
Mikaila tidak tahu harus berkata apa saat Tegar mengungkapkan fakta semalam setelah diskusi pernikahan mereka selesai.
“Jadi kamu minta izin untuk melakukan balapan terakhir sama Drew?”
Tegar menyilangkan kakinya seraya bersedekap. “Gue sebenarnya juga males. Ini gila, harusnya gue kerja rodi dari pagi sampai malam buat mempersiapkan bulan madu impian gue. Bukan malah balapan, tatto badan, servis motor!” keluhnya. Namun tentunya cowok bad boy itu cuma sengaja bahas-bahas kesalahannya sendiri karena tunangannya itu bukan satu-satunya manusia yang mempunyai pikiran demikian. Sera mendengarnya di antara percakapan serius dengan Shinta melalui telepon.
Tegar mendengus. “Terakhir, sekali lagi, biar urusan gue sama Drew kelar. Dia jadi juara. Dia butuh pengakuan itu sebagai ketua geng.”
“Terus kalo dia juara tapi semakin sombong dan sok jagoan gimana?” tukas Mikaila. “Dia bukan tipe cowok yang belajar dari kesalahan!”
“Iya sayang, gue ngerti.”
Pembicaraan via telepon Sera dan Shinta berhenti sejenak saat Tegar mengusap pipi Mikaila.
“Gue butuh kehadiranmu besok, babe. Aku janji ini yang terakhir, habis nikah kan kita hidup di Jakarta.” rayunya dengan suara mendayu.
Sera berdehem. “Singkirkan tanganmu, Tegar! Pegang-pegang pipinya besok.”
“Yah, Tante.” Tegar menarik tangannya dengan enggan dari wajah Mikaila. “Kurang dari dua bulan lagi nikah, Tante masih kolot.”
Mikaila spontan menginjak kakinya. “Cukup ngomongnya!” Tatapannya terkunci pada wajah Tegar. “Aku kasih izin! Tapi nggak boleh berantem.”
“Yang berarti Tante ikut!” sahut Sera. “Om Nito juga, kalo perlu kak Vian, Mbak Indah dan anaknya sekalian.”
Tegar tak habis pikir, memangnya balapan liar tengah malam adalah rekreasi gratis yang bisa di tonton sembarang usia? Ingin sekali Tegar geleng-geleng kepala, tapi berdamai dengan Drew, menyelamatkan Daffa dan Wicak lalu hidup di Jakarta dengan gadis pujaannya adalah harapannya sekarang alih-alih membuka link atau tempat referensi tempat bulan madu yang sempat membuat Mikaila tersipu-sipu itu.
“Asal tidak merepotkan Tante dan Om silakan saja nonton.” ucap Tegar sok bijak.
__ADS_1
Sera memberikan isyarat oke seraya pindah ke dekat jendela. “Mama masih diskusi warna kebaya, kalian pergi cari souvernir dan cetak undangan. WO urusan mama, pernikahan kalian harus lebih cetar dari pernikahan Dela!”
Calon pengantin pria siap! Sementara calon pengantin wanita lemes. Dia bahkan lupa caranya berdiri. Bayang-bayang hasrat terpendam Tegar menghantuinya siang malam.
Tegar tersenyum maklum sembari menarik tangan Mikaila agar gadis pemalu itu berdiri.
“Aku pekerjaan keras, Babe. Kamu gak perlu memikirkan biayanya!” Sengaja Tegar menggodanya demi mendengar racauannya, tetapi Mikaila cuma meringis.
“Aku ganti baju bentar deh...” akunya sembari berdiri.
“Menggiurkan.” gumam Tegar dan itu membuat Mikaila terbirit-birit ke kamar, dia menjerit heboh seperti melihat setan.
“Seharusnya aku sudah punya firasat kalo main-main sama Tegar dulu berakhir dengan kemenangannya, bukan kemenanganku!” Mikaila memakai hoodie lalu mengencangkan talinya di bawah dagu, gadis itu juga memakai kacamata hitam sebelum keluar kamar.
“Ayo!”
Tegar mati-matian menahan tawa saat menggandeng tangannya. Mungkinkah malam pertama gue bakal jadi agenda komedi?
Sekali lagi Tegar merasa terhibur dengan tingkah kekasihnya. Sesaat dia mengingat pertemuan mereka saat SMA, cewek pemberani yang sesuka hati itu ternyata manis sekali seperti permen, seperti dugaannya.
“I want you to be mine.” ( Aku menginginkanmu jadi milikku ) ucap Tegar sembari membuka pintu mobil.
Mikaila mendaratkan dirinya di kursi kemudi seraya mengangguk. Hanya itu yang memberitahu Tegar bahwa Mikaila mendengarnya.
“Kamu kenapa, Babe? Malu cari sovenir sama aku? Atau kamu meriang?”
Sebelah alis Mikaila terangkat. Kepalan tangannya di kemudi mobil mengencang saat Tegar tertawa dan sengaja menggoda Mikaila. “Kayaknya Lo malu tapi mau, ya kan? Gue ingat ciumanmu waktu ulang tahunku ke 22. Di kereta malam waktu gue antar pulang Lo ke Jogja dan kamu bilang, gak mau pisah sama kamu, Tegar... Manja dan penuh harap.” ucapnya yang membuat Mikaila mencubit lengan Tegar.
__ADS_1
“Stop ngomongin aku sekarang, Tegar. Aku lagi konsentrasi.”
“Konsentrasi mikirin gue?”
Sekali lagi, Mikaila hanya bisa mencubitnya lalu menggertaknya dengan seruan frustasi.
Tegar memilih diam setelah puas menggoda ceweknya. Sementara itu tunangannya menghela napas dalam diam, berusaha menekan gelitik yang bersarang di perut dan dadanya.
Ada yang mau bantu aku kabur setelah nikahan nanti? OMG, belum apa-apa aku udah deg-degan parah.
Mikaila menelan ludahnya sekali lagi meski ia hampir menertawai dirinya sendiri lalu fokus mengemudi menuju tempat pembuatan undangan pernikahan sekaligus tempat pemesanan souvernir. Tapi alih-alih pikiran itu hilang di tengah kesibukannya, Mikaila masih bisa membayangkan hal itu.
Tegar menghela napas. “Satu persatu tujuan gue pasti akan gue wujudkan karena gue niat dan berdoa.” akunya ketika Mikaila melepas kacamatanya.
“Gue gak ngerti kenapa kamu bisa takut dan malu banget begini, apa gue pernah ada salah sama kamu? Kesalahan fatal?”
Mikaila tersenyum kecil ketika menghadapinya. “Kayaknya emang ada salah di akunya. Peluk aku deh, Gar.”
Pemuda itu mengendikkan bahu seraya memeluknya tanpa hasrat. Tegar tenang, mengusap punggungnya dan mengecup puncak kepalanya.
“Perlakukan aku kayak gini besok. Aku gak mau trauma bercinta denganmu.” bisik Mikaila.
Tegar tersenyum hangat seperti mentari siang itu. Meski dia tidak yakin bisa memperlakukan Mikaila selembut beludru tapi setidaknya mimpinya menjadi nyata setelah balapan besok malam. Tegar bersumpah akan berkonsultasi dengan ibunya untuk mengubah nafsunya menjadi love language.
...***...
...Bersambung...
__ADS_1