
Setelah pulang sekolah mereka langsung menuju kerumah Ira setelah ganti baju dikamar mandi sekolah. Agar tidak memakan banyak waktu mangkanya Galen membawa baju ganti dari rumah, Noah pun sama.
Amel langsung ikut kerumah Ira setelah mendapat ijin dari orang tuanya ia nanti akan meminjam baju Ira saja, jadi tidak perlu pulang segala.
Sesampainya disana sudah ada guru les privat yang lebih dulu tiba ketimbang mereka, guru itu masih muda dan sangat tampan. Amel yang melihatnya langsung melongo.
"Ir kalau gurunya bening kayak gini, tiap hari gue belajar fisika pun mau," ucap Amel, membuat Ira malu saja ia kalau dia ngomong nya lirih lah Amel ngomong bisa didengar semua orang yang ada diruang tamu.
"Diem Lo! bikin malu gue aja," ketus Ira lalu meninggalkan Amel yang masih berdiri mematung menatap guru privat itu.
"Lo jadi ganti baju gak?!" teriak Ira.
"Ya, iya." Amel langsung berlari ke kamar Ira.
"Ir siapa yang nyariin guru les itu?" tanyanya setelah mereka berdua sampai dikamar Ira.
"Abang Angga yang nyariin, itu teman dia waktu kuliah dulu," jelas Ira.
"Inget Lo harus jaga sikap! kalau nggak gue tendang keluar Lo!" ancam Ira dengan tatapan tajamnya membuat Amel menelan salivanya susah.
"Oke gue diam! sumpah nakutin nener Lo Ir!" balas nya.
"Ya jangan diam aja Lo juga harus perhatiin pelajaran nya."
"Siap ibu negara."
"Lo mau pakai baju apa?" tanya Ira. Amel langsung memilih-milih baju dilemari Ira.
"Lo pakai celana apa rok?"
"Gue pakai celana aja," balas nya.
"Yaudah gue juga pakai celana." Amel memakai baju seperti Ira celana selutut dan baju lengan pendek. Simpel bedanya tentang gaya rambut saja, Amel memilih rambutnya ia kuncir kuda jika Ira lebih memilih mencepol gaya rambutnya.
Mata mereka bertiga menatap pada dua sejoli yang baru turun dari atas itu, sangat cantik. Padahal biasa saja penampilannya.
"Cepetan! lelet banget Lo jadi orang!" ketus Galen.
"Lama pala lu, orang baru sepuluh menit kok!" ketus Ira.
"Sudah mari kita mulai belajar hari ini." Zen menengahi perdebatan itu, ia sudah mengetahui sebelumnya jika dua murid nya ini tidak akur.
Zen nama pembimbing belajar bersama mereka. Mereka memperhatikan kak Zen saat menerangkan, mereka bertiga sangat fokus sedangkan Amel hanya melamun melihat ketampanan kak Zen.
"Apa kalian sudah paham?" tanya kak Zen Mereka semua mengganguk. Kak Zen memberi mereka soal sepuluh untuk dikerjakan dalam waktu 15 menit.
"Lima belas menit?" ucap Amel.
"Itu khusus Ira dan Galen kamu bisa mengerjakan sebisa kamu," ujar kak Zen dengan senyuman membuat Amel melting.
"Wah aku di spesialkan," ucap Amel membuat kak Zen tertawa kecil.
Ira dan Galen mengerjakan dengan sangat serius sedangkan Amel sibuk memperhatikan kak Zen dan Noah ia tengah sibuk dengan gadget nya.
"Sudah!" ucap mereka berdua kompak, Galen dan Ira menyelesaikan tugas dalam waktu sepuluh menit. Wow its mazing.
"Bagus!" kak Zen tersenyum puas saat melihat murid yang ia ajar kali ini benar-benar jenius.
Ternyata apa yang dikatakan Angga benar jika aku akan mengajar anak jenius, menarik sekali sudah cantik dan tampan. Jenius lagi! mereka pasangan yang cocok. batin kak Zen.
kak Zen mulai mengoreksi jawaban Ira dan Galen dan jawabannya benar semua. "Seratus untuk kalian," ucapnya.
__ADS_1
"Adakah pelajaran sekolah yang tidak kalian mengerti, tanyakan saja pada saya," sambung kak Zen.
"Ada kak, aku akan mengambilnya sebentar," ucap Ira
Ira kembali dengan kertas ditangannya soal yang tadi diberikan pak guru saat disekolah, ia menunjukkan jika ada yang tidak ia pahami dari soal itu.
"Ehm, baiklah biar aku terangkan sedikit." Dengan begitu ahli kak Zen mengajarkan mereka dengan sangat singkat tapi mereka langsung paham. Lalu kak Zen memberi lima soal tentang apa yang ia ajarkan tadi.
Sekarang ganti Galen yang bertanya perihal jawabannya yang salah tadi, dan seperti tadi kak Zen akan menjelaskannya terlebih dulu lalu baru memberi mereka soal.
Akhirnya les privat itu selesai, kak Zen juga sudah pulang.
Tringg handphone Ira berbunyi. Ada panggilan dari Abang tampannya.
"Assalamualaikum," ucap Angga dari seberang.
"Waalaikumsalam, apa ada?" tanya Ira.
"Kebalik adekku sayang," balas Angga.
"Iya, iya ada apa?" tanya Ira malas.
"Bisa jemput Abang gak?"
"Gak bisa!" sahut Ira cepat.
"Kenapa, emang kamu dimana?"
"Dirumah, males aku bang capek abis belajar, udah ah pesen taksi aja kan bisa."
"Ya udah." suara dari arah pintu luar, ternyata Angga sudah didalam rumah membuat Ira kesal saja.
"Kalau udah di rumah ngapa minta dijemput beng-beng!" kesal Ira.
"Zen mana?" tanya Angga.
"Kak Zen udah balik lha," jawab Ira tak santai.
Amel yang menonton drama adik kakak itu pun tersenyum kecil.
"Bang Angga ngapa nggak minta aku jemput aja, kalau minta walaupun di ujung dunia sekalipun bakal aku jemput kok," ucap Amel dengan tersenyum kecil.
Angga tertawa melihat sikap konyol sahabat adiknya itu karna gemas ia sampai mengacak-acak rambut Amel.
Amel mematung lalu ia tersenyum dengan sangat mengembang sempurna. "Bang Angga aku cuma ngomong gitu Abang Angga udah baper, apa bang Angga suka sama aku?" tanyanya polos membuat Angga tertawa terbahak begitupun dengan seluruh orang diruang tamu.
"Aku mengacak-acak rambutmu karna kau menggemaskan."
"Sudahlah bang jangan kau tebar ucapan manismu itu pada sahabat konyol ku ini, dan kau jangan tertipu dengan bujukan **** boy kadal itu!" ujar Ira menasehati Amel.
Amel tersenyum dengan sangat manis membuat hati Angga berdesir. Angga lalu pergi ke kamarnya.
"Mel Lo mau gue antar sekarang apa nanti?" tanya Ira.
"Gue kayaknya pingin nginep aja deh dirumah Lo, pingin lihat Abang ganteng terus soalnya, kayaknya gue suka sama Abang Lo, Ir Lo mau kan punya kakak ipar kayak gue," ucap Amel asal dengan tersenyum melihat pintu kamar Angga yang berada didepan kamar Ira.
"Halu Lo!" ucap Ira.
"Gue balik dulu," ucap Galen menyela, Ira baru sadar jika masih ada orang disini. Saat Galen akan keluar mama Ira memanggilnya.
"Nak Galen," ucap Amira mama ira.
__ADS_1
"Iya tante," balas Galen sopan.
"Ini Tante titip buat mama kamu," ucap Amira. memberikan paper bag kepada Galen.
"Makasih Tante nanti saya berikan pada mama," balas Galen sopan.
.
"Assalamualaikum." Galen berucap salam saat batu memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam, gimana seru gak belajarnya tadi?" tanya Vina mama Galen.
"Seru gimana? belajar ya belajar kayak biasanya lha ma, oh ya ini ada titipan dari Tante Mira." Galen memberikan paper bag itu pada Vina.
"Wah dapat apaan nih dari besan," ucap Vina keceplosan.
"Besan?" tanya Galen binggung.
"Ah, maksud mama tadi besar alias nyonya besar bukan besan, salah denger kali kamu!" jawab mama.
"Mungkin." Galen langsung naik ke kamarnya, ia memandang foto dirinya dan sang kakak sejenak, melihat keakraban dan kemanisan Ira dan Angga membuatnya merindukan sang kakak, jadi Galen pun menelfon kakaknya.
"Assalamualaikum," ucap Galen saat panggilan sudah tersambung.
"Waalaikumsalam adikku yang menyebalkan.* Ya kan belum aja ngomong kakaknya ini sudah sangat menjengkelkan.
"Ada apa tumben nelfon, kangen ya?" goda kakak Galen.
"Ngapain kangen sama kakak nyebelin kek elu!" bantahnya.
"Terus ngapain telpon?"
"Lo kapan pulang?" tanya Galen.
"kenapa? bilang aja kalau kangen, gengsi amat adek gue!" goda Tiara kakak Galen.
"Udahlah gue matiin aja makin hari makin nyebelin aja Lo jadi kakak," ucap Galen kesal, Galen langsung mematikan telfon itu, dan disana Tiara kakak Galen tertawa senang bisa membuat kesal adik tampannya itu.
Punya kakak nyebelin nya minta ampun, untung sayang! batin Galen.
Ya begitulah hubungan adik kakak antara mereka, jika dekat bertengkar tapi kalau jauh pasti akan saling merindu, seperti Galen dan Tiara, Ira dan Angga. Hubungan yang indah bukan, saling merindu tapi tidak saling menyakiti beda lagi dengan cinta.
"Hah! cinta makhluk apa itu, gue gak yakin kalau bakal mengenal kata cinta lagi kata yang penuh perjuangan dan pengorbanan, dan juga air mata," gumam Galen.
Mengapa setiap kita setia pada satu orang, orang itu malah menghianati kita, cinta memang penuh misteri dan teka teki kadang membuat kita bahagia dan kadang membuat kita bersedih.
Kalau gue menemukan sosok yang tepat gue bakal ngejar dia meskipun dia gak suka sama gue, gue bakal tetap berjuang meskipun penuh dengan rintangan.
Cinta memang indah jika kita melihat seseorang tapi tidak jika merasakan, kita bilang dia itu sosweet dia romantis dan ini itu tapi apakah kita tau seberapa dalam duka yang ia pendam dan lika liku perjuangan cintanya.
~kita hanya melihat sampulnya tapi tidak dengan bukunya~
.
Rutinitas seperti biasa setelah baca like komen sama vote oke👌
vote yang buanyak ya dan bantu promin juga biar banyak yang baca. Makasih buat yang selalu setia baca cerita aku yang gajelas ini😂
Baca juga 'Jalan Hijrahku'
Follow ig penulis: Nabilaputrii36_
__ADS_1
jangan lupa✌️