
Hari terus berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 18:15, tapi dua orang itu masih sibuk dengan resep kue mereka. Bukan mereka, tepatnya mama. Karena sepertinya gadis itu sudah risih dari tadi berada disini. Ditambah lagi dia tak membawa baju ganti dan harus mengenakan kaos oblong ku. Itupun sudah dia tolak tadi, jika bukan mama yang memaksa, ku pastikan tak akan ia kenakan.
Aku tersenyum geli jika mengingat raut wajahnya yang kesal saat menerima baju ditangan ku. Apa tak ada baju lain? kenapa harus memakai baju mu? begitu protesnya tadi. Entah kenapa gadis itu membuat ku tersenyum jika membayangkang wajahnya.
"Daff, kamu antar Audry pulang." Ucap Mama membuyarkan lamunan ku.
"iya ma." Ucap ku cepat seraya bangun mengambil jaket dan kunci mobil di atas meja.
"Jangan ngebut, pelan-pelan aja."Ujar mama lagi.
"Audry, jika anak nakal ini macam macam, kasih tau papa ya nak."Ucap papa pada Audry. Ish si papa sama mama, lupa apa kalau anak mereka aku bukan Audry.
"I-iya pa." Seperti dia masih malu.
__ADS_1
"Ehm,, Daffa kali pa yang anak papa, Audry kan masih calon mantunya papa." Protes ku bercanda.
"Papa ngak perduli, masih calon atau apa. yang penting Audry mantu kesayangan papa." Ucap papa seraya mengelus rambut Calon mantunya.
"Ya iya deh yang punya mantu kesayangan, anak sendiri dilupain." Ujar ku pura-pura ngambek. Mama dan papa tertawa mendengarnya, sedangkan gadis itu, tak breaksi sedikitpun mendengar canda ku.
"Ya udah, kalian hati-hati ya, salam sama Ayah dan Bunda kamu ya nak." Ujar papa lagi yang di angguki sopan oleh Audry dan mengambil tangan papa dan mama bergantian dan mencium punggung tangan mereka, begitupun aku.
Saat ini kami sudah berada didalam mobil, mulai ku jalankan mobil meninggalkan pekarangan rumah.
"pakai jaket ini, biar ngak kedingin." Ucap ku sambil menyodorkan jaketku kepangkuannya.
"Tidak, terima kasih." Tolaknya halus dan meletakkan jaketku digasbon mobil. Aku tidak suka ditolak. Akhirnya aku menepikan mobil dipinggir jalan yang agak sepi.
__ADS_1
"Ada apa? apa bannya bocor?" Suaranya terdengar panik
"Pakai jaket itu." Ulang ku. Ku dengar dia menghela napas kasar.
"Kamu maunya apa sih?! Ini aku udah pakai baju kebesaran kamu, celana kamu juga, masih kurang?!" Ucapnya dengan nada agak tinggi, ini kali pertama ku dengar ia meninggikan suara.
"Mau pakai sendiri atau aku yang pakaiin?!"Ancam ku sambil menatapnya tajam. Ia berdecak seraya memakaikan jaketku ke tubuh mungilnya.
"Udah!. Puas?!"Ucapnya tanpa menatap ku. Aku tau dia tak terlalu suka berurusan dengan ku. Entah apa yang ketiga sahabatnya bicarakan tentang ku padanya. Tapi aku tak perduli.
"Sangat puas baby." Godaku menggerlingkan mata nakal. Dia memalingkan muka ke arah jendela, sepertinya gadis ini sangat sulit untuk ku taklukkan. Tapi kita liat saja, jangan sebut aku Daffa Wijaya jika kau tak jatuh cinta padaku Audry Federica.
Kembali ku jalankan mobil menuju ke kediaman calon tunangan ku ini. Seperti yang kalian tahu, jika bersamanya maka mobil ini akan seperti kuburan. Hanya ada suara mesin mobil dan musik yang terdengar, karena gadis disamping ku akan diam membisu jika dia bersama ku. Hingga kami sampai tujuan akan tetap seperti ini.
__ADS_1