Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Menggemaskan


__ADS_3

Sesampainya didalam mereka disambut hangat oleh bunda Riana. Wanita paru baya itu sempat terkejut melihat perubahan pada rambut Audry. Tapi rasa rindu pada putri semata wayangnya, beliau segera tersenyum lebar kearah kedua.


"Assalamualaikum bunda." Salam keduanya.


"Walaikumsalam." Jawab beliau senang. Bunda Riana menghujani wajah Audry dengan bertubih tubih kecupan, membuat Audry tertawa geli dan berhamburan kepelukkan sang bunda. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya pada malaikat tak bersayapnya itu. Tapi ia tak mau kedua orang tuannya merasa bersalah karena telah menjodohkannya dengan anak dari atasan ayahnya.


"Riry kangen bunda." Air mata lolos begitu saja saat ucapan bernada lirih itu terlontar. Daffa yang paham hanya meringis dalam hati dan merutuki dirinya sendiri.


"Bunda juga sayang." Keduanya larut dalam rindu yang sangat amat dalam sampai mengabaikan keberadaan Daffa yang saat ini berdiri diambang pintu.


"Mantunya diajak masuk bun." Teguran dari seseorang diluar sana mengalihkan perhatian ketiganya. Daffa yang memang berada dipintu menengok kesumber suara yang ternyata ayah mertuanya. Sedangkan kedua wanita itu hanya menengok sekilas, lalu melanjutkan acara pelukkan mereka layaknya teletubbis saja.


"Ayo nak masuk." Ajak ayah Danu pada sang mantu. Daffa meraih tangan Danu lalu mencium punggung tangan sang mertua. Ia mengikuti langkah sang mertua memasuki rumah.


"Kalian baru pulang sekolah?" Tanya ayah Danu karena melihat seragam yang digunakan Audry dan Daffa. Mereka saat ini sudah berada diruang tengah.

__ADS_1


"Iya yah." Jawab Daffa sambil tersenyum ramah kearah ayah mertuanya. Audry menatap Daffa jengah saat mendengarnya.


"Bagaimana liburan kalian kemaren?" Tanya ayah Danu membuat Daffa menegang sedangkan Audry tersenyum sinis kearah Daffa.


"Lancar yah." Ujar Daffa gugup. Ia takut sang mertua tahu kalau ia sudah membuat putri kesayangan mereka kelaparan sepanjang hari.


"Bagus donk. Jadi ada peningkatan." Ucap Ayah antusias. Audry mencibir dalam hati.


'peningkatan apaan? sekarang aja Riry bete sama dia yang ngak ngejelasin siapa cewek yang kemaren dia temui.' Cibirnya kesal.


"Hah? iya bun." Ucap Audry nyengir kearah kedua orang tuanya.


"Ayo Daff." Nada Audry terdengar ramah dan santun ditelingah siapa pun yang mendengarnya. Daffa mengangguk dan segera pamit kepada kedua mertuanya.


Sesampai dikamar sikap Audry kembali dingin. Ia bahkan tak mau menatap Daffa walau hanya sedetik saja.

__ADS_1


Daffa menutup mata dan menarik nafas dalam dalam. Setelah membuka matanya, ia menatap Audry yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ia berjalan mendekat kearah Audry dan memeluk sang istri erat.


"Mandi, airnya udah aku si_" Belum sempat Audry menyelesaikan kalimatnya, Daffa sudah menyerangnya dengan ciuman beruntut dibibirnya. Audry memberontak, ia memukul mukul dada bidang Daffa. Tak habis akal ia menggigit lidah Daffa dengan kencang membuat Daffa mengaduh kesakitan.


"Kamu kok gigit aku sih sayang." Daffa menggeram kesal. Sementara itu Audry masih terengah karena ciuman mendadak dari Daffa barusan.


"Kamu apa apaan sih?!" Bentak Audry kesal. Daffa dibuat melongo, karena akhirnya Audry mau bicara juga dengannya walaupun sebuah bentakkan.


"Salah aku apa sampai kamu gigit aku kaya gitu?" Wah wah sungguh menjekelkan bukan, sudah main sosor sosor malah dengan polosnya nanya salahnya apa? Audry mendengus kesel, ia meraih sendal rumahan yang ia pakai dan melemparinya kearah Daffa dan mendarat dengan sempurna dikepala Daffa.


"Kamu kok KDRT sih sayang." Ujar Daffa yang mendapat pelototan garang dari sang istri.


"Singa betina lagi ngamok." Gumam Daffa menatap punggung Audry yang sudah lenyap dibalik pintu kamar mereka. Ia tersenyum geli saat melihat wajah merah merona Audry tadi saat ciumannya terlepas.

__ADS_1


"Kok gemas ya." Monoloqnya lagi, sebelum benar benar melangkah masuk kedalam kamar mandi.


__ADS_2