Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)

Ketos & Geng Motor (Dark Road, Loving You)
Chapter 89 : Bos kecil


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


“Kayaknya aku mau muntah, Ma.” keluh Mikaila seraya terbirit-birit ke kamar mandi.


Shinta yang menemaninya langsung mengikutinya ke sana. “Mungkin Mika hamil.” tukasnya sambil mengelus-elus punggungnya.


“Kata Tegar kamu tambah manja.”


Mikaila kumur-kumur seraya menyeka bibirnya dengan lengan kaus. “Kayaknya sih, Ma.” keluhnya sambil memegangi perut. Tiga bulan yang lalu dia landing ke rumahnya sendiri untuk melakukan sesi bulan madu seperti yang Harris sarankan. Tempat yang nyaman, minim stres, dan bebas. Sebulan dia di rumah orang tuanya bersama Tegar yang bekerja dari rumah. Mungkinkah ada tanda-tanda cucu request Harris di dalam rahimnya.


Mikaila memejamkan mata. “Jangan kasih tau papa dulu, Ma. Ribet.”


Shinta melontarkan sejenak tawa sebelum mengajak Mikaila keluar dari kamar mandi. “Kamu pusing ya ngurus papa?”


“Yaiyalah, Ma. Papa nyuruh aku makan bergizi. Gak boleh makan terlalu asik, terlalu banyak. Tapi yang lebih parah aku di suruh bahagia. Mana bisa. Beh... kacau banget bapak mertua, papaku aja santai.”


Shinta kembali mengeluarkan tawanya. “Harris, Harris... Dia itu pingin di sayang sama anak perempuan, sebagaimana paham yang sudah beredar kalau anak perempuan lebih dekat kepada ayahnya daripada laki-laki.”


Mikaila memutar mata sambil mengambil sweater di lemari. “Kan ada Brittany, dia bisa cemburu sama aku. Ada mama-mama juga.”


Shinta menggeleng samar. “Brit sibuk dan jaim. Tapi sederhananya kalo mama simpulkan, papamu butuh kesibukan yang mengalihkan perhatiannya dari tugas-tugas negara dan perusahaan. Dia suka anak kecil.”


Mikaila menguncupkan bibir lalu menelepon Tegar. “Aku ke kantormu sama mama habis sejam dari sekarang!”


Tegar yang baru menyantap soto di warung depan kantornya buru-buru menghabiskannya lalu kembali ke kantor dengan berlari kecil.


“Bos galak bakal datang, kalian siap siaga!”


Gedubrakan karyawan-karyawannya memberesi barang-barang yang berantakan, nyapu lantai, semprot ruangan, ngosek kamar mandi lalu merapikan pakaian dan duduk dengan sikap sempurna.


Mikaila keluar dari mobilnya, mobil hasil menuruti Harris meski ia hanya sering menjadi penumpang daripada sopir.


Tegar tersenyum lebar saat menyambut kedatangan istrinya di lobi kantor.

__ADS_1


“Selamat siang istriku.”


“Selamat siang bos Mika.”


Mikaila bersedekap sembari mengamati anak buah Harris, meski lebih senior mereka-mereka, julukan bos kecil yang Harris percayakan kepadanya membuat cewek itu di segani.


“Tumben siang-siang sudah datang, kangen sama mas Tegar?” ucap Tegar dengan mimik muka yang dimainkan sedemikian rupa agar terlihat habis kerja. Bos kecil itu berbahaya, tukang ngadu ke Harris dan tidak segan-segan mengomelinya bahkan ke karyawannya jika terlihat sesuatu yang diluar kesukaannya.


Mikaila tertawa-tawa sambil berjalan ke sekeliling. Tapi bau parfum dari salah satu karyawan membuatnya mengatupkan bibirnya rapat-rapat seraya berlari ke kamar mandi.


Mikaila muntah dan itu semakin parah saat aroma aerosol yang menyengat menusuk hidungnya.


“Babe, kenapa? Masuk angin?” Tegar memberinya tisu yang dia pungut dari meja karyawannya.


Shinta memutar mata. Untuk tanda-tanda awal kehamilan saja Tegar tidak paham, bagaimana jika nanti saat Mikaila hamil?


Mikaila muntah sekali lagi dan itu membuatnya lemas. Tegar menangkapnya lalu memapahnya ke kursi tamu.


“Kok gue.” gumamnya heran. Parfum nyom-nyom kebanggaannya kok di salahkan, salah hidung bos kecil tuh.


Tegar mengecup kening Mikaila seraya merapikan rambutnya yang berantakan. “Kamu sakit?”


“Kemungkinan positif hamil itu, Gar.” jawab Shinta. “Di rumah tadi waktu mama masak juga begitu. Gak kuat sama baunya.”


Tegar langsung menangkup wajah Mikaila, meski sejujurnya dia agak was-was jika Mikaila memuntahkan isi perutnya lagi.


“Jadi kamu ke sini mau ngasih tahu keadaanmu ini?”


“Yaa...”


Wush... aroma sisa muntahan melayang ke hidung Tegar. Dia tercekat sambil menahan napas.


“Oke, kita ke rumah sakit.” Tegar berdiri, minta plastik ke office boy yang menunggu di depan pantry sebelum membawa Mikaila ke rumah sakit langganan keluarga dan setelah cek ini-itu, Mikaila dan Tegar menemukan hasilnya. Bakal manusia baru tumbuh di rahimnya.

__ADS_1


Tegar tersenyum puas. Usahanya yang tanpa lelah berhasil. Mereka lantas menemui Harris di kantornya, cukup lama mereka menunggu karena sang kakek sedang rapat kerja.


“Papa pasti tambah posesif, Ma.”


“Berbaik sangka sama papa, mungkin papa ingin mengganti kesalahannya dulu dengan memperhatikan kalian dan penerus keluarganya.”


Tegar memberinya es krim ketika mereka berteduh di bawah pohon perindang dekat parkiran.


“Aku dengar-dengar papa mau langsung pensiun setelah purna tugas, Ma? Bener papa mau cabut jadi politikus?”


Shinta mengangguk. “Papa mau fokus di bisnis dan keluarga, katanya sih begitu. Udah tua katanya, mau istirahat.”


Tegar mengigit es krimnya buru-buru saat melihat ayahnya keluar dari gedung besar itu.


“Buruan, Ma. Buruan makannya nanti papa kira kita anak kecil makan es krim!” seru Tegar.


Shinta mengeluhkan giginya yang sensitif saat menyantapnya buru-buru.


Mikaila mendengus. “Udah kamu beliin aja papamu es krim juga. Orang pasti papamu jarang makan ginian! Papamu cuma iri tuh.”


Harris berdehem, mengacaukan pembicaraan keluarganya. “Enak sekali kalian, papa kerja kalian makan es krim!”


Dengan kecepatan super Tegar kembali membeli es krim untuk ayahnya. Sementara itu, Harris memandang Mikaila yang tampak pucat.


“Kenapa kamu? Kurang sajen?”


Mikaila memberinya hasil dari pengecekan kondisinya tadi di rumah sakit.


Harris membukanya seraya menyunggingkan senyum puas. “Punya cucu. Hidup pasti lebih seru!”


Baik Mikaila dan Shinta menghabiskan es krimnya setelah memutar bola mata malas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2