
Nara duduk termenung dibalkon kamarnya ia menatap kosong buku diarynya. Ada sesuatu yang ingin ia tuliskan pada buku itu tapi binggung darimana ia menuliskannya terlalu banyak beban yang bersarang di kepala dan hatinya ia ingin berbagi dengan buku diarynya ini.
For you, I was a chapter. For me, you were the book. ( Untukmu, aku hanyalah sebuah bab dari buku. Dan untukku, kamu adalah sebuah buku.)
Entahlah aku tidak tahu apakah aku bodoh atau apa, ya mungkin saja aku bodoh sangat bodoh kebodohan ku adalah aku yang terlalu mencintai dan mengharapkan laki-laki sempurna sepertimu aku sungguh tidak sadar diri bagaimana mungkin diriku yang hanya serpihan debu ini mencintai engkau. Ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.
Maaf jika aku terlalu percaya diri, sungguh jika aku bisa mengendalikan hatiku bisa memerintah hatiku agar tidak berlabuh pada hatimu mungkin aku sudah memberhentikannya aku akan memilih berlabuh pada seseorang.
Seseorang yang bisa membuatku tersenyum yang bisa memberikan ku kebahagiaan bukan kesedihan dan penderitaan seperti ini.
Aku akan tetap menyebut namamu didalam doaku aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu semoga kita dipertemukan kembali tidak untuk saling mencintai tapi saling menyayangi sebagai _teman_
Lagi-lagi setiap Nara menulis, air matanya selalu saja ikut merembes keluar sebegitu sakitnya kah luka yang diberikan Noah padanya. Terlalu baik engkau mendoakan kebahagiaan seseorang yang telah memberikan kesedihan padamu.
Tok Tok Tok
"Nara." Matta mengetuk pintu kamar Nara, sesegera mungkin Nara menghapus air matanya dan mencoba tersenyum menutupi kesedihannya.
"Iya ma, ada apa?" tanyanya setelah pintu terbuka.
"Diluar ada temanmu sayang, cepat turunlah," ucap Matta. Nara sudah bisa menebak jika itu Aretha karna hanya dialah teman satu-satunya yang ia punya disini.
Nara turun kebawah dan seperti dugaannya jika Aretha lah yang bertamu ke rumahnya. "Hai Tha ada apa?" tanyanya.
"Hai Nar gue suntuk banget dirumah jalan yuk," ajaknya. Sebenarnya Nara malas sekali keluar rumah selama empat bulan tinggal di Swiss Nara belum sama sekali berkeliling padahal dulu Nara senang sekali jika jalan-jalan setiap akhir pekan ia akan pergi jalan-jalan dengan Ira mengunjungi tempat-tempat yang unik.
Tapi sekarang di Swiss ia malah lebih sering mengurung diri dikamar. "Ayolah Nar aku ingin membawamu pergi cari angin dan nanti kita mampir ke restoran keluarga aku dan kau bisa makan gratis disana," bujuknya.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan ganti pakaian dulu." Nara beranjak berdiri mungkin dengan cari angin ini bebannya akan sedikit berkurang.
__ADS_1
15 menit kemudian Nara telah siap untuk pergi mereka berdua berpamitan pada kedua orang tua Nara dan berlalu pergi dengan menggunakan sepedah pancal karna mereka akan jalan-jalan dekat sini saja dan restoran keluarga Retha juga tidak jauh dari rumah Nara berada.
Nara dan Retha mengkayuh sepedanya dengan menghirup angin sore yang sangat segar ini.
"Dunia sangat indah Nar kenapa kau malah menghabiskan harimu berada dikamar dan menangisi pria buta itu," ucap Retha.
Setelah Retha mendengar semua cerita Noah dari Nara, Retha sangat kesal bagaimana mungkin cewek secantik dan sebaik Nara dipermainkan seperti itu tidak sepantasnya Nara diabaikan seperti itu tapi jika itu dirinya Retha sangat tahu dan sangat sadar diri memang siapa yang mau dengan dirinya si kaca mata tebal dan rambut kepang ini.
Tapi jika cewek secantik dan sebaik Nara diabaikan mungkin cowok itu memang buta maka dari itu Retha menamai Noah cowok buta bahkan ia sangat tidak menyukai jika temannya ini bersedih karna memikirkan cowok buta itu.
Belum tahu aja sih Retha gantengnya Noah kayak apa?
"Nara. A heartbreak is a blessing from God. It's just his way of letting you realize He saved you from the wrong one."
"Ya kau benar Tha mungkin dengan cara patah hati ini Allah memperingatkan gue kalau Noah bukan yang terbaik buat gue," ucap Nara. Mereka berdua beristirahat sejenak dibangku taman sekitar situ.
"Ya gue percaya dengan itu semua, gue cuma butuh waktu buat ngelupain dia gue butuh waktu buat bener-bener ngelepas dia dari hidup gue."
"Hem inilah yang namanya cinta Nar jika kau sudah memutuskan untuk mengenal cinta jadi kau harus menyiapkan terlebih dulu hati mu untuk kebahagiaan yang tiada tara atau sebaliknya patah hati, kesedihan dan penderitaan."
***
Sedangkan disana Galen baru saja mengantar Ira pulang ia belum balik sebelum melihat Ira benar-benar masuk kedalam rumah.
"Masuklah aku akan pulang setelah melihatmu masuk kedalam," ucap Galen.
"Kau saja duluan aku akan masuk jika kau sudah pulang," bantah Ira.
"Masuk sekarang atau aku akan menggendongmu kedalam," ancam Galen dengan mata menajam tidak ada pilihan lain selain mengancam untuk menghadapi sifat keras kepala Ira.
__ADS_1
"Issh selalu saja mengancam," ucap Ira dengan bibir mengerucut kesal. Galen malah semakin gemas ia turun dari mobilnya mengusap pucuk kepala Ira.
"Ira masuklah! angin malam sangat tidak baik untukmu, aku akan pulang saat kau sudah masuk kedalam," ucapnya dengan suara lembut membuat Ira langsung menurut dan masuk kedalam rumah, sebelumnya Galen mengecup singkat pucuk kepalanya membuat wajah Ira bersemu.
Setelah dirasa Ira telah masuk ia langsung menyalakan mesinnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Ira yang baru masuk kamarnya langsung merebahkan tubuhnya diranjang dengan tas dan sepatu yang belum terlepas, senyumnya masih belum surut ia selalu bahagia setiap Galen memberinya perhatian kecil atau ucapan yang lembut dia sangat senang.
Ya sangat sederhana kebahagiaannya, tidak hanya dirinya tapi semua orang akan sangat bahagia dengan kelakuan sederhana dari kekasihnya.
"Galen aku mencintaimu sangat mencintaimu disetiap doaku aku selalu menyebut namamu aku meminta pada Tuhan agar aku diperjodohkan dengan dirimu, I love you my lovely my galen," gumam Ira lirih.
Galen yang baru sampai langsung masuk kedalam kamarnya sama seperti Ira ia langsung merebahkan tubuhnya diranjang, hari ini dia juga sangat bahagia karna bisa menebus kekecewaan pujaan hatinya kemarin dan melihat senyum bahagia pacarnya.
"Ira ku, tetaplah tersenyum seperti itu, aku mencintaimu aku juga sangat berharap jika kau lah jodohku, aku tidak tahu jika kau bukan jodohku masih ada kah cinta yang bisa aku beri pada jodohku kelak karna seluruh cintaku telah ku beriakan padamu."
Galen memejamkan padanya tiba-tiba bayangan masa lalunya dimana dia dikhianati muncul dibenak kepalanya sehingga membuat ketakutan tersendiri dihatinya ia takut kejadian itu terulang kembali ia takut disaat ia telah memberikan seluruh cintanya pada satu wanita tapi malah wanita itu menghianati dirinya.
"Aku harap kau tidak pernah mengecewakan aku Ira," gumamnya.
Sedangkan disana diruangan yang gelap dan sangat minim cahaya Noah duduk bersimpuh dengan bau alkohol dan rokok yang menyengat, ruangan itu bukanlah gudang atau kamar berhantu itu ialah kamar noah sendiri.
Kondisi Noah sangat acak-acakan terlebih ia tinggal sendiri dirumah besar itu karna orang tuanya sedang ada tugas diluar negeri tapi Noah tidak tahu dinegara mana.
Noah memegang foto seseorang dengan air mata yang mengalir matanya bengkak seperti ia telah menangis lama, itulah kegiatannya sehari-hari setelah pulang sekolah ia akan menggurung diri dikamar tanpa penerangan cahaya ia lebih suka menyendiri membuat bibi yang bekerja dirumah Noah menjadi takut.
Setiap kali bibi kesana bulu kuduknya selalu berdiri karna kamar Noah yang sangat gelap dan menyeramkan itu terlebih lagi kadang bibi mendengar Noah menangis dan berteriak seperti orang gila nama Nara yang sering disebut oleh tuan nya itu.
Bibi sangat iba melihat kondisi Noah sekarang ia segera menghubungi Galen karna yang ia tahu setiap Noah ada masalah Galen akan selalu membantunya.
__ADS_1