
Galen yang baru mengistirahatkan tubuhnya langsung beranjak berdiri setelah mendengar kabar dari pembantu Noah. Ia sangat khawatir jika sahabatnya itu kenapa-napa.
20 menit kemudian Galen baru sampai dirumah Noah ia langsung menuju kamar sahabatnya karna sering kemari ia tahu dimana kamar Noah berada.
Galen terkesiap saat melihat kamar Noah yang sangat gelap dan bau alkohol dan rokok yang sangat menyengat di Indra penciumannya.
Ia langsung masuk kedalam dan menyalakan lampunya seketika kamar yang tadinya gelap gulita itu langsung terang benderang dan terlihat jelas keadaan Noah yang sangat memprihatikan itu.
"Astaga Noah, apa yang kau lakukan!" teriak Galen kesal ia langsung menyahut botol minuman itu nampak banyak sekali botol yang sudah tergeletak kosong dan juga Putung rokok yang berserak.
Galen memapah tubuh Noah agar duduk diranjang kasurnya. Ia sangat iba dengan keadaan Noah yang sangat-sangat memprihatinkan ini.
"Lo kenapa, kenapa sekarang Lo jadi kayak gini!" Galen mengusap wajahnya kasar ia benar-benar dilema akan semua ini, akankah dia memberitahu Noah kemana kepergian Nara dan memberikan alamat beserta nomornya tapi disatu sisi ia juga takut jika Ira marah padanya.
"Noah sejak kapan Lo minum-minuman seperti ini dan sejak kapak Lo ngerokok." karna sebelumnya Noah tidak pernah sekalipun menyentuh dua barang itu karna ia sangat menjaga kesehatan tubuhnya terlebih lagi orang tua Noah sangat memperhatikan pola hidup Noah.
Noah hanya diam ia tidak berniat membalas ucapan Galen hanya air mata yang menjadi jawaban jika ia sangat-sangat terluka.
"Tenanglah Noah Lo gak usah nyiksa diri kayak gini, gue janji gue bakal bantu Lo cari Nara tapi Lo stop bertindak bodoh seperti ini!" peringat Galen.
Noah seketika langsung menatap Galen ia langsung memeluk sahabatnya itu.
"Len gue pingin ketemu sama Nara gue pingin jelasin semuanya demi Tuhan gue nggak pernah sekalipun buat permainin Nara gue bener-bener suka sama dia, tapi saat gue mau ngungkapin perasaan gue ke dia, dia malah pergi ninggalin gue," ucap noah sesenggukan baru kali ini dia menangis karna wanita, ya jujur saja dia tidak pernah menangis seperti ini malah dia yang sering membuat wanita menangis karna menolak cintanya mungkinkah ini karma untuknya.
"Sekarang Lo istirahat kalau gue masih lihat Lo kayak gini gue gak akan bantu Lo cari Nara!" ancam Galen, Noah hanya mengganguk lalu ia memejamkan matanya yang sudah sangat berat ini.
Setelah Noah tidur Galen langsung pergi meninggalkan rumah besar itu sebelumnya ia berpesan pada bibi agar mengabarinya jika terjadi sesuatu pada Noah.
Galen nampak frustasi disatu sisi sahabatnya dan disisi lain sahabat pacarnya apa yang harus ia lakukan, mungkin besok dirinya akan membicarakan ini semua dengan ira.
Keesokan harinya
Noah hari ini tidak masuk sekolah karna kepalanya yang sakit akibat minuman kemarin dan ini semua kesempatan bagus untuk Galen berbicara pada Ira.
__ADS_1
Jam istirahat pertama Galen mengajak Ira duduk dikursi taman.
"Ira ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Galen masam ia binggung akan memulai ceritanya dari mana.
"Ada apa, katakan!"
"Ira bolehkan aku memberikan nomer Nara pada Noah?" tanyanya ragu-ragu.
"Tidak boleh!" sahut Ira cepat dengan wajah yang dingin. Galen seketika menelan Salivanya dengan susah baru awal saja wajah pacarnya ini sudah menyeramkan.
"Ira dengarkan aku terlebih dulu," ucap Galen sembari memegang lengan Ira agar menghadap kearahnya.
"Apa kau tahu--"
"Tidak!" sahutnya cepat. Galen menghela nafas panjang.
"Sayang dengarkan aku dulu jangan potong ucapanku!" ucap Galen lembut sembari tangannya mengusap pipi Ira.
"Noah sangat-sangat mencintai sahabatmu Nara, tolong beri dia kesempatan."
"Kemarin Noah mabuk-mabukan dia sampai menghabiskan banyak botol minuman keras dan Putung rokok juga berserak di kamarnya, Noah menggurung diri dikamar dengan keadaan kamar yang sangat gelap dia tidak memberi penerangan pada kamarnya, Noah menangis berteriak seperti orang gila sembari memandang foto dirinya dengan Nara waktu itu." Galen menghela nafas panjang ia masih iba melihat kondisi sahabatnya kemarin.
Ira terkesiap mendengar penuturan Galen ia tidak mengerti jika Noah sampai sebegitu nya. Ira masih diam dia juga kasihan pada Noah tapi dia tidak bisa memberikan nomor Nara begitu saja dia juga harus memikirkan perasaan sahabatnya.
"Aku ikut sedih mendengarnya tapi aku juga tidak bisa memberikannya begitu saja aku harus bicara terlebih dulu pada Nara kita aku juga tidak boleh egois aku juga harus memikirkan perasaan sahabatku." Ira menghela nafas panjang kenapa sekarang menjadi serumit ini.
"Baiklah aku mengerti."
"Lalu bagaimana dengan keadaan kak Noah?"
"Dia baik-baik saja aku kemarin mencoba membujuknya mengatakan jika aku akan membantu dirinya bertemu dengan Nara."
***
__ADS_1
Tak terasa hari semakin cepat berlalu hari ini adalah hari kenaikan kelas semua orang sedang menunggu dengan jantung berdegup kencang mereka sedang menanti pembagian rapot kenaikan kelas. Takut? iya mereka takut, takut jika tidak naik kelas.
"Ira gue takut, kalau gue gak naik kelas gimana?"
"Kalau Lo gak naik kelas Lo tinggal ulang sekolah kembali dan Lo bakal jadi adik kelas gue," ucap Ira santai. Amel merenggut kesal dia langsung memukul bahu Ira.
"Jahat Lo!" ucapnya sembari menggerucutkan bibirnya kesal sedangakan Arkan malah tertawa keras melihatnya membuat Amel semakin kesal.
Pak Harry terlihat masuk kedalam kelas membuat suasana kelas sepi dengan jantung mereka berdegup kencang, terlihat dari wajahnya juga sudah bisa ditebak jika mereka sedang gugup.
Keringat sudah mengucur deras di dahi Amel ia sangat takut bagaimana tidak langganan BP apa bisa naik kelas dengan tenang.
"Selamat pagi anak-anak," sapa pak Harry dengan senyuman.
"Pagi pak," balas mereka.
"Tidak terasa kalian akan segera meninggalkan kelas ini, bapak berharap kalian menjadi lebih semangat lagi belajarnya dikelas dua," ucap pak Harry, seketika kelas yang tadinya tegang sekarang menjadi haru.
"aaa bapak bikin kita terharu aja," ucap Amel sambil menarik ingusnya.
"kau itu jorok sekali," saut Arkan. Amel hanya menjulurkan lidahnya mengejek Arkan.
"sudah-sudah bapak akan segera membagikan rapot ini, saya ucapkan selamat untuk kalian yang akan tetap tinggal disini ketara sekali jika kalian sangat menyayangi saya," ucap pak Harry tersenyum tapi tidak buat mereka ketegangan kembali menyelimuti anak kelas 10 MIPA.
"selamat untuk Ira kamu mendapat juara satu dikelas ini, bapak bangga sama kamu karena dari awal sampai sekarang kamu selalu mendapatkan juara satu," ucap pak Harry.
"makasih pak," ucap Ira.
pak Harry telah membagikan rapot nya pada seluruh siswa tinggal Amel saja yang belum dapat.
"Pak rapot saya mana?" tanya Amel dengan cemas matanya sudah berkaca-kaca.
"Untuk kamu istimewa Mel, kamu kan anak BP jadi ambil rapotnya diruang BP sama mama kamu, silahkan kesana Mama kamu sudah menunggu."
__ADS_1
Amel begitu terkesiap.
"Apa gue gak naik kelas?" gumamnya dalam hati.