
Masih di kediaman Wijaya. Saat ini mereka semua sedang duduk di meja makan.
"Dik, Bagaimana dengan perusahaan disana?" Ucap tuan Septian memulai percakapan.
"Udah mulai Stabil Pa," Jawab Dika menatap tuan Septian mantap. Yang lain hanya diam mendengarkan percakapan mereka, termasuk Daffa yang sebenarnya tak tertarik dengan topik yang sedang Papa dan Kakaknya bicarakan.
"Sebentar lagi Adik mu akan menikah, dan papa mau dia juga seperti mu belajar bisnis" Ucap tuan Septian pada putra tertuanya lagi. Dika mengangguk dan melirik adeknya yang sama sekali tak bergeming.
"Tapi pa, bukankah Daffa sudah mulai belajar bisnis dengan Om Danu?" Ucap Dika yang sukses membuat Audry mendongak menatap pada tunangannya itu yang juga sedang menatapnya.
"Iya, karena Danu sendiri yang menawarkan untuk membimbing Daffa." Jelas tuan Septian.
"Papa percaya Danu mampu membimbing adik mu hingga sukses seperti papa sekarang." Ucapnya lagi yang membuat perhatian semua orang tertujuh pada beliau termasuk Audry.
Hening, mereka makan dalam diam, suasana seperti ini sungguh membuat Audry canggung. Sebab dirumahnya, Ia akan berceloteh apa saja dengan kedua orang tuanya yang membuat suasana meja makan menjadi hangat.
☆☆
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:05 malam. Kini Audry tengah berpamitan pulang pada kedua orang tua Daffa.
"Pa, Ma, Audry pamit pulang dulu." pamit Audry menyalim tangan kedua calon mertuanya,
__ADS_1
"iya.. Salam sama Ayah dan Bunda kamu ya nak." Ucap nyonya Rima memeluk calon mantunya itu.
"Dan kamu Daff, hati hati bawah mobilnya. ngak usah ngebot." Ucapnya lagi pada sang putra yang dibalas anggukan ringan sang putra.
"Ya udah pa, ma, Daffa antar Audry dulu." Ucap Daffa pada kedua orang tuanya.
☆☆
Sepanjang jalan pulang Daffa terus melirik pada Audry yang sejak tadi diam saja. Ya memang benar sih jika bersama Daffa, Audry mendadak jadi pendiam. Begitu pula dengan Daffa.
"Hon, Apa yang kamu fikirkan?" Ucapnya yang membuat Audry tersentak.
"Eh, Tidak. gue ngak mikirin apa apa kok." Ucap Audry tekejut
"Ada apa?" tanya Daffa lagi. tangannya meraih kedua telapak tangan Audry. Saat ini mereka sudah sampai depan rumah Audry.
"Ngak ada apa apa kok" Ucap Audry. Ia menarik tangannya yang sedang digenggam Daffa.
"Loh, kita udah sampai?." Ucap Audry yang baru sadar jika mereka sudah didepan rumahnya.
"Tuhkan kamu ngak sadar kita udah sampai. Kamu mikirin yang diomongin Bang Dika tadi?" Ucap Daffa
__ADS_1
"Ngak."Ucap Audry singkat.
"Trus kamu mikirin apa Hon?" Tanya Daffa lagi, 'gue mikirin nasib gue setelah nikah sama elo.' jawab dewibatin Audry.
"Gue cuma mikir alasan apa yang gue kasih ke sahabat gue besok. cuma itu." Ucap Audry.
"Jujur aja kali Hon." Saran Daffa santai.
"Ck, kaya elo mau aja dijodohin sama gue!" Ucap Audry ketus. Daffa tersenyum tipis mendengarnya.
" Aku mau. kalau aku ngak mau, pasti udah aku batalin acaranya waktu itu." Ujar Daffa.
Audry menatap Daffa sinis.
"Kenapa ngak elo batalin? bukankah elo sendiri punya pacar?" Ujar Audry. Daffa mengulum senyum.
"Pacar? kata siapa?" Gadis itu memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan yang diajukan sang tunangan.
"Kata gue kan barusan." Ujarnya ketus.
" Berarti kamu sok tau." Ucap Daffa menoel hidung sang tunangan. Audry menggeram kesal mendengar jawaban sang tunangan.
__ADS_1
"Gue dengar sendiri waktu itu elo telponan sama pacar elo!"Teriak Audry akhirnya, membuat sang tunangan terkejut.