Ketos Galak Itu Pacarku

Ketos Galak Itu Pacarku
Kartu As


__ADS_3

Amira mulai mencicipi masakan Tiara terlebih dahulu ia mencicipi sayur bayam yang terlihat segar itu. Amira mencicipinya sesendok dan langsung menyemburkannya.


"Astaga ini sayur apa manisan kenapa manis sekali?" ucapnya. Tiara langsung mencicipinya dan langsung menyemburkannya karna ucapan Amira benar sayur bayamnya sangatlah manis.


Tiara menatap tajam pada adiknya. "Kau menghancurkan masakan ku Galen!" geramnya. Tadi ia sangat terburu-buru karna waktunya hampir habis, jadi ia menyuruh Galen menaburkan sedikit gula pada masakannya eh malah dibuat manis.


"95." Nilai Amira pada masakan Tiara sekarang gantian ia mencicipi masakan putrinya.mencicipi sayur kangkungnya terlebih dulu dan langsung memuntahkannya. "Kenapa pedas sekali dan pedasnya bukan pedas Lombok tapi pedas merica!" nilai Amira.


Ira berkacak pinggang menatap kesal pada Abangnya. "Bukankah tadi aku sudah bilang mericanya sedikit saja kenapa abang kasih sangat banyak!" kesalnya.


"Itu cuma sedikit Ira cuma sesendok," ucap nya tanpa dosa membuat Ira menggeram kesal.


"95." penilaian Tiara dan Ira sama karna mereka hanya kurang pada sayur saja karna ada campuran tangan dua pria itu membuat masakannya hancur.


Selesai acara masak-memasak itu mereka semua berkumpul diruang tamu untuk bercerita perihal keseharian Tiara di luar negri.


Dret dret dret


Ponsel Tiara berdering tertera nama momsky pada telpon itu Tiara langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum ma," sapanya.


"Waalaikumsalam sayang, dimana adik tampanmu?" ucap Vina dari sana.


"Hai ma," ucap Galen saat Tiara sudah mengalihkan kameranya padanya, disana Vina dalat melihat Ira yang duduk ya tidak jauh dari Galen.


"Hai Ira apa kau disana?"


"Ah Tante assalamualaikum, Ira ada disini," ucap Ira tersenyum.


"Wah kalian pada dimana nih?"


"Ini lagi rumah Ira habis lomba masak," ucap Tiara Galen hanya diam karna kesal pada mamanya, tadi mencarinya saat melihat Ira ia langsung diabaikan begitu saja.


"Lomba masak siapa yang menang?"


"Tak ada yang menang karna para pria ini (tunjuknya pada Galen dan Angga) mereka menghancurkan masakan kami!" adu Tiara.


"Astaga lagian kenapa kau mengajak Galen kau kan tahu jika dia sangatlah tidak bisa berhadapan dengan dapur karna dia itu biasanya memakan dan memperotes masakan orang saja," ucap Vina dari sana dengan tawa kecil.


Mereka disini juga iku tertawa sedangkan Galen hanya memutar bola matanya malas, selalu saja dia yang jadi bahan leluconan.


"Sayang sudah dulu ya nanti mama telpon lagi salam buat semua orang, wassalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati disana ma dan cepatlah pulang."


.

__ADS_1


.


.


Hari sudah sore Galen dan Tiara pun sudah pulang Ira menatap langit-langit kamar nya ia menatapnya dengan tatapan kosong benar matanya melihat ke atas tapi entahlah pikirannya melayang kemana.


"Dua hari lagi hari guru enaknya ngasih apa ya," pikir Ira karna semua temannya menyerahkan persiapan hari guru padanya.


"Ish, kenapa gue yang puyeng sedangkan mereka enak-enakan!" gerutu ira lalu ia mengambil gadgetnya dan mulai berseluncur ke Mbah googel meminta bantuan perihal hari guru tadi.


Ira melihat-lihat isi pencariannya tadi dan ia tertarik pada tulisan dibawahnya merayakan hari guru dengan memberi bunga terlihat pasaran sih tapi ia punya cara yang beda.


Ira berpikir jika setiap anak dikelasnya akan membawa satu bunga mawar dan setiap anak nanti akan memberikannya pada pak Harry selaku wali kelasnya.


Dan ya sebelumnya mereka akan memasak tumpeng yang dihias semenarik mungkin dan untuk kue nya Ira akan pesan pada tantenya yang kebetulan tukang roti.


"Besok gue akan diskusikan ini sama temen-temen mereka setuju apa nggak." selesai memikirkan itu Ira mengistirahatkan badannya yang terasa pegal-pegal itu.


Keesokan paginya Ira sudah siap dia menuju ruang makan dan hanya menemukan mama nya saja biasanya Abang tampannya itu selalu ada disana sebelum dia.


"Pagi ma, bang Angga kemana?"


"Oh abangmu udah berangkat karna ada meeting pagi katanya," ucapnya lalu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ira makan.


Selesai makan Ira langsung berpamitan dan melajukan mobilnya menuju sekolahan, dijalan Ira melihat mobil Galen berhenti Ira juga ikut berhenti didepannya lalu ia turun untuk melihat Galen.


"Kenapa mobil Lo?" tanyanya seperti biasa tetap jutek meskipun mereka akhir-akhir ini sering bersama tapi Ira masih saja tetep jutek.


"Yaudah nebeng gue aja udah siang ini," ucap Ira. Galen mengiyakan dan duduk dibangku sebelah Ira dan langsung melajukan mobilnya ia berpikir akan mengerjai Galen atau membuatnya kesal dengan melakukan mobilnya diatas rata-rata akhir-akhir ini Ira sangat senang jika Galen kesal menurutnya itu adalah hiburan tersendiri untuk nya.


Ira mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi Galen sampai berpegangan dan terus saja mengomel seperti emak-mak.


"Ira Lo jangan gila!" sentak nya.


Ira masih tetap melajukan mobilnya dan langsung mengerem mendadak saat sudah sampai diparkiran sekolah. Galen sampai memegangi jantungnya takutnya copot.


"Dasar gila!" ucap Galen lalu pergi Ira hanya tertawa kecil wajah kesal Galen sungguh menghiburnya pagi ini.


"Woi gak ngucapin makasih nih? udah ditolongin juga!" teriak Ira. Galen yang dengar tidak berniat menjawabnya karna ia benar-benar kesal pada Ira.


Ira masuk ke dalam kelas nya dan disambut sebuah senyuman dari teman-teman nya Ira sangat hafal dengan senyuman itu tentu nya mereka ingin mencontek pr nya.


"Ambil sendiri di tas!" ucap Ira lalu duduk dan menjatuhkan kepalanya dimeja sampai rambutnya yang ia gerai jatuh bergelantungan dimeja.


"Ra bangun udah ada Bu Mela tuh." Nara sedari tadi membangunkan Ira tapi Ira sangat susah dibangunkan sampai.


Brak

__ADS_1


Bu Mela memukulkan penggaris panjangnya pada meja guru membuat Ira terlonjak kaget. Rambutnya sampai menutupi seluruh wajahnya sangat menakutkan ia terlihat seperti hantu.


"Ira!" teriak Bu Mela.


"Iya Bu," ucapnya nyengir kuda lalu menyibakkan rambutnya ke belakang.


"Kamu ke ruang BP sekarang!"


"Tapi Bu---"


"Tidak ada tapi-tapian, cepat sekarang!" Ira menghela nafasnya panjang lagi-lagi pelajaran guru ini ia kena hukum.


"Selalu saja dasar guru menyebalkan!" rutuknya siapa sangka guru itu ada dibelakang Ira karna bukunya tertinggal di ruang guru jadi ia akan mengambilnya kesana eh malah denger ucapan muridnya yang mengatakannya menyebalkan.


"Siapa yang menyebalkan?" tanyanya masih tetap dibelakang Ira.


"Itu tahu guru gembrot itu yang matanya empat dialah yang menyebalkan selalu saja menghukum ku disaat pelajaran nya kalau aku jadi kepala sekolah sudah ku tendang tuh guru gembrot!" ucap Ira tanpa sadar.


Bu Mela sangat marah dengan ucapan ira. "Ira!" bentak nya.


Ira yang merasa dibentak langsung menghadap ke belakang dan terlonjak kaget saat melihat orang yang sedari tadi ia rutuki ada di belakangnya tapi ia pikir itu hanya halusinasinya karna jelas-jelas guru itu tadi ada di kelasnya.


"Bu gembrot kenapa kau seperti hantu," ucapnya tanpa sadar. Bu Mela langsung menjewer kuping Ira dan membawanya ke lapangan.


"Aduh Bu sakit Bu, ampun Bu!" ucap Ira, ia tidak kesakitan hanya saja ia sangat malu karna guru ini sengaja mempermalukan nya dengan menjewernya dengan melewatkan dia didepan kelas kakak kelas.


Dasar bu gembrot! batin Ira kesal.


Ia melihat Galen disana sedang menertawakannya dan meledeknya Ira hanya bisa memelototkan matanya karna kesal bukan hanya galen saja tapi Noah, Bella dan semua warga kelas itu juga menertawakannya gurunya pun sama membuatnya sangat kesal.


Saat mereka sudah sampai di lapangan Bu Mela langsung menyuruhnya angkat satu kaki dan menjewer kedua telinganya tak lupa dengan tulisan yang Bu mela tempel dibelakangnya, sepertinya ia benar-benar marah pada Ira.


Tulisan dibelakang Ira adalah 'Maaf atas perbuatan saya dan saya pantas dihukum' itulah tulisannya.


Nyebelin! sengaja nih guru buat gue jadi bahan ledekan mereka, batin Ira. Sumpah serapahnya tidak pernah hilang sedari tadi mulutnya sangat terampil dalam mengomel jika sudah kesal.


Tringg


Jam istirahat sudah berbunyi tapi Ira masih saja dihukum sampai ia melibat Galen mendekatinya dan merasakan firasat buruk sepertinya Galen akan membalasnya perihal tadi pagi.


Dan benar saja Galen memfoto dirinya dari depan dan belakang dia benar-benar menjengkelkan Ira menatapnya dengan tatapan tajam.


"Beraninya kau hapus foto itu kalau nggak--"


"Kalau nggak apa!" tantang Galen.


"Kau!" umpat Ira kesal. Galen hanya tersenyum penuh kemenangan karna ia sudah punya kartu As Ira yang bisa ia gunakan untuk mengancamnya jika berani mengerjainya.

__ADS_1


.


Jangan lupa like komen and votenya😚🙏


__ADS_2