
"Yang meninggal cowok apa cewek dok?" tanya Angga terbata ia tidak akan kuat jika yang meninggal adalah adiknya.
"Cowok."
Deg
Detak jantung Tiara seakan berhenti berdetak begitupun dengan yang lain disatu sisi mereka senang jika Ira masih hidup tapi disisi yang lain Galen...
"Nggak, gak mungkin!" teriak Tiara histeris. Angga pun langsung Gak usah merasa paling menderita hanya karena perkara cinta.
Tengok orang tuamu, mereka jauh lebih menderita dengan segala beban kehidupan yang kamu gak tau.
"Sayang kamu harus kuat! jangan seperti ini kasihan orang tuamu!" ucap Angga. "Dok bolehkah saya bertemu dengan jenazah nya?"
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang mayat," balas dokter itu. "Tapi pasien lainnya juga harus segera dioperasi karna benturan yang sangat keras pada kepalanya," balas dokter itu.
"Segera lakukan operasi itu!" ucap Angga.
"Kalau begitu anda segera keruang administrasi untuk menandatangi persetujuan dan pembayarannya."
"Baik dok."
Angga membelai rambut Tiara. "Tiara aku pergi sebentar buat ngurus surat operasi Ira ya," ucap Angga pelan dan Tiara mengganguk ia juga tidak ingin Ira kenapa-napa karna dia juga sudah ia anggap adik seperti Galen.
Galen kenapa kamu tinggalin kakak secepat ini. batin Tiara
Angga menandatangani surat operasi itu tapi ada dua kertas yang ia tanda tangani. "Sus kenapa ada dua kertasnya?"
"Iya mas memang ada dua," balas suster itu. Angga terburu-buru sampai tidak membaca siapa nama orang yang dioperasi itu.
Selesai urusan itu Angga langsung berlari ke tempat keluarganya tadi. Disana ia melihat Tiara sedang menangis diatas brankar seseorang yang tidak diketahui mukanya karna masih tertutup kain putih.
Angga kesana dan mengelus punggung Tiara. "kamu harus sabar, biarkan Galen tenang disana. Kita harus ikhlas," ucap Angga tegar tidak bisa dipungkiri air matanya sudah mengenang disana sekedipan saja pasti akan terjatuh.
Hiks hiks hiks
"Maaf mbk biarkan kami mengurus jenazah bapak ini kasihan jika terlalu lama," ucap suster itu.
"Bapak?" ucap Angga membuat semua orang menatap ke arahnya. "Iya mas yang meninggal ini seorang bapak-bapak, apakah itu keluarga kalian?" suster itu juga bingung.
Angga langsung membuka kain putih itu dan benar saja yang meninggal bukanlah Galen tetapi seorang bapak-bapak membuat semua orang bernafas lega.
__ADS_1
Sepertinya itu bapak-bapak yang menyupir container karna menurut cerita bapak itu sudah bisa keluar dan sama seperti Ira dan Galen ia juga terhempas karena dentuman mobil itu.
"Bukan, ini bukan keluarga saya lalu dimana pasien cowok satunya?"
"Dua pasien lainnya sedang kritis mas dan akan disegerakan operasi bukannya masnya yang tadi tanda tangan."
"Ah iya benar saya yang mentanda tanganinya tapi saya tadi tidak membaca nya karena terburu-buru," balas Angga.
Suster itu pergi membawa mayat supir itu dan disusul brankar Ira keluar dengan luka dikepala dan bantuan selang pernafasan menempel ditubuh dan wajah nya.
Lagi-lagi aku melihatmu dalam kondisi seperti ini, kenapa kau suka sekali membuat Abang mu ini khawatir Ira, berkali-kali Abang sudah bilang padamu jangan ngebut jika mengendara kenapa kau sangat keras kepala hmm. gumam Angga dalam hati sambil mengusap rambut adiknya.
Kali ini ia tidak bisa membendung tangisnya, air matanya sudah turun saat melihat keadaan adik tersayangnya. Amira dan Hermawan juga sangat sedih mereka mengusap pipi anak bungsunya.
Hermawan yang tadinya diluar negri langsung pulang begitu mendengar kabar anak gadisnya kecelakaan ia langsung pulang dengan helikopter pribadinya.
Sayang kau harus kuat bukankah kau akan ulang tahun, papa sudah pulang kau harus bangun bukankah kau selalu menyambut papa jika papa pulang. batin Hermawan sambil membelai pipi anaknya.
Ira sayang kamu harus kuat kamu harus lawan penyakit kamu kita semua sayang sama kamu, apa kau tidak ingin merayakan ulang tahunmu yang kurang 10 hari lagi bahkan mama sudah menyiapkan kado spesial untukmu. batin Amira
Lalu brankar Ira didorong menuju ruang operasi dibelakangnya disusul Galen. Keluarganya pun memberi semangat dan melantunkan doa untuk Galen dan juga untuk Ira.
Mereka semua menunggu diruang operasi dengan sangat risau mulut mereka tak henti-hentinya berdoa untuk anak mereka yang sedang bertarung nyawa di dalam.
"Sayang tenanglah sebentar lagi mungkin akan selesai, kau harus tenang. Kita disini hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka."
"Tapi ini sudah dua jam lebih Angga." belum sempat Angga menjawab lampu operasi sudah berubah, menandakan operasi sudah selesai dan pintu pun terbuka memperlihatkan dokter yang baru keluar.
"Bagaimana dok?" tanya Tiara tidak sabaran, Dokter tersenyum. "Alhamdulillah operasi mereka berdua berjalan dengan lancar tapi--" ekspresi dokter itu menjadi datar.
"Tapi apa dok?"
"Kemungkinan mereka akan kehilangan ingatan sebagian mungkin kejadian baru-baru ini mereka tidak akan mengingatnya atau sebaliknya kejadian dimasa lalu yang tidak mereka ingat."
Keluarga yang tadinya senang pun menjadi sedih kembali mereka takut jika mereka berdua tidak akan saling mengingat lalu bagaimana jadinya? baru saja baikan.
"Tapi kami tidak tahu pasti kita tunggu sampai mereka sadar," balas dokter.
"Kapan mereka sadar dok?"
"Kemungkinan dua sampai tiga jam kedepan mereka akan siuman," balas dokter itu.
__ADS_1
Galen dan Ira sudah dipindah ke ruang rawat VIP mereka dirawat dalam satu ruangan agar memudahkan dalam menjaganya itu adalah kemauan Angga.
Tiga jam kemudian mereka menunggu diruangan Angga dan Tiara pulang untuk mengambil baju ganti semua orang.
Amira tetap setia memegang tangan anaknya mengajaknya bicara dan menciuminya begitupun hermawan ia mengelus kepala putrinya pelan dan mencium keningnya.
Vina juga menemani Galen ia terus mengenggam anak laki-laki nya ia sangat sedih karna baru kali ini melihat Galen terbaring lemah tak berdaya.
Ira mulai menggerakkan jari tangannya dan matanya perlahan terbuka kejadian kecelakaan tadi sangat jelas di ingatan nya.
"Galen," ucapnya pelan saat kesadarannya sudah kembali. Membuat semua orang senang Hermawan langsung berlari memanggil dokter.
Dokter masuk dan memeriksa keadaan Ira. "Bagaimana keadaan Puri saya dok tadi dia memanggil nama Galen bukankah kata dokter tadi Ira lupa ingatan?" tanya Amira.
"Iya Putri ibu memang lupa ingatan tapi ia lupa ingatan di kejadian masa lalu jadi ia tidak akan mengingat kejadian dimasa lalu tapi ia akan mengingat memori kejadian baru-baru ini," jelas dokter.
"Ma dimana Galen?" tanya Ira sedih.
"Sayang Galen ada disebelahmu dia belum siuman sebenarnya apa yang terjadi?"
Ira malah menangis terisak membuat Vina juga datang kearah nya meninggalkan Galen dengan Abra.
"Sayang kamu kenapa?" tanya vina.
"Tante maafkan Ira karna Ira Galen jadi seperti ini." Ira masih saja menangis. Vina mengusap air mata Ira dan mendongakkan kepalanya agar menghadap matanya.
"Dengarkan Tante, Ira nggak salah ini semua udah takdir lagian Galen juga gak kenapa-napa kata dokter sebentar lagi dia akan sadar." Vina mencoba menenangkan Ira dia juga tidak ada menyalahkan Ira akan kecelakaan ini.
"Ma Ira pingin lihat Galen," pinta Ira.
Amira menggangukan kepala memperbolehkannya lagian alat bantu Ira juga sudah di lepas oleh dokter karna kondisi Ira yang sudah membaik.
Ira duduk dikursi roda ia sedih melihat Galen seperti itu karna sifat kekanak-kanakannya tadi. Ira mengambil tangan Galen dan menciumnya air matanya sudah mengalir deras.
"Galen maafkan aku," ucap Ira sesenggukan.
Jangan lupa like komen and vote nya😚💓
Mampir juga baca novel aku yang lain...
"Jalan Hijrahku" ini juga gak kalah seru, cerita tentang islami, perjuangan seorang gadis dalam hijrahnya yang tak kenal lelah meskipun banyaknya cibiran dari orang disekitarnya.
__ADS_1
"menikahi Presdir yang kejam" ini juga gak kalah seru lho menceritakan tentang pembalasan dendam seorang tuan muda pada seorang gadis bernama key karna dituduh menabrak mama tercinta nya. Sekali lagi voteeee and likeee nya di kencengin😉
makasih😚❤️