
Tegar membuang rokoknya ke aspal seraya menggilasnya dengan sneaker ketika mobil Dela keluar dari halaman rumahnya.
Tegar menggapai helm dan menghidupkan mesin motor pinjaman. Semua atributnya pinjam untuk mengelabuhi sasaran.
“Udah gue tunggu-tunggu dari tadi, manis. Jangan harap bisa tenang mulai hari ini.” Senyum iblis Tegar terlihat, ia menggeber motornya untuk mengikuti mobil Dela dengan jarak aman.
“Berhubung Mika lagi sibuk, gue ada waktu buat ngurus Lo karena sejak awal, Lo emang perlu pembalasan ekstrim biar diam!”
Tegar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merebut kendali. Ego si cewek pemandu sorak itu akan segera hancur di tangannya karena ia pun tipe cowok yang tidak tahan dengan tantangan. Rahangnya kaku. Tegar mengamati mobil Dela yang berhenti di tempat karaoke kemudian.
Dela berlari ke arah cowoknya yang menunggunya di depan lobi. Cowok itu Rio, mantan Mikaila.
“Dua lalat kena!” Tegar memfoto keduanya berpelukan, lalu rangkulan dan masuk ke dalam tempat karaoke yang memiliki desain ceria. Banyak lampu warna-warni dengan kaca bening yang sanggup memperlihatkan keadaan di bagian reservasi dan ruang tunggu.
“Oke, giliran gue masuk!” Tegar memakai kaca matanya baca, mengubah gaya rambutnya dan melepas jaket kulitnya hingga hanya menyisakan kaos polo putih dan celana chinos. Gayanya sudah mirip good boy.
“Kak, teman saya yang mirip mereka masuk ke ruang berapa ya? Saya telat datangnya.” tanya Tegar sambil menunjuk foto Dela dan Rio ke karyawan yang menjaga tempat reservasi dengan suara kalem.
“Oh ruang VIP kak, nomer lima. Langsung aja ke sana. Dari sini masuk, belok kanan terus ke kiri. Nanti di koridor lampu kelap-kelip.”
“Makasih kak.” Tegar tersenyum seraya pergi ke sana. Dia menunggu waiters yang baru saja masuk ke ruangan nomer lima. Di saat pelayan itu keluar, Tegar tersenyum.
“Saya juga pesan kak, kebetulan baru datang ini.” akunya dengan manis, dan siapa yang tidak tergiur dengan pesona good boy Tegar itu.
__ADS_1
Pelayan seumuran Alvian memberikan selarik kertas pesanan. Dengan jail, Tegar mencentang semua menu yang tertera.
“Kita mau party kak, jadi banyak makanannya.” jelas Tegar sambil mengembalikan pesanannya. “Oh ya saya mau ke toilet, saya grogi, saya gak bisa nyanyi tapi di paksa. Jadi nanti langsung di masukin ke ruangan aja kak. Dela yang bayar.”
“Baik kak.” Pelayan tadi mengerjapkan mata, tidak tahu harus bereaksi apa selain hanya memberi layanan terbaik.
Tegar masuk ke kamar mandi, membuat jeda sampai pesanan jail itu jadi semua. Dia memang tidak akan bertindak nekad, dia akan menggoda sedikit demi sedikit, mengacaukan pikiran Dela sebelum meledakkannya.
Tegar berlama-lama di kamar mandi, dia mengeluarkan rokok dari saku, menyalakannya, mengabaikan aturan dilarang -merokok di kamar mandi tempat karaoke sampai satpam menggedor-gedor pintunya.
“Keluar kamu.” Dan itulah yang di tunggu-tunggu. Tegar menegakkan tubuh setelah hampir tersuruk ke lantai saat di tarik dan di dorong kasar oleh satpam menuju pintu keluar.
“Berhasil tanpa menimbulkan kecurigaan.” Tegar menyeringai seraya membetulkan jaket kulitnya yang ia pakai.
“Coba kita lihat, seberapa terkejutnya cewek itu banner ini gue pasang di jalan masuk ke sekolah mereka berdua dan foto-foto ini sampai ke tangan ortunya.”
Tegar kembali ke tempat karaoke, dua lalat pengganggu masih asik bernyanyi dan bercumbu mesra. Tetapi kali ini dia memilih seseorang untuk membocorkan satu ban mobil Dela dengan imbalan uang.
Satu jam kemudian, Tegar tiba ke markas The Evolve Wild. Dia menepuk telapak tangan kawan-kawannya lalu mengambil teh dingin dan duduk. “Ada balapan lagi?”
Drew menghidupkan rokoknya dan ruangan semi terbuka itu semakin penuh dengan asap. “Balapan mulu, kantong udah jebol lagi, Bray?” cibirnya dengan muka jahil.
Cengiran lebar merekah di bibir Tegar.
__ADS_1
“Udah buat bayar SPP, Mikaila juga minta hadiah.”
Drew memutar mata. “Berapa kali kita ngomong, Bray. Ribet pacaran sama dia. Putusin ajalah!”
Tegar meremas botol teh dinginnya sambil menggeleng. Sudah lima orang menyuruhnya putus dengan Mikaila, itu tidak mungkin, nama cewek itu sudah ia sedot dan ia simpan di hati dan kepalanya. “Gak akan, gue justru baru usaha biar dapat seluruh cintanya!”
Daffa dan Wicak berdecak. “Nongkrong-nongkrong aja, Bray. Gak usah bahas cinta mulu. Gedek kita, makan aja masih di siapin ibu!” cibir Daffa dengan muka kecut.
“Sorry.” Tegar menyeringai. “Mau pada nemenin lewat rumah Mika?”
“Ngapain?” Protes semuanya berbarengan dengan nada kesal. “Gak usah, males kita-kita! Nambah masalah!” sembur Daffa, agaknya perkara Tegar dan Mikaila cukup membuat mereka trauma. Trauma dihukum.
“Mending kita konvoi cari angin.” ajak Drew.
Tegar menegakkan tubuh. Jalan keluar yang bagus. Sesudah itu urusannya hanyalah menggeber motor, menikmati rute perjalanan yang disukai anggota The Evolve Wild sambil sekali dua kali melakukan atraksi standing bergantian. Tetapi setiap kali gengnya membubarkan diri tepat di tengah malam, ia menyempatkan diri mengunjungi rumah Mikaila. Melamunkan pacarnya di depan pagar.
“Heh... Ngapain kamu di situ malam-malam!” teriak Alvian.
“Sial.” Tegar mendorong motornya cepat-cepat pergi dari depan pagar saat Alvian berusaha mengejarnya dari dalam mobil.
...***...
^^^Bersambung ^^^
__ADS_1