Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Kediaman Wijaya


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu sejak kejadian sepulang dari butik waktu itu, dimana aku harus memanggil Mr. Rese dengan kata aku, kamu bukan elo, gue seperti permintaannya.


Hari ini, hari terakhir kami ujian kenaikan kelas, dan itu berarti dua minggu lagi aku dan Ketos Rese itu akan bertunangan. Oh No!! ingin rasanya aku kabur tapi itu tidak mungkin.


Sepulang dari acara Aniversarry tuan septian dan nyonya rima sebulan yang lalu, sesampainya dirumah, aku langsung membondong ayah dan bunda dengan segala pertanyaan yang sudah bersarang dikepala ku sejak berada dipesta tadi.


"Yah,Bund"


"Masalah pertunanganan kamu sama nak Daffa kan?" Tebak ayah


"Jelaskan yah?"


"Sebenarnya, kalian memang sudah dijodohkan sejak kalian masih kecil." Aku masih menatap ayah, dengan dahi berkerut.


"Ayah dan pak septian sudah berteman dari kami masih SMA. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Seperti belajar bersama, bermain bersama. Saat ayah susah beliau selalu ada untuk membantu ayah."


"Tapi semasa Kulyah kami terpisah karena beliau melanjutkan studinya keluar negeri. Sementara ayah, melanjutkan study disini. Ditahun pertama dan kedua perkulyahan ayah masih bisa berjalan dengan baik. Tapi *ditahun ketiga, Ayah kekurangan biaya, saat itu ayah hampir dikeluarkan dari kampus karena tak mampu membayar SPP. Tapi ntah bagaimana tuan Wijaya, kakeknya Daffa datang kekampus dan membayar SPP ayah yang menunggak."


"Sejak saat itu, ayah dibawah pulang oleh beliau ke kediaman wijaya, dan belajar bisnis bersama beliau. Hingga saat tuan Wijaya sakit parah, beliau meminta ayah menghubungi tuan septian. Saat itulah kami kembali bertemu."


"Setelah tuan wijaya meninggal, tuan septianlah yang meneruskan kerajaan bisnis wijaya grub. Ayah yang memang sudah menjadi orang kepercayaan tuan wijaya semasa beliau masih hidup, harus kembali mendamping tuan septian hingga beliau bisa menjalankan perusahan seperti saat ini. "


"Waktu terus berlalu, hingga semuanya berjalan sesuai yang diharapkan. Jika dikantor kami adalah atasan dan bawahan. Tapi jika diluar, kami adalah sahabat. Ntah awal nya bagaimana, ayah pun lupa. Malam itu, setelah rapat bersama klien, tuan septian berucap, Suatu hari nanti, jika kita sudah menikah. Kau dan aku, jika anak anak kita, laki laki dan perempuan, mari kita jodohkan mereka, agar kita selalu menjadi sahabat selamanya*."


"Ada apa? Dari tadi aku perhatiin kamu kaya ngelamun gitu?" Ucapnya menyadarkan ku dari fikiran ku saat ini.

__ADS_1


"Hah? elo ngomong apa?" Ucap ku bingung karena tak mendengar pertanyaannya tadi. Ia memicing menatap ku tajam.


"Ma-maaf. Tadi kamu na-nya apa?"cicit ku


"Mikirin apa sih?" Ucapnya dengan nada sok lembutnya.


"Ngak mikirin apa-apa kok." Jawab ku cepat.


"Terus kenapa dari tadi aku perhatiin, kamu kaya melamun gitu?" tanyanya lagi. Ish nih orang kepo banget sih!!


"itu... gu- eh maksudnya aku, lagi kepikiran hasil ujian semester tadi aja." Alibi ku.


"Btw, kita mau kemana? ini bukan arah rumah aku." Ucapku, tersadar jika ini bukan kearah rumah ku.


"kita kerumah ku dulu, tadi mama nelpon minta ajak kamu ke rumah." Ucapnya tanpa menoleh kearah ku. What? Dia bilang apa tadi?


"kan tadi aku udah kasih tau sayang." Ucapnya santai.


"Kapan ngasih tau nya. perasaan tadi di sekolah kamu ngak ngomong deh kalau mama nelpon." Ucap ku sewot.


"Kan tadi kamu nanya kita mau kemana? nah tadi aku udah jawab kalau kita mau kerumah aku sayang." Jawabnya santai. Oh my good!! wah nih orang benar benar menyebalkan.


"ish, nyebelin banget sih" gerutu ku sambil mencari handphone didalam tas ranselku. Ia terkekeh mendengar gerutuanku.


"Kamu nyari apa sayang?" Tanyanya

__ADS_1


"Hp, mau nelpon Ayah sama Bunda." Ucap ku ketus. Aku mendenger ia terkekeh.


"Aku udah ngasih tau Ayah sama Bunda, mereka udah ngasih izin." Ucapnya santai. Dan aku, sudah tidak bisa berkata lagi.


☆☆


Kediaman Wijaya.


Saat ini aku sedang berada diruang tamu keluarga Wijaya bersama mama Rima sambil melihat Cataloq Fhasion. Sejujurnya aku tak paham sama sekali dengan dunia Fhasion, beda dengan Bunda.Si Ketos itu, sedang semedi kali dikamarnya.


"Sayang, sebentar lagi kalian akan tunangan, mama senang banget." Ucap Mama Rima dan memelukku.


"I-iya Ma," Cicit ku sungkan.


"Mama ngak sabar pengen kalian cepat Nikah aja. Ngak usah pakai tunangan." Ujar mama Rima.


"Mama kan pengen punya anak perempuan, anak mama cowok dua-duanya.Mana ngeselin lagi dua duanya." Ujarnya lagi.


Aku hanya tersenyum untuk menanggapi ucapannya.


"Mama sahabatan sama Bunda?" Ucap ku kepo.


"Ngak juga sih sayang. Mama kenal sama Bunda kamu, karena Papa dan Ayah kamu sahabatan sejak SMP." Ujar Mama Rima. Dan aku hanya berOh ria.


"Dulu mereka berjanji, jika mereka menikah dan punya anak, mereka akan menjodohkan anak mereka."Ucap Mama Rima lagi.

__ADS_1


"Tapi Riry dan Daffa kan masih sekolah Ma?" Ucap ku.


"Iya, tapi papa ngak sabar pengen segera mungkin jadiin kamu mantu, saat liat kamu pertama kali dibandara waktu itu." Jelas mama Rima yang membuat ku bingung. Bandara? jadi Papa Septian yang jemput kami diBandara?


__ADS_2