
Sudah dua hari ini mereka belajar bersama di rumah Ira dan sekarang gantian mereka belajar dirumah Galen. Selesai bel pulang sekolah berbunyi, seperti Galen biasanya ira langsung ganti pakaian dikamar mandi bersama dengan Amel ia tidak mau jika kesana sendiri karna itu ia mengajak Amel bersamanya.
Karna hari ini Ira tidak membawa mobil jadi mereka nebeng mobil Galen kesananya. Ira dan Amel masuk dibangku penumpang sedangkan Galen yang menyetir. "Lo pikir gue supir Lo!" ucap Galen datar.
"Emang kak Noah gak ikut?" tanya Amel.
"Dia udah pulang entar nyusul kesana," ucap Galen.
"Yaudah Ir Lo aja yang didepan." Amel menyenggol lengan Ira agar dia keluar dan pindah duduk didepan.
"Gak mau!" ucap Ira kukuh masih duduk disamping Amel.
"Yasudah Lo aja yang nyetir biar gue yang duduk dibelakang!" ketus Galen.
"Oke, Lo pindah! biar gue yang nyetir!" ucap Ira dengan senang hati, Galen menatap remeh ke arah Ira, mungkin Galen melupakan skill Ira dalam mengendarai mobil!
Galen pindah duduk dikursi samping Ira bukan dikursi belakang samping Amel. "Lo ngapain duduk disini, belakang sana!" usir Ira.
"Ini mobil gue, suka-suka gue lha mau duduk dimana." Galen berucap dengan wajah songgong membuat Ira mendelik kesal.
Ira tidak menjawab ia memasang sabuk pengaman dan bersiap menancap gas. Amel juga langsung memasang sabuk pengaman karna tau kalau Ira pasti akan menggila saat menyetir mobil.
Tanpa aba-aba Ira langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal dan berbelok-belok menghindari pengguna jalan lainnya. Galen yang melihatnya dibuat panik takutnya jika Ira menabrak dan membuat mobil kesayangannya ini rusak.
"Ira Lo gila!" teriak Galen emosi.
"Kurangi kecepatan Lo monyet! ini jalan bukan jalan sepi!" sambung Galen marah.
"Udah Lo diem aja! gue gak bakal nabrak kok, walaupun nabrak palingan langsung masuk!"
"Masuk apa maksud Lo!" ucap Galen tak santai.
"Masuk kuburan!"
"Lo kalau mau mati, mati aja sendiri gak usah ajak-ajak gue! dasar cewek stres!"
"Bacot banget sih Lo! Lo tau gak nyetir mobil dengan kecepatan max itu, serunya gak ketulung, dari pada Lo cowok mental tempe! nyetir kek siput! Lambat?!" sarkas Ira.
"Bacot, cepet turun biar gue yang nyetir! Lo nyetir gak ngotak! selamat nggak mati Iya!"
"Lo diem! cerewet amat kek emak-emak!" kesal Ira.
Sedangkan Amel memilih diam jujur ia sangat takut, pertama kali ia dibonceng Ira saat ia ikut les privat hari pertama dirumah Ira waktu itu, saat turun biyuh kepala Amel dibuat melayang ia langsung berlari ke kamar mandi Ira dan memuntahkan isi perutnya. Dan sekarang ia harus terjebak kembali dengan sopir cantik tanpa otak didepannya ini.
Saat ini saja perut Amel rasanya seperti diaduk dan siap ia muntah kan. Tapi masih ia tahan ia selalu menggerutu karna jarak rumah Galen yang cukup jauh.
"Ira berhenti, gue mau muntah!" teriak Amel refleks membuat Ira langsung mengerem mendadak membuat Amel muntah dimobil dan tak sedikit muntahannya menciprat ke arah depan Ira dan Galen pun turun terkena, dan yang terparah ialah kaca mobil Galen yang nampak seperti... Ah begitulah menjijikan muntahan Amel menempel jelas disana.
"Amel!" teriak Ira dan Galen.
Tapi Amel memilih mengabaikan teriakan mereka ia memilih keluar dan memuntahkan sisa-sisa ampas itu!
Ira dan Galen juga keluar karna jijik dengan muntahan Amel yang baunya nauzubillah. Ira dan Galen sampai menutup hidungnya, lantaran baunya yang membuat perut Ira ikut mual saja. Tapi ia masih bisa menahannya sedangkan Galen ia sudah memuntahkan isi perutnya, karna ia orangnya jijikan dan melihat hal tadi membuatnya tertular mabuk.
Emang dasar Ira gila. gerutu Galen sedari tadi sebenarnya Galen tidak mabukan hanya saja ia melihat muntah Amel yang membuatnya ikut mual, sedangkan Amel ia masih terus mual.
Ira membantu Amel dengan memijit tengkuknya agar meredakan mualnya untung saja tadi Ira membawa minyak kayu putih setelah ia mengoleskannya diperut dan menghirup aromanya ia mengoleskan ditengkuk Amel juga lalu ia menyuruh Amel menghirup aroma minyak kayu putih itu.
Setelahnya Amel merasa sudah enakan sekarang ganti Galen ia masih merasa mual tapi tidak bisa ia keluarkan rasanya tercekat di tenggorokan, Ira yang melihatnya merasa bersalah ia membantu Galen seperti ia membantu Amel tadi mengoleskan minyak kayu putih pada tengkuk Galen dan memijitnya lalu menyuruh Galen menghirup aroma minyak itu.
"Maaf," ucap Ira merasa bersalah, Galen melihatnya dengan tatapan tajam karna baru kali ini ia mabuk perjalanan apalagi ini jalan kerumahnya sendiri yang tidaklah jauh jika orang melihat pasti mereka mengatakan jika ia kampungan.
Amel yang baru mabuk saja sudah fit kembali seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan sudah seperti buruang beo yang sedari tadi memarahi Ira karnanya dirinya mabuk seperti tadi.
"Terus ini kita gimana kesananya masak mau naik mobil itu lagi?"
"Nggak!" ucap Ira dan Galen bersamaan. Mereka bahkan masih ingat dengan jelas aromanya tadi dan baru teringat jika bajunya tadi juga terciprat Ira membau bau badannya dan langsung menutup hidungnya karna baunya sangat menyengat begitu juga dengan Galen.
Ira langsung membuka ponselnya ia berniat memesan taksi online, dan Lima menit kemudian taksi itupun tiba.
"Dengan nona Ira," ucap sopir itu.
"Iya." ia pun langsung duduk di kursi penumpang disusul dengan Galen yang duduk disamping sopir.
Sesampainya dirumah Galen mereka semua turun sedangkan Ira ia masih tetap didalam.
"Lo gak turun?" tanya Galen.
__ADS_1
"Gue pulang dulu ganti baju entar baru nyusul kesini." saat Galen ingin menjawab pintu rumahnya terbuka dan melihatkan wanita paru baya yang masih tetap cantik itu yaitu Vina mama Galen.
"Loh Ira kamu kok gak turun?" tanya Vina ia menghampiri mereka yang masih berdiam didepan rumah. Ira turun dari mobil menyalami tangan vina. "Ehm Ira mau pulang dulu tante, mau ganti baju tadi ada insiden dijalan," ucapnya.
Amel yang melihat Ira turun juga ikut turun dan menyalami tangan mama Galen.
"Kenapa pulang, entar lama lagi dong belajarnya sedangkan gurunya udah nungu dari tadi gak enak entar kalau nunggu lama-lama," balas mama Galen lembut dengan memegang lengan Ira mengajaknya masuk.
"Tapi Tante baju Ira sama Amel baunya gak enak," cegahnya.
"Kalau masalah baju kamu sama teman kamu bisa pakai baju anak pertama Tante," ucap Vina menggiring mereka berdua masuk.
.
"Ini kamar anak Tante kamu boleh pilih baju yang kamu suka," ucap Vina saat mereka tiba di kamar dengan nuansa biru muda itu.
"Tapi Tante--"
"Udah gak ada tapi-tapian!"
"Tante ehm apa ada kamar mandi lagi?" tanya Amel.
"Oh ya kamu bisa mandi dikamar sebelah," balas Vina ramah.
Setelah Vina pergi Ira dan Amel langsung menuju lemari dan memilih baju yang sekiranya pas untuk mereka, sudah tidak ada waktu untuk melihat-lihat isi kamarnya karna gurunya sudah menunggu dibawah.
Selesai memilih Ira langsung masuk ke kamar mandi sedangkan Amel keluar mencari kamar mandi sebelah.
Selesai mandi Ira duduk dimeja rias Tiara dan mengeringkan rambutnya yang basah ira memilih celana jins panjang dan juga kaos lengan panjang milik Tiara untuk ia kenakan. Selesai ia mengeringkan rambut dan menyisirnya ia langsung keluar tanpa memoles wajahnya dan ternyata Amel juga sudah siap mereka langsung turun kebawah.
Terlihat disana sudah ada Galen dengan kaos pendek warna putih dan celana pendek selutut dengan rambutnya yang setengah basah. Sebelumnya Ira meminta maaf kepada guru lesnya yang ternyata masih muda dan juga tampan.
Karna guru lesnya sekarang adalah pilihan dari nyonya besar Abraham jadi tidak sama dengan guru les di rumah Ira waktu itu karna sebelumya mereka sudah sepakat jika gurunya tidak akan sama. Tapi yang jelas sama-sama guru profesional.
Mereka belajar seperti biasa selalu memperhatikan jika gurunya menerangkan dan akan mengerjakan dengan waktu singkat. Guru yang mengajar selalu dibuat takjub dengan kejeniusan mereka sedangkan Amel selalu saja melamun melihat ketampanan guru itu.
Noah yang baru tiba langsung duduk disebelah Galen dan seperti biasa langsung memainkan gadgetnya. Vina yang melihat keseriusan Ira dan Galen dibuat senang karna dengan begini mereka berdua pasti akan akrab dengan sendirinya.
Dan saat melihat Noah dan Amel malah sibuk sendiri-sendiri dan tidak mendengarkan pengajarannya ia langsung menemui mereka dan diikuti oleh pelayan yang membawa camilan untuk mereka.
"Eh Tante, hehe kami kan disini cuma nemenin doang gak ikut belajar," balas Noah berdiri menyalami Vina.
Ia sudah menganggap Vina sebagai mamanya sendiri begitupun Vina sudah menganggap Noah sebagai anaknya sendiri.
"Ya ikut belajar juga dong jangan nemenin doang biar kalian juga bisa meskipun gak ikut lomba," tutur Vina.
Noah dan Amel malah cengengesan membuat Vina geleng-geleng kepala. "Kalian ini dibilangin malah cengengesan," kesal Vina.
"Yasudah dimakan itu camilannya. Fero, Ira ini dimakan juga cemilannya," ucap Vina pada mereka.
"Ye anaknya sendiri malah gak ditawarin," gerutu Galen.
"Astaga kau ini, ini rumahmu sendiri jika mau tinggal ambil sajalah," ucap Vina gemas dengan anak bontotnya ini.
Galen hanya tersenyum tipis lalu mereka bercanda ria sebentar sambil memakan camilan tadi baru melanjutkan les privat nya lagi.
Hari sudah petang les privat pun juga sudah selesai Ira dan Amel pamit undur diri tapi masih tidak diperbolehkan oleh nyonya besar.
"Tante kami pamit pulang dulu," pamit Ira pada Vina.
"kenapa buru-buru sih sini aja dulu entar biar diantar Galen," cegahnya.
"Ehm, Amel entar dimarahin papanya Tan kalau pulang kemalaman," ucap Ira.
"Noah antarkan Amel pulang, saya masih ada urusan sebentar dengan Ira!" pinta Vina pada Noah.
"Amel kau mau diantar Noah kan?" tanya Vina..
"Iya Tante." akhirnya Amel pulang terlebih dulu dengan Noah sedangkan sekarang tinggal Ira, Galen dan juga Vina disini. Galen yang tadinya akan masuk pun dicegah oleh mamanya.
"Sayang kau mau kemana?" tanya Vina penuh penekanan.
"Kamar ma, Galen capek mau istirahat."
"Sini dulu mama mau ngomong!"
Apalagi ini. batin Galen
__ADS_1
Aduh kenapa gue deg-degan gini ya kayak disidang mertua aja. batin Ira.
Terpaksa Galen kembali lagi dan duduk disebelah mamanya. "Ada apasih ma?" tanyanya malas.
"Kapan kalian lomba?"
"Seminggu lagi Tante," balas Ira.
"Ehm bentar lagi ya, Ira boleh Tante minta tolong?"
"Kalau saya bisa pasti saya bantu Tante," balasnya entah kenapa Ira merasa akan ada hal buruk yang menimpanya.
"Kamu mau nggak pas aniversery Tante besok malam nyanyi duet sama Galen!" pintanya memohon Ira yang melihatnya tak tega akhirnya ia memandang Galen meminta jawaban tapi bukannya mendapat jawaban ia malah melihat wajah menjengkelkan Galen yang menyiratkan terserah dirimu.
Cih, nih cowok emang bener-bener nyebelin. batin Ira kesal.
"Ya Tan Ira mau nyanyi duet sama ku-- eh Galen," ucapnya tersenyum terpaksa.
"Tante berhubung udah mau Maghrib Ira pamit pulang dulu ya," ijinnya.
"Baiklah biar Galen yang mengantarmu."
"Aa nggak usah Tante gausah repot-repot Ira bisa naik taksi kok," tolaknya.
"Jangan ini udah hampir malam biar Galen yang ngantar kamu!" paksanya dan seperti tadi Ira tidak bisa menolak.
Galen berdiri mengambil jaket dan kunci sepeda motor CB nya karna mobilnya masih ia cucikan jadi ia akan mengenakan motor kesayangannya.
Melihat hari sudah gelap Galen mengambil dua jaket untuk dikenakan Ira juga agar ia tidak kedinginan nantinya.
Galen memberikan jaket pada Ira, "Pake!" ucap Galen datar. Ira mengernyit menatap binggung pada jaket yang disodorkan Galen padanya.
"Biar Lo gak kedinginan!" ucapnya dingin tanpa niat memakaikan jaket itu pada Ira.
Vina tersenyum melihat interaksi mereka berdua, "Ah senangnya lihat mereka akrab, calon mantuku," kekeh Vina.
Apa calon mantu?😂 Ya memang Vina sangat menyukai Ira ia ingin sekali menjadikan Ira calon menantunya.
Ira memakai jaket yang diberikan Galen tadi,Galen juga memberi nya helm tapi Ira menolak karna ia lebih suka naik motor tanpa menggunakan helm.
Galen melajukan motornya dengan kecepatan sedang Ira senang sekali bisa naik motor lagi terakhir kali ia menaiki motor saat kelas enam sd setelah itu ia tidak pernah naik motor lagi.
Ira merasa matanya sangat berat karna kelelahan sedari tadi ia belum istirahat sama sekali tanpa sadar ia melingkarkan tangan nya diperut Galen dengan sangat erat dan menyandarkan kepalanya dipunggung Galen ia merasa mendapatkan tempat tidur yang sangat nyenyak.
Galen hanya diam tidak menolak ia melihat dari spion kalau Ira tertidur.
Akhirnya mereka sampai juga Galen ingin membangunkan Ira tapi entah kenapa ia tak tega melihat Ira tidur dengan pulasnya. Tapi hari sudah malam juga ia takut jika nanti terkena fitnah.
Jadi ia membangunkan Ira perlahan. "Hey bunglon bangun udah sampe nih!" ucap Galen tak ada lembut-lembutnya.
"Bentar ma lima menit lagi," balas Ira mengingau. Galen yang mendengarnya tersenyum kecil karna tidak tega membangunkannya lagi, ia memutuskan untuk mengendong Ira masuk.
Sesampainya didalam rumah Ira ia melihat ada Amira tengah duduk diruang tamu. "Assalamualaikum Tante," sapa Galen ramah.
"Waalaikumsalam, nak galen Ira kenapa?" tanya Amira khawatir.
"Ira nggak papa Tante ia cuma ketiduran aja, waktu saya ngantar dia pulang," jelas Galen.
"Anak ini! maaf ya nak Ira jadi nyusahin kamu!" ucap Amira tak enak.
"Nggak papa Tante, kalau boleh tau. kamar Ira dimana ya Tan?" tanyanya karna merasa kebas pada tangannya, ternyata Ira berat juga.
Amira menunjukkan kamar Ira dan Galen berjalan sesuai instruksi Ira setelah sampai ia menidurkan Ira perlahan dikasurnya lalu menyelimutinya, ia melihat kamar Ira yang sangat tapi dan banyak foto-foto masa kecilnya yang membawa piala bersama Angga Ira tersenyum dengan sangat manis dan sangat bahagia beda dengan sekarang yang berwajah jutek dan menyebalkan dan juga ada fotonya dengan baju pecak silat ada juga piagam penghargaan Ira saat menang juara pencak silat seprovinsi, Galen dibuat takjub dengan Ira.
"Dia sudah pintar dari kecil," pujinya. Selesai melihat-lihat Galen pun segera pulang dari rumah Ira.
.
Seperti biasa jangan lupa like komen and vote tas. Dukung aku selalu kawan😍dan jangan lupa baca....
-Jalan Hijrahku-
--Menikahi presdir yang kejam-
Follow ig penulis: Nabilaputrii 36_
Thanks You readrs ❤️
__ADS_1