Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Diam Diaman


__ADS_3

Keesokkan harinya, lagi lagi Daffa harus menghelai nafas panjang, karena lagi lagi Audry mengacuhkannya. Bahkan Audry sudah terlebih dulu menuju ke kelas mereka tanpa berpamitan padanya terlebih dulu.


"Hufh... Woman. Kenapa sulit sekali meluluhkan hatinya sih?!" Gumamnya sambil menatap punggung Audry yang sudah menghilang diantara kerumunan siswa siswa yang lain.


Setelah menarik napas dalam Daffa turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Sampai dalam kelas dibangku depan bisa ia lihat sang istri tengah bercanda dengan ketiga sahabatnya.


"Kemaren elo ngobrol apa sih sama pak Haikal, gue kepo tau." Suara rengekan Sisi dapat didengar oleh Daffa saat langkahnya semakin masuk kedalam kelas.


"Hanya minta nomor dan ngajak keluar cari kado buat saudaranya. " Jawaban polos Audry membuat rahang Daffa mengeras tanpa ia sadari. Dengan wajah tertekuk sebal Daffa berjalan menuju bangkunya dibelakang keempat gadis itu. Ia melirik tak suka kearah keempat gadis tersebut yang disadari keempatnya.


"Wah pak Haikal modus deh hahaha." Sisi sengaja supaya Daffa semakin kesal. Serly menyeringai jahil kearah punggung Daffa.


"Eh Dry, elo tau ngak, kemaren ada yang marah marah liat elo berduaan sama pak Haikal dikoridor." Ucap Serly antusis yang diangguki kedua sahabatnya, beda dengan Audry yang saat ini menatap Serly bingung.

__ADS_1


"Hah? Siapa? Pak kepala sekolah ya?" Tanya Audry dengan tampang polosnya, membuat ketiga sahabatnya berdecak sebel. Sementara itu dibelakang sana Daffa tersenyum geli melihat raut wajah polos sang istri. Ekspresi yang begitu ia sukai.


"Huh, bukan itu Audry Federica, elo pintar dalam pelajaran doank tapi lemot dalam pribahasa kaya gini." Sewot Sisi. Audry hanya nyengir menanggapi ucapan Sisi.


"Terus apa donk, kan gue ngak paham." Ucapnya polos, yang membuat ketiga sahabatnya menghelai nafas pasrah. Daffa yang sejak tadi mendengar ucapan mereka dibangku belakang Serly dan Manda tersenyum tipis saat matanya bertemu dengan manik mata Audry, sebelum akhirnya Audry membuang muka kesembarang arah tak mau menatapnya.


☆☆


"Sayang sampai kapan sih acara ngambeknya selesai?" Niat Daffa mengajak Audry bercanda malah ia mendengar sang istri mendengus kesal tanpa menjawab pertanyaannya.


"Udah donk acara diam diamannya, Ngak capek apa?" Lanjut Daffa tak menyerah, ia berharap Audry mau mengeluarkan kalimat dari bibirnya walaupun itu sebuah makian.


Hening untuk beberapa saat. Hingga pada akhirnya lagi lagi suara Daffa memecah kesunyian.

__ADS_1


"Oh ya sayang kita malam ini nginap dirumah ayah sama bunda ya. Aku udah izin kok sama papa dan mama." Daffa berharap kali ini ia berhasil menarik perhatian sang istri. Benar saja, spontan Audry menegok kearahnya walaupun hanya sekilas sebelum kembali menatap kearah jendela tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Hingga akhirnya mobil berhenti didepan sebuah rumah sederhana berlantai dua. Dengan raut wajah bahagia Audry keluar dari mobil dan berlarian masuk kedalam rumah.


"Sekangen itu dia sama ortunya." Gumam Daffa sambil menatap punggung Audry yang sudah sampai didepan pintu.


"Daffa ayo!" Teriak Audry kesal. Tadi saat ia membalikkan badannya tak melihat Daffa disana dan mala melihatnya masih duduk didalam mobil. Audry hanya tak mau kedua orang tuanya tahu kalau dia dan Daffa tengah bertengkar. Mendengar Audry memanggilnya, kenapa Daffa merasa sesenang itu? Ada apa dengannya?


"I-iya." Jawab Daffa gugup. Ia bahkan tak tahu harus melakukan apa sekarang. Dengan senyum yang merekah ia keluar dari dalam mobil dan mendekati Audry yang kini menatapnya jengkel didepan pintu.


"Lama banget deh!" Gerutu Audry saat Daffa sudah berada disampingnya.


"Maaf sayang, tadi aku_" Belum sempat Daffa menyelesaikan kalimatnya, Audry sudah melenggang masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2