Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Sariawan?


__ADS_3

Suasana dirumah sederhana milik Danu terlihat sangat ramai dengan celotehan putri semata wayang mereka. Saat ini mereka berempat tengah menikmati makan malam bersama.


"Yah, Bun, disekolah Riry ada guru baru, ganteng lagi." Ucap Audry antusias. Ia sengaja menceritakan tentang Haikal biar Daffa kesal.


"Hus..Ngak boleh gitu, kamu udah punya suami, jadi ngak boleh muji muji laki laki lain. Dosa." Tegur sang Bunda menbuat Audry meringis. Sedangkan Daffa tersenyum sinis kearah sang istri membuat Audry yang meliriknya sekilas mencibir kesal.


"Bukan gitu Bun, coba aja kalau bunda liat pasti suka deh. Mukanya ngademin." Audry masih betah dengan topik pembahasan guru baru mereka, membuat Daffa mendengus kesal dalam hati.


"Gantengan mana sama Ayah?" Tanya ayah Danu. Jiwa narsis ayah Danu merasa terpanggil. Daffa sempat melongo


"Ayah mah lewat, Pak Haikal itu seperti Arya Saloka itu loh yah, pemain sinetron yang sering bunda tonton itu. Gantengkan dan sopan lagi." Ucap Audry antusias. Ketiganya tertawa renyah menimpali ucapan Audry. Tanpa mereka sadari rahang Daffa mengeras saat dengan polosnya sang istri memuji laki laki lain dihadapannya.


'Kau akan menyesal telah memuji pria lain dihadapan ku Hon.' Ia menggeram kesal didalam hati.

__ADS_1


"Daff kok diam aja, terus itu makanannya kenapa ngak disentuh?" Tanya Bunda membuyarkan lamunan Daffa.


"Lidah Daffa lagi bermasalah bun,kayanya sariawan." Daffa tak sepenuhnya berbohong. Lidahnya masih peri karena digigit Audry tadi.


"Sayang, nanti setelah makan, kamu ambil obat sariawan dikotak P3K ya." Ucap Bunda yang diangguki Audry. Ia melirik Daffa yang saat ini sedang menatap makanan dengan tidak selerah. Rasa sesal terbersit begitu saja dalam dirinya.


'Apa tadi gue gigitnya kekencangan ya.'Fikir Audry dalam hati.


Sesampai dikamar, terlihat Audry tengah berjinjit meraih kotak P3K yang letaknya cukup tinggi sekarang. Mungkin bunda tak sengaja meletakkannya diatas lemari dan lupa mengembalikannya ketempat semula.


Tanpa berucap Daffa berjalan mendekati sang istri, dan membantu Audry mengambil kotak tersebut. Setelah dapat ia meletakkannya ketangan Audry dan melangkah menuju tempat tidur.


"Kenapa masih berdiri disana?" Keterpakuan Audry untuk sesaat tadi sirna saat suara Daffa memasuki indera pendengarannya. Dalam hati ia mencibir kesal, dan berbalik menghadap kearah Daffa.

__ADS_1


"Ambil sendiri." Ucap Audry ketus.


"Tanggung jawab donk, kan kamu yang gigit, jadi kamu yang ngobatin." Sepertinya sikap menjengkelkan pada diri Daffa sudah mendarah daging begitu fikir Audry. Dengan menahan kekesalan yang sudah mencapai keubun ubun, Audry pun beringsut naik ketempat tidur, lalu duduk dihadapan Daffa.


"Buka mulut." Perintahnya Datar. Daffa sempat terkejut, tapi sengera mengubah ekspresinya menjadi santai. Ia pun membuka mulut sesuai perintah sang istri. Sedangkan Audry, ia menatap gugup pada bibir Daffa yang saat ini ada dihadapannya.


"Kenapa diam?" Tanya Daffa. Bukannya Daffa tak menyadari perubahan pada wajah Audry. Ia sangat tahu kalau Audry saat ini gugup menyentuh bibirnya, yang dua jam yang lalu dengan tidak sopannya menyerang bibirnya. Ia bersorak penuh kemenangan dalam hati saat mendapati wajah merona sang istri yang begitu dekat dengannya.


Dalam diam Daffa mengamati bibir Audry yang saat ini berada dihadapannya. Bibir yang sejak awal bertemu menarik perhatiannya. Tanpa permisi seperti biasanya Daffa lagi lagi menyerang bibir Audry kali ini berbeda, ia melakukannya dengan sangat lembut. Audry yang awalnya berniat memberontak kini terhanyut dalam ciuman yang semakin dalam.


Hingga tanpa ia sadari posisinya sudah berbaring diatas kasur. Sedangkan Daffa sudah menindih tubuh mungilnya.


Well, Ngak usah dijelasin ya itu kegiatan selanjutnya apa, pada pahamlah ngak perlu dijelasin. Karena ini bukan novel dewasa yang akan menceritakan kisah 19+. Tapi ini kisah anak SMA.

__ADS_1


__ADS_2