
"Maaf telat." Seru seorang pemuda saat sampai disebuah Caffe. Pemuda itu lantas mendekati orang tersebut.
"Kau sudah datang?" Orang tersebut lantas berdiri ingin menghampiri. Tapi pemuda tersebut mundur selangkah.
"Langsung saja Laura." Potongnya.
"Ada apa meminta ku kemari?" Lanjutnya, masih diposisi berdiri seperti pertama kali ia datang. Kalian pasti sudah menebak, siapa pemuda itu. Ya dia Daffa. Jadi Daffa ada janji bertemu Laura, bukan David.
"Duduklah dulu Daff." Pintah Laura lembut. Daffa menghelai nafas panjang dan menarik salah satu kursi yang ada di depan mantan kekasihnya itu.
"Jadi?" Ujarnya, setelah mendaratkan bokongnya.
"Kau masih sama seperti yang dulu." Saut Laura.
"Apa maksud mu?" Bingung.
"Daffa yang tak sabaran akan sesuatu. hehe." Berniat bercanda. Tapi sepertinya candaannya tak digubris oleh Daffa.
"Kau seb-"
"Aku merindukan mu." Potong Laura lirih. Tak ada tanggapan dari pemuda dihadapannya. Ia hanya diam memperhatikan gadis didepannya.
"Aku sudah berusaha melupakan mu. Tapi aku tak bisa." Lanjutnya, Airmata sudah mulai menggenang di pelupuk mata.
"Ra..." Daffa sepertinya mulai iba. Dia kan paling gak bisa liat gadis manapun menangis, apalagi itu karena dirinya.
"Tolong kembalilah pada ku Daff." Airmata sudah mulai menetes dipipi gadis itu. Ia meraih tangan pemuda dihadapannya sambil memohon.
__ADS_1
☆☆☆☆☆
Sementara itu di tempat yang berbeda.
"Anak bunda banyak berubah yah." Ucap bunda Riana sambil memperhatikan putrinya menata makanan diatas meja.
"Kan kata bunda. Riry harus dewasa dan ngak manja lagi." Tukasnya masih dengan tangan yang sibuk menata semua piring pada posisinya.
"Bunda makin sayang deh sama Riry kalau gitu." Mencubit gemas pipi chuby sang putri.
"Awww bunda, Sakit pipi Riry loh." Rengeknya manja. Author belike: Tadi katanya udah gak manja lagi🙄
"hehe maaf sayang, habis bunda gemes sih sama anak bunda ini." memeluk sang putri erat.
"Btw, Pipi kamu makin tembem aja. Jangan jangan kamu hamil yah?" Canda bunda lagi.
"Riry ngak mau, ntar kalau teman teman tau, Riry pasti di gosib'in." Lanjutnya.
"Lah kenapa?" Tanya bunda cepat.
"Riry kan udah punya suami, jadi wajar donk kalau hamil." Menarik salah satu kursi meja makan, lalu duduk sambil memperhatikan sang putri yang menata makanan di meja.
"Tapi kan Riry sama Daffa masih kecil bund." Lirihnya.
"Sayang, Setiap laki laki pasti mendambakan seorang anak dari pasangannya."
"Kamu ngak mau kan, nanti Daffa berpaling ke gadis lain?"
__ADS_1
"Isss, bunda kok ngomongnya gitu sih?" Rajuknya.
"Makanya, Cepat kasih Debay buat Daffa dan cucu untuk bunda dan Ayah serta mertua mu." Lagi lagi perkataan bunda Riana membuat wajah Audry memerah malu.
☆☆☆
"Daff.." Laura memelas. Menahan tangan Daffa saat melihat Cowok itu akan melangkah keluar.
"Ra, Sorry gue harus pulang." Menarik tangannya yang ditahan laura.
Daffa berjalan keluar Caffe, Tapi baru saja tubuhnya melewati pintu.
Glep
Seseorang memeluknya dari belakang, Membuat langkahnya terhenti.
"Laura!!!" Geramnya.
"Tolong Daff, biarkan seperti ini dulu." Semakin mempererat dekapannya.
"Jangan sampe gue BENCI sama elu!" Menekan kata benci didalam kalimatnya. Dengan isak tangis lirih, gadis itu akhirnya melepaskan dekapannya.
"Daff." Panggil Laura, saat lagi lagi Daffa akan melangkah. Gadis itu meraih tas punggung yang ia gunakan, dan mencari sesuatu didalamnya.
"Ini hadiah dari ku untuk mu." Daffa berbalik menatap gadis itu bingung.
"Pleasss Daff, Ini terakhir kalinya." Lirihnya.
__ADS_1
Maaf jika aku mengecewakan mu lagi.