
Mereka semua sudah sampai dirumah Ira terlihat Amira tengah membantu Hermawan bersiap.
"Assalamualaikum," salam mereka.
"Waalaikumsalam," balas Amira dan Hermawan. Mereka masuk dan menyalami dua parubaya itu.
"Papa mau kemana?" tanya Ira.
"Papa akan ke luar negri sayang mungkin satu bulanan," ucapan Hermawan membuat Ira menunduk lesu.
"Kenapa sayang?" Hermawan menghampiri putrinya mengusap sayang kepala Ira.
Ira menggelengkan kepala ia langsung pamit masuk ke kamar. Mereka semua yang melihat Ira seperti itu pun mengernyitkan dahi tidak mengerti.
Ira masuk kekamar menutupi wajahnya yang sudah dialiri air mata tidak pernah Ira sesedih ini ia sangat sedih karna kepergian papanya, selama sebulan? itu artinya saat ulang tahunnya nanti papanya tidak ada dirumah.
Hiks hiks hiks
Apa papa tidak ingat jika sebentar lagi aku ulang tahun, batin Ira
Hermawan masuk ke kamar Ira ia tidak akan tega meninggalkan putrinya jika dalam keadaan sedih begini ia sangat menyayangi putri kecilnya itu.
"Sayang kenapa nangis?" tanya Hermawan sembari mengusap lembut rambut Ira.
Ira mengusap air matanya ia tidak ingin papanya melihat jika ia menangis tapi itu sudah terlanjur papanya itu sudah melihatnya.
Hermawan menyuruh Ira duduk lalu mendongakkan wajahnya dan mengusap lembut air matanya. "Kenapa kamu sedih sayang bukankah sudah sering papa meninggalkanmu ke luar negri bahkan waktu itu pernah sampai dua bulan."
"Apa papa melupakan sesuatu?" ucap Ira sendu, Hermawan terdiam mencoba mengingat-ingat sesuatu namun hasilnya nihil.
"Apa yang papa lupakan?"
"Tidak ada ya, yasudah apa papa tidak akan tertinggal jika masih disini?" ucap Ira dengan senyum getir.
"Papa naik helikopter pribadi jadi papa tidak akan terlambat, kamu kenapa? jangan sedih gini oke kamu mau papa beliin oleh-oleh apa?"
"Tidak ada, cukup papa segera selesaikan pekerjaan dan pulang secepatnya." sambil tersenyum sebisa mungkin Ira membuat wajahnya baik-baik saja ia juga tidak ingin papanya terlalu memikirkannya dan membuatnya tidak fokus bekerja.
"Lalu kenapa kau bersedih sayang?"
__ADS_1
"Aku sedih karna papa sangat dadakan perginya biasanya papa bilang kurang satu hari sebelum keberangkatan lalu papa akan mengajak Ira pergi jalan-jalan terlebih dulu," ucap Ira tidak bohong karna itu memang benar jika Hermawan akan pergi biasanya ia akan meluangkan waktu untuk mengajak anak nya jalan-jalan terlebih dulu.
Dibalik sifat juteknya ira ia akan berlaku manja pada papa tersayangnya ini ia akan berlaku seperti anak kecil yang menangis jika apa yang diinginkannya tidak ia dapat, Ira tidak pernah minta aneh-aneh ia hanya butuh kasih sayang dan keharmonisan keluarganya seperti keluar bersama sekedar untuk makan dan jalan-jalan hanya itu sederhana tapi cukup membuatnya bahagia.
"Maafkan papa karna kabar ini juga sangat mendadak," balasnya.
"Apa yang bisa papa lakukan agar kau memaafkan papamu ini?" Ira hanya diam ia masih sedih karna papanya melupakan hari ultahnya yang ke 17 tahun.
"Tidak ada cukup papa pulang dengan selamat," balasnya dengan senyuman. Hermawan mengusap rambut anaknya ia sangat bersyukur diberikan anak baik seperti Ira.
Hermawan memeluk Ira cukup erat ia sangat menyayangi putri kecilnya ini. "Papa sangat menyayangimu," ucap Hermawan dengan diakhir kecupan dikening.
"Ira juga sangat menyayangi papa," balas Ira. Mereka melepaskan pelukannya Hermawan mengajak anaknya turun untuk sarapan bersama.
"Ayo kita makan dibawah!" ajak Hermawan dan Ira hanya mengiyakannya.
Mereka berdua turun disambut senyuman oleh semua orang Ira duduk disebelah Angga. "Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Angga penasaran.
"Gpp."
Sarapan pagi mereka telah usai Hermawan juga sudah siap akan berangkat Ira memeluk papa nya dengan sangan erat.
"Ira sayang sama papa," ucapnya Heramawan mengecup lama pucuk kepala Ira.
"Cepat pulang pa!" teriak Ira.
Angga merangkul leher adiknya. "Kau kenapa wahai adik kecilku?" Ira balas dengan senyuman lantas ia melangkah ke arah mamanya.
"Ma ayo katanya mau masak!" ucapnya.
"Iya kita masak sekarang." Amira mengusap rambut Ira mama nya ini juga merasa ada yang aneh dengan anak gadisnya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Nggak papa kok ma," balas Ira dengan senyum manis.
"Kamu jangan boong mama yang ngelahirin kamu tentu mama tahu kalau kamu lagi nggak jujur, ngomong sama mama kamu kenapa?" ucap Amira lembut.
Ira langsung nangis dipelukan sang mama sedangkan Tiara, Galen dan Angga hanya menonton baru kali ini mereka melihat Ira sesedih ini.
__ADS_1
"Cerita sama mama ada apa?"
"Ma Ira sayang sama papa Ira pingin di ulang tahun Ira yang ke 17 ada papa disamping Ira, Ira pingin ngasih potongan kue pertama Ira buat papa tapi papa malah ke luar negri," ucap Ira pada akhirnya ia menatap sendu kearah mamanya.
Amira menatap lekat kearah Ira, Ira memang benar-benar sangat menyayangi papanya. Ia tidak akan bisa jauh dari papa tersayang nya apalagi menjelang hari ulang tahunnya tentu semua orang ingin orang yang ia sayang berada disisinya begitupun Ira.
"Apa papa lupa kalau seminggu lagi Ira ulang tahun," ucap Ira sendu Amira menjawab dengan gelengan kepala.
"Tentu itu tidak mungkin sayang kau kan tahu Ira anak kesayangan papa mana mungkin papa melupakannya memang kamu ingin hadiah apa dari papa?"
"Ira nggak pingin apa-apa ma, Ira cuma pingin seumur hidup Ira papa dan mama selalu disamping Ira selalu ngerayain ulang tahun bareng-bareng sama kalian, Ira cuma pingin keluarga kita selalu seperti ini keluarga kecil yang harmonis," ucap Ira membuat Amira menitikkan air mata begitupun Tiara.
Angga langsung menghampiri adiknya dan memeluknya juga mamanya."Kita akan selalu bareng-bareng, abang yakin papa nggak mungkin ngelupain ulang tahun kamu." Angga benar-benar tersentuh akan omongan Ira karna biasanya anak seumuran Ira akan minta hadiah yang mewah acara yang mewah sedangkan Ira ia cukup bahagia dengan keluarganya berkumpul dan merayakannya bersama.
Sederhana tapi sangat istimewa.
Ira menghapus air matanya lalu menatap pada Tiara dan Galen ia hampir lupa jika dirumahnya ada orang lain.
"Akh maafkan Ira kak, kenapa jadi drama Indosiar gini," ucapnya terkekeh mengubah suasana kesedihan dengan lelucon recehnya.
Galen mentap Ira intens semakin hari semakin mengenalnya ia semakin tertarik dengan Ira sifat nya penuh teka teki tidak pernah bisa ditebak dia sangat beda dengan semua orang.
"Ma, kak, ayo kita masak aku sudah tidak sabar bertempur dengan dapur!" semangat Ira, mereka semua mengganguk mereka lebih suka Ira yang seperti ini ketimbang Ira yang bersedih seperti tadi.
Kadang jutek, kadang ceria, kadang manja, dan tadi dia menangis karna papanya, sungguh gadis yang luar biasa, batin Galen.
Mereka semua sudah siap di dapur Ira ingin mengadakan lomba memasak dua musuh dua dan mamanya yang akan menjadi juri. Ira berpasangan dengan Angga sedangkan Tiara dengan Galen.
"Kalian semua siap?" tanya Amira dengan semangat 45.
"Siap!" ucap mereka kompak, dan mulailah lombanya Ira sangat fokus dengan masakannya dan juga Tiara ia juga sama fokusnya seperti ira. Karna peserta nya sama-sama pintar memasak membuat sang juri tidak takut keracunan. Wkwk
Angga dan Galen hanya sebagai asisten mereka hanya disuruh ambil ini itu terkadang juga salah Galen disuruh Tiara mengambil gula eh malah diambilin garam astaga untung saja Tiara sangat jeli jadi ia memastikannya terlebih dahulu jika tidak masakan nya akan rusak karna ulah adiknya.
Angga pun sama dia disuruh mengambilkan merica malah diambilkan ketumbar, dasar para pria bisanya hanya makan saja!
Selesai bergelut dengan dapur sekitar satu jam akhirnya masakan dua tim selesai juga. Ira memasak cah kangkung dengan lauk tempe dan ayam tepung sedangkan Tiara memasak sayur bayam lauk tempe dan ikan gurami tak lupa juga sambal dulitnya.
Mereka membawanya pada Amira yang berperan menjadi juri. Amira duduk dimeja makan dengan anggun ia berperan sebagai juri sangatlah baik untuk menilai masakan Tiara dan Ira.
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen and votenya😚❤️