
Dengan susah payah Daffa meneguk salivanya. Ntah kenapa tubuhnya beraksi berlebihan kala melihat tubuh mulus Audry yang hanya tertutup handuk.
Sementara itu, Audry yang masih terkejut dengan kehadiran Daffa didalam kamar mereka, hanya menunduk malu. Ini pertama kalinya seseorang melihat tubuhnya selain kedua orang tuanya.
"So-sory" Ucap Daffa gugup. Ia segera berbalik membelakangi Audry. Sebrengsek brengseknya dia, Daffa bukanlah sosok laki laki yang akan merusak seorang wanita.
"A-aku kira kamu masih tidur." suara Daffa tiba tiba berubah menjadi serak.
Sejauh ia mengenal cewek. Baru kali ini tubuhnya bereaksi berlebihan saat pertama kali melihat penampilan **** sang istri. Padahal ia sering kali melihat para cewek cewek diluar sana mengenakan CD dan Bra saja saat mandi dikolam renang.
Audry menengada menatap kearah Daffa. Ketika dilihat Daffa tengah membelakanginya, ia segera menyambar pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.
"Turun dan makan malam kata mama!!!" Teriak Daffa didepan pintu kamar mandi saat menyadari istrinya sudah masuk kekamar mandi. Setelah mendengar jawaban dari Audry, Daffa pun keluar dari kamar dengan perasaan yang campur aduk dan muka yang memerah.
"****! kayanya dia punya pelet deh." Gerutunya sepanjang kakinya menuruni tangga.
__ADS_1
"Muka kamu kenapa merah gitu sayang?" Tanya mama Rima heran.
"Cuma gerah ma, naik turun tangga dari tadi." Alibinya dan meraih minuman yang dituang mama Rima untuk papa Septian.
"Ish.. Daff itu minuman papa!" Tegur papa Septian membuat Daffa nyengir tanpa dosa.
"Audry mana?" Tanya papa Septian lagi saat melihat mantunya tak kunjung turun.
"Baru selesai mandi." Ujar Daffa dengan wajah merona saat mengingat tubuh mulus istrinya itu.
Sementara itu dikamar mandi. Audry mondar mandir tidak karuan. Ingin rasanya ia menggetok kepala Daffa dengan sandal rumahan yang ia pakai.
"Kenapa sih dia nyelonong masuk?! kan gue jadi malu kalau ketemu dia nanti!!!!" tak henti hentinya supah serapa dilayangkan Audry pada suaminya. Berharap Daffa mendadak Amnesia, agar melupakan kejadian barusan.
Setelah cukup lama ia berkutat dikamar, akhirnya Audry memilih keluar juga. Karena merasa tak enak dengan kedua mertuanya yang lama menunggu kehadirannya.
__ADS_1
"Malam Ma, pa." Sapa Audry sopan begitu ia sampai dimeja makan. Kedua pasangan paru baya itu tersenyum menanggapi sapaan mantu mereka.
"Malam Daff." Sapa Audry dengan nada selembut mungkin. Padahal dadanya sudah bergemuru sejak ia melihat punggung pemuda itu dari atas tangga.
"Hmm."Gumam Daffa dengan mulut penuh dengan makanan. Membuat mama Rima melotot kearahnya yang dibalas Daffa gerlingan bahu acuh.
Audry memilih duduk disamping Daffa seperti biasanya. Tanpa berucap apa pun ia memulai makan malamnya.
"Bagaimana Honeymoon kalian?" Tanya papa Septian disela makan malam mereka. Audry dan Daffa saling melirik seolah saling memberi kode untuk menjawab pertanyaan dari papa mereka.
"Lancar kok pa." Jawab Daffa. Ia melirik Audry yang saat ini menatapnya.
"Benar nak?" Pertanyaan itu diajukan papa Septian buat Audry. Ntah kenapa bagi Daffa papanya tidak percaya dengan ucapannya tadi.
"I-iya pa." Jawab Audry terbata. Ia sebenarnya ingin jujur pada papa mertuanya kalau Daffa meninggalkannya dikamar hotel untuk berkencan.
__ADS_1
"Baguslah, berarti sebentar lagi papa sama mama punya cucu." Ucap mama Ruma antusias.
"Huuk.. Huuk.." Keduanya kompak terbatuk mendengar penuturan papa Septian.