
"Elo harus jelasin, ini cincin apa?" Ucap Manda masih memegang tangan sang sahabat.
"I-ini cincin.. ya cincin." Ucap Audry Gagap. Sebenarnya ia bingung mau gimana jelasin pada ketiga sahabatnya tentang perjodohannya dengan siKetos Resse itu.
"Kita tau Audry kalau ini cincin." Ucap Sisi dengan nada jengah.
"Yang kami mau tahu, ini cincin asalnya darimana? apa elo dilamar seseorang?"Ucap Sisi heboh membuat semua penghuni kelas menatap mereka. Sedangkan Daffa hanya diam saja, ia sedang menunggu apa yang akan Audry katakan tentang cincin dijarinya itu.
"Dilamar? Benaran elo udah dilamar ."Ucap Manda dan Serly tak kalah heboh.
"Eh apaan sih kalian"Ucapny salting.
"i-ini cincin tu-"Ucap Audry hampir keceplosan. segera ia membekap mulutnya dengan tangannya sendiri.
"cincin tunangankan maksud elo.jadi elo udah tunangan? ahhh" Ucap Sisi heboh.
"Benaran elo udah tunangan? sama siapa?"Tanya Sisi lagi membuat kedua sahabatnya yang lain mendengar dengan Antusias. Audry menggeleng pelan. Sapaan dari seorang guru menyelamatkannya dari introgasi ketiga sahabatnya. Ia bisa bernapas dengan lega.Sedangkan dibangku belakang mereka Daffa tersenyum tipis menatap punggung Audry yang terlihat lesuh.
__ADS_1
'Kita lihat sayang, gimana caranya kamu akan menjelaskannya pada sahabat sahabat mu nanti.' ucapnya dalam hati.
☆☆
Pulang Sekolah.
Seperti yang dikatakan Daffa tadi pagi, Saat ini Audry sudah duduk dalam mobil Daffa. Mengenai pertanyaan ketiga sahabatnya tadi, hari ini sepertinya dewi portuna memihak padanya. Karena jam istirahat tadi ia diminta keruangan pak kepala sekolah membicarakan mengenai nilai yang ia raih.
Sambil menunggu Daffa yang sedang menerima telpon diluar mobil.Audry meraih ponselnya dan mengirim pesan pada sang Bunda jika ia akan pulang telat hari ini, karena ada acara makan malam dengan calon mertua. Daffa masuk ke dalam mobil membuat Audry menatap kearahnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Mobil mulai meninggalkan parkiran sekolah. Seperti yang kalian tahu.Jika mereka berdua hanya kesunyian yang ada. Mereka akan sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.
"Kenapa Om Arman manggil kamu tadi?" Tanya Daffa memecah kesunyian.
"Bahas Nilai."Jawab Audry singkat.
"Hmm.. Apa tentang beasiswa?"ucap Daffa lagi yang diangguki Audry.
__ADS_1
"katanya Gue ngak mungkin ikut beasiswa, karena elo sama papa Septian ngak mungkin ngizinin." Jelas Audry memandang Daffa sejenak lalu kembali menatap kedepan.
"oh gitu? kalau aku ngizinin apa kamu mau ikut?" Tanya Daffa. Audry menatap Daffa sekilas lalu menggeleng.
"gue ngak bisa jauh dari Bunda." Ucap Audry lirih.
"setelah kita menikah kamu akan terbiasa." Ucap Daffa menggerling nakal membuat Audry salting.
☆☆
Kediaman Wijaya.
Sampai dikediaman Wijaya, Audry disambut hangat oleh sang ibu mertua, ia dan Daffa digiring masuk oleh mama Rima menuju ruang tamu. Disana ada seseorang laki laki yang baru ia jumpai. Tapi ia tahu kalau itu putra tertua keluarga Wijaya iaitu Dika Satria Wijaya. Disampingnya ada sang istri dan seorang bayi berumur satu tahun.
"Haii jagoan.. Apa ini calon adek ipar?" Sapa Dika pada Daffa. Audry tersenyum kikuk mendengarnya.
"Dika, kenalkan ini Audry. dan Audry ini Dika kakaknya Daffa dan Vanessa istrinya." Ucap Mama Rima memperkenalkan mereka. Dika mengulurkan tangan pada sang calon adek ipar begitupun Audry. Setelahnya mereka semua duduk berbincang bincang sambil menunggu waktu makan malam tiba.
__ADS_1