
"Karnaa?" tanya Ira penasaran karna kakak nya ini tidak segera melanjutkan ucapannya.
"Karnaaa?" balas Angga menggoda adiknya.
Ira yang merasa bahwa abangnya ini sedang mempermainkannya, pun langsung memukulinya dengan bantal sofa.
"Abang kau ini senang sekali membuatku kesal!" balas Ira masih tetap memukulkan bantal ke arah Angga.
"Kau tau ini tidak seberapa dengan kelakuan teman-teman kamu yang sinting itu," ujarnya sekarang ganti Angga yang kesal saat mengingat dirinya yang dikerjai habis-habisan oleh bocah-bocah tadi.
"Kenapa dengan temanku?" tanya Ira penasaran ia tau betul jika abangnya ini tidak emosian jika ia sampai seperti ini itu artinya mereka sudah keterlaluan.
"Kau tau tadi saat teman sintingmu itu mempersiapkan kejutan untukmu, aku yang lagi tidur disofa ruang tamu dikejutkan oleh Nara dengan tutup panci sehingga aku terkejut dan terjatuh dari sofa badanku rasanya remuk semua dan dia bukannya minta maaf malah ngomel nggak jelas kayak mak-mak, temanmu satunya lagi Amel dia malah meneriakiku selingkuh, selingkuh palanya orang aku bukan pacarnya, dan lagi yang membuatku bertambah kesal teman mu yang berhijab itu mengataiku tua!" jelas Angga dengan wajah kesalnya sedangkan Ira tertawa terpingkal sampai air matanya keluar sangkin kerasnya ia tertawa.
"Kenapa kau malah tertawa menjengkelkan seperti itu!" ucap Angga semakin kesal dengan tawa adiknya itu.
"Apa yang salah dari ucapan temanku Abang?" tanya Ira dengan tawa kecil.
"Apa yang salah kau bilang? pertama Nara telah menganggu tidurku dan membuat pinggangku sakit, kedua Amel menuduhku dengan hal yang tidak masuk akal, dan ketiga Zura mengatai wajah tampanku ini tua!" jelasnya.
"Pertama apa yang dilakukan Nara itu benar karna seharusnya Abang itu membantu mereka bukan malah tidur, dan kedua Amel mengatakan seperti itu hanya bercanda Abang kan tau Amel kayak apa, dan ketiga Zura bilang seperti itu memang benar kalau Abang ini sudah tua, bang Angga nggak ingat umur sih!" ledeknya.
"Kau ini sama saja seperti mereka," kesal Angga semakin bertambah karna ucapan Ira. "Bang Abang udah umur 27 tahun seharusnya Abang udah nikah orang seumuran abang aja udah pada nikah ada juga yang udah punya anak," ucap Ira.
"Kau pikir nikah itu gampang, nikah itu bukan soal umur tapi soal persiapannya dia udah siap belum membimbing keluarganya kelak, bukan asal nikah saja," tuturnya.
"Wah abangku ini tegas sekali!" puji Ira.
"Lalu kapan kau siap menikah bang, Abang gak mau dibilang perjaka tua kan," ledek Ira lagi.
"Kenapa kau jadi menjengkelkan seperti mereka, kau tadi memujiku sekarang meledekku. Kembalilah ke kamarmu kau hanya membuatku kesal saja," usir Angga.
"Abang mengusirku." Ira berpura-pura memasang wajah sedih.
"Ya aku mengusirmu, pergilah ke kamarmu!" usir Angga sembari mendorong tubuh Ira keluar.
Ira yang sudah berada di kamarnya pun termenung ada sesuatu yang mengganjal. Ya ia baru ingat jika tujuan nya ke kamar Angga tadi ialah untuk menanyakan keberadaan kakak ipar tersayang nya.
"Ada apa bang Angga dengan kak Tiara apa mereka ada masalah tadi bang Angga juga mengalihkan arah pembicaraan," pikir Ira.
Ira membolak-balikan buku bacaannya benar matanya melihat kearah buku tapi pikirannya melayang entah kemana.
__ADS_1
"Gue harus tanya bang Angga, kalau gini terus yang ada gue yang gak konsen," gumam Ira.
Ira berjalan kearah kamar Angga menggetuk pintu kamar Angga berulang kali.
Tok tok tok
"Siapa?" tanya Angga dari luar. Tapi Ira bukan menjawab malah mempercepat ketukan pintunya membuat sang pemilik kamar marah.
"Siapa sih ngetuk pintu nggak ada akhlak!" gerutu Angga.
Setelah pintu terbuka Ira langsung menerobos masuk kedalam membuat Angga melangkah mundur.
"Eh Kunti masuk," celetuk Angga yang langsung dapat pukulan keras dari Ira. "Kunti, Kunti!" ucap Ira kesal.
"Eh kenapa suara kunti nya kayak adik gue ya, apa ini duplikatnya," gumamnya lagi masih belum membuka mata.
Ira yang kesal dengan ucapan Angga langsung berteriak tepat ditelinga Angga. "Abang ini Ira adik Abang bukan Kunti!" teriaknya dengan penekanan disetiap kata.
"Ira!" teriak Angga ia mengusap telinganya yang pengang karna teriakan Ira tadi. "kau itu kenapa kembali lagi, kau kan tadi sudah ku usir pake nyamar jadi mbk Kunti lagi!" ucap Angga.
"Siapa yang nyamar orang bang Angga sendiri yang manggil aku kunti," belanya.
"Ya ya terserah kau sajalah," pasrah Angga.
"Abang jawab pertanyaan ku dan jangan mengalihkan pembicaraan jika Abang gak mau bikin aku mati penasaran," ucap Ira dengan suara yang tegas.
"Sembarang kau ini kenapa kau bicara mati mati segala," ucap Angga.
"Untuk mengancam Abang agar jujur!" balas nya.
"Baiklah apa yang ingin kau ketahui? apa tentang kakak ipar tersayang mu itu?" tanya Angga tepat sasaran.
"Ya, apa kau membuat kakak ku sedih?" tanya Ira dengan tatapan tajamnya.
"Hei! kakak mu itu aku," balas Angga tak terima.
"Ishh, sudahlah jangan bahas itu sekarang katakan dimana kakak ku?" tanya Ira kesekian kalinya.
"Kakak tersayang mu itu sedang belajar di luar negri," balas Angga cuek.
"Luar negri? apa kak Tiara tetap lanjutin kuliahnya di luar negri, bukankah kakak waktu itu sudah melarangnya?" tanya Ira penasaran.
__ADS_1
"Ya, aku sudah melarangnya tapi kau kan tau kalau kakak tersayang mu itu pintar mencari alasan dan Sangat keras kepala seperti dirimu!" kesal Angga.
"Tapi apa masalahnya bang, lagian kak Tiara ke luar negri untuk belajar bukan untuk mencari pengganti mu," ucap Ira santai tak taukah jika tatapan tajam Angga tengah melayang ke arahnya.
"Kau ini! tentu saja dia kesana untuk belajar!" balasnya.
"Lalu?"
"Kau tak akan mengerti rasanya LDR karna kau tak mengalaminya, saat kau mengalaminya nanti kau pasti akan merasakan apa yang aku rasakan," ucapnya.
"Ya ya, cinta membuat orang hilang akal dan you kakak ku tersayang terlalu posesif and bucin," sindir Ira.
"Kau ini tak tau apa-apa jadi diamlah saat kau merasakan nya nanti menangis lah kau setiap hari."
"Kenapa aku harus menangis?" tanyanya.
"Seperti kata dilan rindu itu berat kamu nggak akan kuat," ucap Angga menirukan ucapan dilan.
"Cih."
"Kau jangan seperti itu karna kau belum merasakannya," balas Angga.
"Lalu Abang dan kak Tiara berhubungan lewat telepon saja?"
"Ya."
"Baiklah aku minta nomer kakak tersayang ku biarkan aku menghubunginya nanti dan memintanya kembali untuk menemui abang ku yang tampan ini," balasnya.
"Kau jangan menggangu dia," ucap Angga.
"Aku tidak menggangu nya, kenapa Abang posesif sekali!" cibir Ira kesal.
"Bomat, wekk!" ledek Angga.
.
Tiara nya Galen sama Tiara nya Angga sama nggak sih?? penasaran nggak?? Kalau penasaran vote yang banyak biar aku rajin up dan jangan lupa like sama komennya...
Jangan lupa baca: -jalan Hijrahku-
-Menikahi Presdir yang kejam-
__ADS_1
Follow intagram penulis: Nabilaputrii 36_