarakan tamu spesial mereka pun berbondong-bondong keluar. Mereka terkejut, ada aksi perkelahian yang tidak melibatkan banyak suara. Mereka sigap keluar kafe inti, seorang karyawan perempuan memberi Mikaila botol saos pedas sebelum berlari ke depan. Mikaila spontan menekan isi botol ke wajah Reno di tengah kepanikannya melihat Tegar mulai tak berdaya dengan serangan The Horizon Blast.
Mikaila mendorong Reno yang mengusap saos di wajahnya sampai terhuyung ke meja dan kursi di belakangnya. Mikaila menyambar satu kursi plastik seraya berlari ke arah Matthew saat ia hendak menginjak perut Tegar.
Matthew memekik ketika kursi itu menghantam dadanya berbarengan dengan karyawan kafe yang melerai mereka susah payah dengan membawa sapu dan tongkat pel.
“Bubar-bubar! Jangan bikin keributan di sini atau kami lapor polisi!” ancam karyawan pria sambil mengayunkan tongkat pel untuk menakut-nakuti geng motor yang berwajah puas itu.
Matthew mengusap darah di sudut bibirnya. Senyumnya mengembang penuh kepuasan. “Ini pembalasan dendam dari Ben!”
Mikaila berjongkok, ia mengelus wajah Tegar yang berdarah. Matanya nyaris bengkak, hidungnya mimisan tapi pemuda itu masih bisa tersenyum kala melihat Mikaila baik-baik saja.
“Are you oke?” Mikaila berkaca-kaca. Perasaan ngilu tumpang tindih membebani pikirannya saat ini. Tegar yang terluka, keadaannya sendiri dan awal mula hubungan yang sangat mendebarkan jantung dan isi kepala.
“Jam berapa sekarang?” tanya Tegar sambil mengusap darahnya dari hidung.
Mikaila spontan melihat jam di tangan. “Setengah delapan! Masih ada 1½ jam lagi buat kita. Kita ke rumah sakit!” ucapnya berapi-api seraya berdiri.
“Kak ada yang punya motor matic? Kau pinjam dong!” tanya Mikaila pada semua karyawan yang membereskan kekacauan.
“Ada kak, bentar-bentar aku ambilin kunci.” Seseorang itu pergi ke dalam kafe inti dan Mikaila memapah Tegar ke parkiran.
__ADS_1
“Semoga gak ada yang patah tulangnya, Gar!” katanya masam.
“Cuma berdarah, gak usah nangis!” Tegar menyarankan sambil mencubit hidungnya dengan tangan yang berbau anyir. “Makasih udah bantuin, kalo enggak, kemungkinan nasgor buatan mama tadi sore muncrat dan bikin kamu muntah.”
Mikaila memakai helmnya seraya menghela napas. “Udahlah, Gar. Aku mikirin kamu dan jangan berusaha menenangkan aku sekarang. Pakai helm kalo kepalamu gak bocor.”
“Ya, nona.” Tegar meringis sakit sambil memakai helmnya sendiri sementara Mikaila mengambil alih motor pinjaman.
“Titip motornya Tegar kak, jangan sampe ilang. Punya papa soalnya!” seru Mikaila sambil menggeber motornya menuju jalan raya.
Tegar tercenung sebentar. Punya papa? Cewek ini tahu?
Tegar memegangi pinggang Mikaila saat motornya menyelonong di tengah jalan dengan gerakan tidak fleksibel di antara kendaraan lainnya. Tegar berwajah was-was.
“Jangan bikin kita tambah babak belur, Mikaila. Tenang, aku gak papa.” ucap Tegar sambil memeluknya pelan.
Mikaila menatap sepasang tangan yang membuatnya ingin memukulnya. Ujung jemari Tegar menggelitik perutnya!
“Aku ingin menyelamatkanmu dari kemarahan dan ketidakpercayaan keluargaku. Jadi aku buru-buru tapi balasanmu bikin aku marah!”
Motor berdecit keras di depan rumah sakit. Dua kaki Mikaila turun ke aspal, lalu menoleh ke belakang.
“Turun terus periksain dirimu sendiri!”
Bahu Tegar merosot. Dia melangkah dengan malas ke arah UGD. ”Niatnya kencan pertama malah jadi tawuran jilid kedua. Tapi dia keren, gak cuma jerit-jerit doang. Patutnya gue perjuangkan!”
Mikaila menyusul setelah memarkirkan motornya di parkiran. Dengan muka sebal ia menonton Tegar yang sedang di periksa dokter umum.
Tegar tersenyum. Si cantik itu tampak penasaran dengan lukanya tapi merasa gengsi dengan hanya bergeming di dekat gorden pembatas. “Pacarku dok, ngebut kayak Rossi waktu ke sini. Takut aku kenapa-kenapa.”
Mikaila memutar mata. Dasar cowok ganjen! Baru babak belur aja masih bisa kepedean. Wuu...”
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung^^^