
Triingg
Bel pulang sekolah berbunyi seluruh warga sekolah SMA Ganesa bersorak gembira akhirnya mereka pulang juga seperti sudah bertahun-tahun saja disana padahal juga setengah hari.
Ira dan teman-teman nya juga sudah siap menuju parkiran Nara hari ini nebeng pulang karna mobil dipinjam saudara nya.
Belum sempat Nara masuk tangan nya sudah di tarik seseorang membuatnya menoleh kebelakang. Ia mendengus kesal lagi-lagi Noah yang mengganggunya Nara sangat kesal seharian ini Noah selalu saja menempel pada nya membuat nya risih.
"Lo kenapa sih selalu ngikutin gue!" kesal Nara.
"Taruhan!" balas nya santai. Nara sangat geram selalu saja alasan itu yang digunakan nya.
"Persetan dengan taruhan itu, gue udah muak mulai detik ini gue batalin taruhan sialan itu!" kesal Nara.
Noah tersenyum miring. "Mana bisa!" balasnya tetap tenang malahan ia sangat gemas dengan ekspresi kesal Nara ingin sekali ia mencubit pipi chuby nara.
"Kenapa nggak!" sentak Nara. Ia benar-benar marah saat ini.
"Karna perjanjian itu sampai sebulan!" jelasnya dengan wajah datar padahal detik itu juga Noah ingin tertawa terbahak tapi ia sangat menahan tawanya.
"Tapi gak ada kata kalau gue gak boleh batalin taruhan ini!" bantah Nara.
"Kalau nggak ya nggak!" balas Noah tegas dengan mata menajam membuat nyali Nara menciut.
"Ikut gue! Lo pulang sama gue." Noah menarik paksa tangan Nara membawanya ke mobil.
***
Tepat setelah Nara dan Noah pergi Galen langsung masuk ke mobil ira membuat Ira terkejut.
"Lo! ngapain Lo disini!" teriak Ira.
"Kenapa? gak boleh? Noah yang nyuruh gue! dia mau nganterin Nara pulang trus gue suruh nebeng sama Lo!" ucap nya datar tanpa melihat ke arah Ira.
"Pesen taksi kan bisa, keluar gue mau jemput bang Angga!" ucap Ira bohong karna Angga sekarang sedang di luar kota, ia tidak ingin saja semobil dengan Galen.
"Gue bisa ikut, cepet jalanin mobilnya!" ngelunjak amat nih bocah udah nebeng merintah lagi dasar Bambang.
"Keluar nggak!" teriak Ira, Galen malah mendekatkan wajahnya membuat Ira mundur.
__ADS_1
"Mun-dur! a-apa yang Lo lakuin." Ira sampai gugup menjawabnya, sekarang wajah Galen sudah mendekat padanya tinggal hitungan jengkal Saja.
Galen menempelkan bibir nya pada telinga ira ia membisikkan sesuatu membuat bulu kuduk Ira meremang. "Jalan atau..."
Ira langsung menginjak pedal gasnya dengan sangat kencang membuat Galen yang belum siap langsung terjatuh kearahnya pipi mereka pun bersentuhan refleks Ira menginjak rem mendadak membuat kepala Galen terbentur pintu mobil.
Galen langsung bangun dan mengusap kepala nya. "Sial! Lo bisa bawa mobil gak sih!" sentak Galen refleks.
Ira terhenyak baru kali ini ada yang meneriakinya seperti itu mata nya sampai berkaca-kaca ia mengadahkan wajahnya ke atas agar air mata itu tidak menetes.
Sejutek-jutek nya Ira ia tetap seperti anak perempuan diluaran sana hanya luarnya saja Ira terlihat kuat tapi tidak dengan hati nya yang rapuh. Ira tetap seperti cewek lainnya menangis jika di bentak dan di marahi, Angga saja abang nya yang menyebalkan tak sekali pun membentaknya apa lagi orang tua nya lantas siapa Galen berani sekali ia membentak nya.
Ira menatap Galen tajam meskipun ada setitik kesedihan disana Galen pun bisa melihatnya ia juga merasa bersalah telah membentak Ira ini semua juga kesalahan nya kenapa juga ia menganggu nya.
"Ra, gue---"
"Keluar!" teriak Ira dengan tatapan menghunus tajam kearah Galen.
"Ra gue min---".
"Gue bilang keluar ya keluar! apa Lo gak denger!" sebtak Ira matanya memerah seperti nya ia sangat marah.
"Lo tuli!" sarkas Ira.
Tak terasa air mata Ira menetes Ira langsung mengusap nya dengan kasar. "Ira bodoh kenapa Lo nangis hanya karna dibentak pria gila itu, emang siapa dia!" ucap Ira ia mencengkram kuat setir mobilnya dan melajukan mobil nya dengan kecepatan maksimal untuk meluapkan semua emosi hati nya.
Ira melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, ia mengendarakan mobil nya ke bukit hijau ia ingin berteriak sekeras-kerasnya meluapkan segala amarah nya baru ia akan pulang ke rumah.
Ira berdiri di atas bukit yang tinggi nya kurang lebih 50 meter. Ira berteriak sekencang-kencangnya.
"Aaa gue benci gue benci!" teriak Ira terisak air mata nya pun sudah turun.
"Kenapa gue harus nangis cuma karna di bentak cowok gila itu, kenapa!"
hampir satu jam Ira berteriak menumpahkan segala lara hati nya. Sampai ia tidak sadar jika telah membuat orang rumah khawatir.
***
Setelah Galen turun dari mobil Ira ia memesan taksi online dan segera melajukan mobil nya ke rumah Ira ia benar-benar sakit hati melihat Ira sedih karna nya.
__ADS_1
"Bodoh Galen Lo bodoh kenapa Lo gak bisa nahan emosi Lo." Galen menjambak rambut nya frustasi.
Sesampai nya di sana ia langsung mengetuk pintu rumah Ira dengan cepat.
Tok tok tok
"iya sebentar," balas orang dalam yang tidak lain adalah Amira mama Ira.
"Sore tante," sapa Galen tersenyum.
"Eh, nak Galen tumben kesini ada apa?"
"Ehm, Ira nya ada Tante?"
"Ira, dia belum pulang Tante juga bingung udah jam segini kok belum pulang, coba Tante telfon dulu ya."
"Iya Tante, tapi jangan bilang kalau Galen disini." Amira mengganguk dan langsung menelfon Ira tapi tidak di angkat-angkat sampai panggilan ke lima baru di angkat oleh Ira.
"Assalamualaikum ma."
"waalaikumsalam, kamu dimana sayang udah jam segini kok belum pulang?" tanya Mira cemas.
"Maafin Ira ma tadi nggak ngabarin mama, Ira lagi ada bimbel disekolah setelah ini Ira pulang kok, udah dulu ya ma, wassalamualaikum." tidak menunggu balasan dari mama nya Ira langsung menutup telfon nya.
Sedangkan Galen langsung melacak keberadaan Ira dan menemukannya ia tahu kalau Ira bohong pasal bimbel tadi.
Bukit? batin nya
Galen segera pamit ia ingin menyusul Ira kesana ia takut Ira kenapa-napa. "Yaudah Tante kalau Ira nya nggak ada Galen pamit dulu."
"Kenapa? tungguin dulu bentar lagi juga pulang tuh anak."
"Nggak usah Tante Galen juga belum izin mama takut nya nyariin entar," bohong nya jelas-jelas tadi sebelum kesini ia sudah izin pada mama nya tapi tidak ke rumah Galen melainkan kerja kelompok dengan Noah.
Galen segera melajukan mobil nya ke bukit tempat Ira berada. Sesampainya disana ia melihat Ira berteriak dengan bahu nya berguncang naik turun terlihat jelas jika ia sedang menangis. Galen yang melihat nya juga merasakan sakit pada hati nya ia baru menyadari sekarang jika perasaan nya pada Ira adalah cinta bukan kekaguman sesaat.
Galen melangkahkan kaki nya lebar-lebar menuju keberadaan Ira dan langsung memeluknya dari belakang.
"Sorry."
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen and vote sayang 😚💓