
"Laura?" Daffa nampak terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya dikursi pengunjung. Sementara gadis itu berdiri dan tersenyum canggung kearah Daffa.
"Hai.. Lama tak bertemu." Sapa Laura tenang.
"Kau disini?" Menatap bingung pada mantan kekasihnya itu, pasalnya daerah tempat tinggal Laura dan Kaffenya cukup jauh.
"Ah iya, teman teman disekolah merekomendasikan kaffe ini untuk tongkrongan bagus. Karena penasaran, jadi aku kesini." Jelas Laura. Ya Laura juga masih seorang siswa, hanya saja ia juga kelas XII hanya saja, berbeda sekolah dengan Daffa dan Audry.
"Oh,, Kalau begitu silahkan dilanjut." Ucap Daffa.
"Selamat menikmati dan semoga kau suka." Daffa pun berbalik berniat melangkahkan kakinya keluar kaffe. Namun lagi lagi langkahnya harus terhenti saat Laura kembali menyelah.
"Kau dan istri mu habis makan disini?" Laura mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling. Memastikan Daffa sendiri atau bersama istrinya.
"Tidak. Aku kesini sendiri." Jawab Daffa dengan kedua tangan disaku celana denim selututnya.
"Bagaimana hubungan kalian?" Lagi lagi Laura mengajuhkan pertanyaan.
"Hubungan kami baik baik saja." Tutur Daffa seraya melirik jam tangan yang bertengker dilengan kirinya.
"Hmmm... Sorry Ra, Aku ngak bisa lama. Sudah janji sama Audry akan makan siang dirumah." Lanjutnya.
"Oh baiklah, salam untuk istri mu." Daffa pun mengangguk sebelum akhirnya berlalu dari hadapan gadis itu.
__ADS_1
Sementara Laura hanya diam terpaku menatap punggung tegap Daffa yang mulai keluar dari dalam kaffe dan menaiki mobil Range Rovernya.
Setelah melihat tubuh Daffa menghilang dibalik Range Rover hitamnya. Tubuh Laura merosot ke atas kursi yang tadi ia duduki. Ia memegang dadanya, ternyata debaran itu masih ada.
Padahal ia sudah berusah melenyapkan sosok jangkung dan tampan itu dari hati dan fikirannya. Tapi nyatanya, saat sosok itu muncul lagi dihadapannya dengan wajah yang semakin mempesona. Hatinya seakan tak rela melepaskan mantan kekasihnya itu.
Haruskah ia merebut Daffa dari istri-nya?
Laura menggeleng, menghilangkan fikiran ngaur didalam otaknya.
¤¤
Sudah lima hari setelah pertemuan tak sengaja menurut Daffa dan Laura dikaffe waktu itu.
"Yank, kamu pulang aja." Pinta Audry saat mereka sudah sampai disalon.
"Ngak mau.. Aku tungguin kamu sampai selesai." tolak Daffa.
"Kamu nanti bosan, mending main futsal, atau apa ke gitu sama David."
"Kok kesannya, kaya kamu ngak suka gitu aku disini?" Memicing matanya, menatap Audry curiga.
"Apaan sih." Ucap Audry memukul lengan Daffa pelan.
__ADS_1
"Aku cuma takut nanti kamu bosan karena terlalu lama nunggu." jelas Audry.
"Kalau nunggu kamu, ngak akan ada kata bosan dikamus aku, Hon." Ucap Daffa membuat wajah Audry bersemu.
"Gombal." Ucap Audry salah tingkah.
"Udah sana." Sambil mendorong tubuh tinggi tegap Daffa agat keluar dari salon.
"Yank, kamu ngusir aku." Dengan aksen merengek seperti anak kecil, yang tak mau ditinggal ibunya pergi.
"Lagian kamu mau ngapain disini? Oh aku tau, kamu mau godain mba mba salonnya kan?!" Kini giliran Audry yang memicing curiga kearah Daffa.
"Kok kamu nuduh aku sih?" Dengan nada yang terkesan tak suka. Padahal ia suka melihat Audry curiga dan cemburu padanya. Itu berarti istrinya sangat mencintainya.
"Udah sana." Itu bukan suara Audry, tapi suara Sisi sahabat Audry yang sejak tadi hanya diam saja menyimak dua sejoli bucin dihadapannya berdebat.
"Ini salon, Bukan tempat ngebucin." Sindir Sisi, membuat wajah Audry memerah, tapi berbeda dengan Daffa.
"Makanya jangan jomblo." Ejek Daffa, membuat Sisi mendengus kesal. Dan pada akhirnya, Daffa pun pergi dari salon, menuju salah satu restauran yang ada di dalam Mall, karena telah berjanji bertemu dengan papa Septian di sana.
Maaf Sigini Aja Dulu😁.. Soalnya Author lagi bucin ama 7 pangeran tampan😅
__ADS_1
Anggap Saja Bapak Jeon jadi Daffa ya.. Sesuai ama julukkannya.. the International Playboy😁😅