Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Penjelasan


__ADS_3

Saat pagi menjelang, Audry menggeliat pelan diatas tempat tidur. Selanjutnya terdengar ringisan dari bibirnya saat ia bergerak tubuhnya dan yang membuat ia membeku, saat membuka mata untuk pertama kalinya pagi ini, yang pertama dilihat dada bidang seseorang didepan wajahnya.


"Kamu sudah bangun." Tanpa melihat pun Audry sudah tahu itu suara siapa. Sekelebat bayangan aktivitasnya semalam bersama sang suami memutar bagaikan roll film diingatannya. Ia yakin saat ini pipinya bersemu merah, ia sangat malu untuk memandang Daffa.


"Hmm." Hanya gumaman yang keluar dari bibir tebalnya. Ia sangat malu sekarang.


"Kamu kayanya betah banget ya satu selimut sama aku." Ucap Daffa dengan nada menggodanya. Yang sukses mendapatkan cubitan diperutnya. Daffa mengadu seraya tertawa geli. Sebenarnya Daffa sudah bangun sejam yang lalu, dia pura pura tidur saat merasakan pergerakan Audry. Ia penasaran bagaimana reaksi Audry saat bangun nanti.


"Maaf karena telah menyakiti perasaan mu?" Ucap Daffa lagi. Audry diam saja menunggu kalimat apa lagi yang akan dilontarkan Daffa selanjutnya.


"Tolong maafkan aku." Ucap Daffa lagi kali ini ia menarik tubuh Audry keatas agar wajah mereka sejajar. Ingin rasanya Daffa kembali ******* bibir Audry saat mendapati wajah sang istri memerah karena malu dan itu sangat menggemaskan dimatanya. Tapi ia sadar saat ini mereka harus bicara dan menyelesaikan masalah mereka terlebih dahulu.


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Mohon Daffa. Audry menatap lekat lekat wajah sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya. Ntah kenapa jantungnya berdebar saat memandangi wajah tampan itu.


"Lepas!" Bentak Audry. Bukan kata maaf yang dia harapkan melainkan penjelasan.

__ADS_1


"Ngak, tolong sayang jangan marah lagi." Daffa merubah posisinya, kali ini ia menindih tubuh Audry membuat sang istri terkejut dan menahan nafas dengan gerakan refleksnya tersebut.


"Bernafas sayang." Ucap Daffa geli melihat reaksi Audry. Tapi ia segera merubah raut wajahnya menjadi serius karena mendengar decakan sebel sang istri.


" Tolong kasih aku kesempatan." Mohon Daffa dengan posisi yang sama membuat jantung Audry ketar ketir.


"Aku tau, kamu sengajakan dekat dengan guru baru itu agar aku cemburu? dan kamu berhasil sayang. Aku cemburu liat kamu bicara sama dia, aku cemburu kamu senyum sama dia." Jelas Daffa panjang lebar. Dan pengakuannya itu membuat hati Audry tak menentu. Tapi ia tetap memasang wajah juteknya.


"Aku.. Aku sebenarnya... Aku sudah dari awal menyukai mu, makanya aku menerima perjodohan kita." Jelas Daffa lagi gugup. Audry hampir tertawa melihat wajah Daffa yang tiba tiba bersemu diatas wajahnya. Dia berdehem untuk menormalkan suaranya yang bergetar karena posisi mereka yang intim.


"Dia masa lalu ku. Malam itu aku sudah mengakhiri hubungan ku dengannya." Jelas Daffa bersungguh sungguh.


Flash Back


Malam itu Daffa mengantar Laura pulang hingga kedepan rumahnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengantar ku pulang ya sayang." Ucap gadis itu riang.


"Hmm." gumam Daffa


"Kamu ngak mau masuk dulu, mama nanyain kamu mulu lo." Ucap Laura.


"Ngak." Tolak Daffa.


"Ya udah aku masuk dulu. Kamu hati hati ya nyetirnya." Pamit gadis itu. Ia mendekati wajahnya kearah Daffa berniat mencium pipi sang kekasih. Tapi sayang Daffa menghindar membuat Laura kecewa. Tapi ia buru buru merubah ekspresinya kembali menjadi ceria seperti semula.


"Mulai sekarang berhenti menghubungi ku dengan alasan apapun itu." Ucap Daffa dengan wajah datar dan dinginnya membuat gadis disampingnya membeku.


"Ta..tapi ke...." Kalimat yang diucapkan Laura dipotong dengan cepat oleh Daffa.


"Aku sudah menikah, dan gadis dihotel yang aku kejar waktu itu, dia bukan saudara ku melainkan istri ku." Jelasnya datar tanpa melihat lawan bicaranya. Sementara gadis disampingnya sudah menunduk sedih.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan ku?" Tanya gadis itu dengan mata berkaca kaca, ia tak terima dirinya dicampakkan begitu saja oleh laki laki yang ia cintai.


__ADS_2