
Empat bulan kemudian....
Satu Minggu lagi akan ganti tahun ajaran baru, Ira dan para sahabatnya akan naik kelas dua sedangkan Galen dan noah mereka akan naik kelas tiga.
"Nggak nyangka gue kalau bentar lagi lulusan," oceh Amel.
"Lulusan pala lu," sahut Arkan.
"Naik kelas memel bukan lulusan." Ira ikut menyahut, semenjak Nara pergi mereka jadi sangat kesepian terlebih Amel karna Nara lah orang yang suka adu mulut dengannya dan itulah yang membuat tawa mereka pecah.
Selama Empat bulan ini hubungan Ira dan Galen juga berjalan dengan baik, makin hari keromantisan pasangan itu semakin menjadi membuat para jomblo meronta iri.
Galen juga sangat posesif pada Ira begitu juga Ira ia juga sangat posesif terhadap Galen ia juga sangat cemburuan.
"Eh Ira hati-hati loh sebentar lagi kita punya adik kelas."
"Terus kenapa kalau kita punya adik kelas?"
"Dasar bodoh! Kalau kita punya adik kelas terlebih jika mereka centil-centil awas aja kalau pacar loh digebet sama mereka," hasut Amel.
"Eh lambe turah senang sekali banget sih Lo jelek-jelekin orang lain, kalau Galen sampek tahu udah habis loh digebret sama dia, kalau punya mulut tuh dijaga!" sahut Arkan.
Ira masih mencerna baik-baik ucapan Amel, memang benar sih apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Terbesit ketakutan dihati Ira ia takut jika itu semua akan terjadi ia sangat mencintai Galen ia tidak akan rela jika ada yang menggambil Galen darinya.
"Udah Ir gausah dipikirin Lo kan tahu Amel kalau ngomong suka gak dipikir, Lo percaya sama Galen kalau dia nggak akan pernah berpaling dari Lo, Lo harus yakin sama Galen jangan dengerin omongan lambe turah," ucap Arkan dengan menatap tajam kearah Amel.
"Apaan sih, ngapain mata Lo mendelik kek gitu, copot baru tahu rasa Lo, apa mau mata Lo gue ganti sama mata sapi!" ketus Amel.
Ira seketika tersenyum mendengar ocehan Amel. Dari kejauhan nampak dua cowok tampan yang sedang berjalan menghampiri meja mereka.
Dua cowok itu tak lain dan tak bukan ialah Galen dan noah. Semenjak Nara pergi Noah sekarang menjadi cowok yang sangat dingin, ia tidak lagi tersenyum ramah seperti biasanya, ucapan yang ia katakan sekarang juga sangat pedas, semua wanita yang mengejarnya langsung mundur seketika karna ucapan pedas darinya ia tidak mendekati satu wanita pun bahkan menatapnya saja tidak.
Galen sebenarnya iba dengan sahabatnya ini tapi mau bagaimana lagi setelah mendengar semua cerita dari Ira ia juga mengertikan perasaan Nara. Ia akan membiarkan waktu berjalan semestinya Galen sangat yakin jika memang sahabatnya ini berjodoh dengan Nara sejauh apapun mereka, mereka akan tetap bersama mungkin cinta mereka sedang diuji seperti cintanya dengan Ira dulu.
Galen duduk disamping Ira dan Noah duduk disamping Arkan.
"Ira apa Lo masih belum dapet kabar dari Nara?" Pertanyaan itulah yang setiap hari Noah lontarkan pada Ira. Sebenarnya Ira juga merasa kasihan pada Noah tapi ia seketika ingat dengan perasaan sahabatnya yang sering kali dibuat hancur oleh Noah mungkin dengan cara ini Noah akan merasakan apa yang selama ini Nara rasakan.
"Belum."
__ADS_1
"Kamu nggak pesen?" tanya Ira pada Galen.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Karna aku udah kenyang lihat kamu makan," gombalan Galen sungguh membuat mereka semua yang berada dimeja makan ingin muntah bagaimana bisa Mr kutub ini berlaku sangat manis seperti ini bahkan Noah tersenyum geli melihat tingkat menggelikan sahabatnya.
"Ternyata Mr kutub manis juga kalau lagi bucin kayak gini," celetuk Amel dengan tawa kecilnya. Galen seketika berdehem memasang wajah garangnya lagi.
"ke taman yuk!" ajak Ira.
"Ngapain disini aja, aku kan baru duduk." Ira memasang wajah kesalnya kenapa pacarnya ini tidak mengerti kode darinya.
"Bentar aja."
"Iya mau ngapain disini aja aku males banget buat gerak." Ira menatap memelas pada Galen ia sangat tidak senang jika keinginannya tidak dituruti. Galen pun mengiyakannya dengan terpaksa.
Sungguh menyebalkan sekali wajahnya itu suka sekali memaksa. gumam Galen.
"Ck bucin sekali kak Galen!" ledek Amel. Galen hanya menatapnya tajam membuat Amel menunduk takut.
"Tidak." Ira langsung cemberut dan memalingkan wajahnya dari Galen.
"Eh suka aku suka kok kamu mau apa ngajak aku kesini?" tanya Galen selembut mungkin menahan kekeselannya yang sedang meledak-ledak.
"Kalau nggak suka yaudah balik aja sana ke kantin!" ketus Ira.
Astaga dia ini kenapa? kenapa semenjak pacaran dia jadi ngambekan gini sih. gumam Galen
"Nggak ngapain kesana kalau tujuan aku kesana ada disini." Galen mencoba merayu hati sang pacar.
Hanya dengan sedikit rayuan Ira sudah luluh kembali. Ia mengeluarkan dua tiket nonton dari sakunya lalu memperlihatkan pada Galen dengan senyum lebar.
"Tiket nonton?"
"Iya nanti sore kita nonton yuk filmnya seru!" ajak Ira.
"Ehm tapi nanti aku ada bimbingan OSIS, gimana kalau besok aja."
__ADS_1
"Baiklah." Ira memasukkan tiket itu kembali ke sakunya nampak sekali diwajahnya jika ia sedang kecewa.
"Maaf tapi bimbingan ini nggak bisa aku tinggal aku janji akan ngajak kamu nonton besok sebagai gantinya."
"Iya, yaudah aku mau ke kelas dulu ya." Ira berlalu pergi begitu saja. Galen mengusap kasar wajahnya ia sangat bingung jika pacarnya ini dalam mode ngambek.
***
_swiss_
Empat bulan berlalu Nara menjalani hidup barunya disana, disana Nara jarang sekali keluar karna rata-rata temannya disana banyak yang pergaulan bebas, ia sangat tidak suka dengan semua itu.
Disana Nara berteman dengan satu siswi perempuan dia sangat cantik tapi sayang culun mata indahnya harus tertutup dengan kaca mata tebal dan rambutnya ia kepang dua seperti gadis kampung, tapi dia sangat pandai dia satu-satunya teman Nara namanya Aretha sezhan banafsha anak seorang konglomerat tapi ia berlagak seperti anak orang tak punya. Disana ada juga satu orang cowok dia tampan cowok blesteran Eropa, dia sangat baik pada nara.
Tapi Nara berusaha menjauh darinya karna ia ingin beristirahat ia ingin memberi jeda pada hidupnya agar tidak mengenal pria lagi selain papanya meskipun hanya sebagai teman karna ketahuilah rasa itu akan muncul melalui pertemanan.
"Nara kenapa sih tiap aku perhatiin kamu itu sering banget ngelamun," ucap Retha yang baru saja duduk disamping Nara dengan membetulkan kacamata tebalnya yang agak miring.
"Tidak apa," balas nara dengan senyuman.
"Aku kan temanmu apa kau tidak ingin berbagi cerita padaku."
"Aku---"
"Tidak apa jika kau tidak ingin aku tidak memaksa." Retha tersenyum manis pada Nara sampai memperlihatkan lesung pipinya.
"Retha Jika kau mencintai seorang pria tapi pria itu tidak mencintaimu dan karna terlalu lelah berjuang untuk mendapatkannya tapi kau tidak juga bersamanya akhirnya kau mundur kau lari darinya kau menghilang darinya tapi meskipun kau sudah menjauh darinya kau masih tetap mencintainya lalu apa yang akan kau lakukan?" Nara memejamkan matanya menahan agar tangisnya tidak pecah.
"Jujur Nar aku sampai sekarang belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta jadi aku tidak bisa memberi saran untukmu tapi aku percaya yang namanya jodoh. Kalau kamu emang ditakdirkan berjodoh dengannya pasti kalian akan bersatu meskipun banyak rintangan yang harus kamu lewati sama dia, yang terpenting kamu jangan pernah lari dari masalah karna dengan kamu lari itu nggak akan bisa memperbaiki semuanya kamu harus hadapi itu semua, aku tahu kalau kamu perempuan yang kuat dan kalau kamu emang benar-benar capek kamu benar-benar udah nggak sanggup untuk merjuangin dia lagi kamu ngomong sama dia kamu jujur sama dia kalah kamu suka sama dia masalah dia nerima atau enggaknya dirimu itu masalah akhir yang terpenting kamu udah ngeluarin beban berat dihati kamu saumpama dia nggak Nerima kamu yaudah kamu mundur kamu harus yakin kalau didunia ini cowok nggak cuma dia aja dan kamu pasti akan nemuiin cowok yang lebih segalanya dari dia."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kalau saran aku kamu tenangin diri kamu dulu kamu persiapin diri kamu hati kamu kamu harus bisa Nerima semua jawaban darinya kamu harus menerimanya dengan lapang dada percayalah dengan pepatah mati satu tumbuh seribu dan juga pada Allah karna Allah sudah menuliskan jodoh mati dan rezeki sebelum kamu dilahirkan di dunia."
Nara tersenyum beban hatinya sedikit berkurang Setelah bercerita pada retha.
"Makasih Tha Lo udah kasih saran yang ampuh buat gue semoga aja gue bisa secepatnya nyelesein masalah hati gue." Nara memeluk Retha dengan erat ia merasakan Retha seperti Ira yang selalu memberinya saran yang bisa menenangkan hatinya yang sedang morat-marit ini.
seperti biasa selesai baca Jan lupa like komen sama votenya😚💓salangeyo😆
__ADS_1