
Sudah dua jam berlalu. Resepsi pernikahan yang diadakan dikediaman dirja itu tengah berlangsung meriah.
Terlihat jelas raut kebahagian dari dua belah pihak. Tuan Septian tak henti hentinya mengucapkan selamat pada putra dan juga mantunya.
Tak banyak tamu yang menghadiri acara. Tamu undangan yang hadir hanya keluarga dekat, sekretaris tuan septian dan para pemegang jabatan diperusahaan tuan Septian Saja.
"Jangan cemberut terus. Nanti aku dikira maksa kamu buat nikah sama aku." Bisik Daffa pada sang istri. Gadis itu hanya menatap Daffa sekilas. Lalu memaksakan senyumnya kearah tamu undangan.
"Hmm." Hanya gumaman yang gadis itu berikan sebagai jawaban.
"Ngomong ngomong. Kamu hari ini cantik." Pujinya dengan senyuman manis menghiasi wajah tampannya.Mendengar itu pipi Audry tiba tiba memanas.
"Ngak usah ngerayu. Ngak mempan!" Ucapnya ketus tanpa menatap Daffa. Arah pandangnya hanya fokus kedepan dimana para tamu undangan duduk.
"Oh ya? Terus itu pipi kenapa merah merah gitu?" Ucap Daffa menggoda sang istri. Ntah kenapa, Daffa suka sekali menggoda Audry. Ia suka melihat reaksi Audry saat berinteraksi dengannya. Ketus, cuek dan dingin.
__ADS_1
"I-ini karena gue kegerahan." Ucap Audry gugup. Ntah kenapa mendengar Daffa memujinya jantungnya serasa berdebar.
"Wah kayanya Ayah mertua harus memperbaiki AC diaula ini." Ucap Daffa bermaksud menggoda sang istri lagi. Ia tahu kalau Audry gugup saat ini. Gadis itu tak menggubris. Ia memalingkan muka kearah lain untuk melihat kedua orang tuanya.
Sepanjang acara berlangsung tak henti hentinya Daffa menggoda sang istri. Membuat Audry salah tingkah.
Hingga akhirnya acara resepsi pun berakhir. Semua tamu undangan sudah pulang. Dirumah Dirja hanya tersisa keluarga inti saja.
"Istirahatlah dikamar. Ajak juga suami mu." Ucap Bunda Riana pada Audry. Lagi lagi pipi Audry memanas saat kata suami diucapkan bundanya. Sedangkan sang bunda hanya tersenyum melihatnya.
"iya." Jawab kedua wanita paru baya itu serempak.
Sesampai dikamarnya Audry segera masuk kekamar mandi terlebih dahulu. Sejak tadi ia sudah gerah dengan gaun pengantin yang ia gunakan. Daffa hanya geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Tak selang berapa lama Audry sudah keluar menggunakan kimononya. Matanya membelalak saat mendapati Daffa tengah duduk ditepi ranjang dan memperhatikannya.
__ADS_1
"E-lo. Ngak mau mandi?" Ucap Audry gugup.
"Nunggu kamu selesai." Ucap Daffa datar. Ia sebenarnya jengkel karena Audry belum juga mengganti panggilannya.
Audry berjalan melewati Daffa acuh. Padahal sebenarnya saat ini jantungnya sudah ketar ketir saat Daffa menatapnya seperti tadi.
"Ini handuk elo." Ucap Audry menyodor handuk baru pada Daffa. Tanpa banyak kata Daffa meraih handuk itu dan berjalan menuju kamar mandi. Ia juga merasa badannya lengket dan gerah.
Setelah Daffa masuk kamar mandi. Audry segera mengenakan baju piyamanya dan naik keatas ranjang.
Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka. Disana Daffa sudah terlihat segar sehabis mandi. Ia melirik kearah tempat tidur. Dimana istrinya tidur. Ia tersenyum tipis.
"Aku tahu kau pura pura tidur sayang." Gumamnya menatap punggung Audry. Ia menyeringai.
Dengan langkah pelan ia berjalan menuju kopernya dan mengambil setelan piyamanya. Setelahnya ia naik keatas tempat tidur bergabung dengan sang istri. Tanpa permisi Daffa memeluk tubuh Audry dari belakang. Membuat sang embunya menegang.
__ADS_1