
Sore harinya Daffa dan Audry pamit pada orang tua Audry untuk pulang kekediaman Wijaya.
"Ingat pesan bunda semalam.Jangan ngelawan sama suami."Bisik bunda ditelinga Audry dan memeluk sayang sang putri. Beliau mencium seluruh permukaan wajah Audry. Audry mengangguk. Ia terisak dipelukan bundanya.
"Ya udah sana." Ucap bunda lagi sambil melepas pelukannya. Audry kembali mengangguk. Ia tak mampu berucap. Ini pertama kalinya ia harus terpisah dari kedua orang tuanya.
Dulu jika ayahnya harus ditugaskan kekota ia dan bunda akan tinggal berdua dirumah. Dan saat ayah dipindah tugaskan kekota. Ia dan bunda juga ikut pindah.
"Riry akan kangen sama Ayah dan Bunda.Hikz.." Ucap Audry disela isaknya.
"Bunda juga sayang..Hikz." Ucap bunda yang juga ikut menangis. Beliau tak menyangka akan secepat ini berpisah dengan putri semata wayangnya. Sementara pak Danu hanya diam saja disamping keduanya. Beliau juga sedih.
"Ayo Ry." Ucap Daffa. Ia memegang pundak sang istri. Audry pun mengangguk. Sekali lagi mereka berpamitan.
"Daffa pamit yah, bun." Ucap Daffa. Ia meraih kedua tangan mertuanya untuk ia cium.
__ADS_1
"Iya. Hati hati nyetirnya Daff." Ucap Ayah menasehati sang mantu.
"Iya yah." Ucap Daffa sopan.
"Ayah dan Bunda titip Riry ya Daff. Jika dia salah kamu tegur aja." Ucap Ayah lagi. Daffa kembali mengangguk sopan. Setelahnya mereka benar benar pergi meninggalkan kediaman Dirja.
Sepanjang jalan Audry hanya bisa menangis. Sedangkan Daffa hanya bisa menghelai nafas. Ia bingung harus berbuat apa agar sang istri berhenti menangis.
"Udah donk Hon nangisnya. Nanti papa sama mama kira aku yang bikin kamu nangis." Ucap Daffa lembut. Sungguh ini pertama kalinya Daffa menghadapi gadis yang sedang menangis.
"Gini deh, aku beliin kamu es cream gimana?" Tawarnya agar Audry berhenti menangis.
"Elo kira gue anak kecil apa pake disogok kaya gitu?" Ucap Audry kesal.
"Ya siapa tau kan. Kamu akan berhenti nangis kalau udah dapat es cream." Ucap Daffa konyol. Audry mendengus sebel.
__ADS_1
"Serah!" Sarkasnya acuh. Tapi ia sudah tak menangis lagi.
" Nah kalau ngak nangis kan jadi cantik." Goda Daffa. Lagi lagi Audry mendengus sebel mendengar godaan sang suami.
"Udah deh. Elo nyetir aja." Ucap Audry ketus. Daffa terkekeh disampingnya. Ia senang karena sudah membuat Audry kesal.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai kekediaman Wijaya. Mobil Daffa kini sudah masuk kepekarangan rumahnya. Didepan pintu sudah berdiri mama Rima untuk menyambut keduanya.
"Assalamualaikum ma." Ucap Daffa sopan yang diikuti juga oleh Audry dibelakangnya. Mereka mencium punggung tangan mama Rima.
"Walaikum Salam. Ayo kita masuk. Biar barang kalian bi Surti yang bawa keatas."Ucap mama Rima antusias. Daffa dan Audry mengangguk dan mengikuti langkah mama Rima dari belakang hingga dalam rumah.
"Daff.Ajak istri kamu istirahat. Kamar kalian udah disiapin sama bi Surti tadi."Ucap mama Rima pada putranya.
"Iya ma. Daffa juga udah gerah pengin mandi." Ucap Daffa. Ia melirik Audry yang masih diam disampingnya.
__ADS_1
"Ayo Ry. Kita kekamar." Ucap Daffa meraih tangan Audry. Seketika wajah Audry bersemu mendengar kata kita kekamar dari bibir Daffa. Mama Rima dan Daffa mengulum senyum melihat wajah Audry yang bersemu merah.