
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa hari sudah akan gelab. Kedua gadis itu pun sudah sejak tadi keluar dari salon.Keduanya kini sedang turun kelantai bawah menggunakan eskalator.
"Daffa masih dibawah?" Tanya Sisi disela langkah mereka menuruni Eskalator.
"iya.. Baru selesai rapat katanya." Balas Audry.
"Oh... Btw, Setelah lulus nanti, rencananya elo mau lanjut dimana?" Tanya Sisi, sambil menyeruput minuman yang tadi mereka beli dilantai atas.
"Gue sih maunya sekolah kedokteran diluar negeri. Tapi ngak tahu, diizinin apa ngak sama Daffa." Ucap Audry.
"Emang elo belum bicarain ini sama si kunyuk?" Tanya Sisi yang dibalas gelengan kepala oleh Audry. Sisi pun menghelai nafas panjang.
"Coba aja elo bicarain sama si kuyuk, mungkin dia ngizinin." Saran Sisi.
"Ntar deh gue coba bicariin." Balas Audry
"Kalau Elo?" Kali ini giliran Audry yang bertanya.
"Gue sih maunya Kulyah Fashion gitu." Jawab Sisi lemas. Audry mengernyit.
"Tapi bokap ngak ngisinin." Lanjut Sisi lagi.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena bokap maunya, gue kulyah bisnis." Sisi menjeda kalimatnya. Guna menarik nafas agar sanggup melanjutkan ceritanya.
"Seperti elo yang ngak punya saudara, gitu juga gue. Gue putri satu satunya mereka. Jadi mereka mau, suatu saat nanti gue jadi pengganti bokap kelak." Lanjutnya lagi dengan wajah merung.
"Lalu nyokap lo?" Tanya Audry.
"Nyokap gue sih ngak ngomong apa apa." Jawab Sisi semakin lemas. Baru saja Audry mau mengatakan sesuatu, tiba tiba saja seseorang menabraknya dan membuat minuman ditangannya tertumpah mengenai bajunya.
Bugh
"Awww... Hei elo punya mata ngak sih?!!" Amuk Sisi, karena ternyata ia pun terkena cipratan minuman yang Audry pegang.
"Gue bantu bersiin." Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya yang memegang tissu ke arah Audry dan Sisi.
"Sini! Gue bisa sendiri!!" Sisi merampas kasar tissu ditangan gadis tersebut dan memberikannya ke Audry setelah ia mengambil beberapa lembar untuk dirinya sendiri . Gadis itu hanya menunduk berkali kali dan mengucapkan maaf berkali kali pula.
Setelah dirasa bajunya bersih, Audry pun mendongak menatap gadis didepannya.
"Thank's, ini gue balikin tissunya." Audry tersenyum lembut kearah gadis didepannya, dan mengembalikan sisa tissu yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Ck, harusnya tuh, elo marah. Bukannya berterima kasih." Sungut Sisi kesal.
"Maaf, tadi gue ngak liat jalan karena terburu buru." Ucap Gadis itu, menatap bergantian kearah Audry dan Sisi.
"Ya, ngak apa apa, gue ngerti kok."Lagi lagi senyum maklum yang terukir diwajah Audry.
"Kenalin nama gue Laura." Gadis itu mengulurkan tangannya kearah Audry dan Sisi.
"Audry." Membalas uluran tangan Laura. Sementara itu, Sisi terlihat tak minat sedikit pun berkenalan dengan gadis didepannya.
"Si." Audry menyikul lengan Sisi.
"Apa sih!" Tanya Sisi tak suka kearah sahabatnya itu. Audry memberi isyarat pada Sisi dengan matanya. Dengan perasaan dongkol, Sisi pun mengulurkan tangannya.
"Sisi!" Ketus, dan segera menarik tangannya sebelum Laura menyebut namanya.
"Udahkan, yuk pulang." Ajak Sisi pada Audry. Ia sungguh tak suka pada Laura, yang sudah membuat baju kesayangannya basah. Sisi yakin, jika gadis itu pasti sengaja menabrakkan dirinya pada mereka.
"Ah, iya." Audry pasrah.
"Laura, Gue sama Sisi pamit dulu ya." Pamit Audry dengan mimik tak enak kearah Laura, yang dibalas gadis itu senyum maklum.
__ADS_1
Mereka pun melenggang pergi, meninggalkan Laura yang menatap punggung mereka dengan ekspresi yang ntahlah.
Sementara itu Audry, mengernyit saat mengingat wajah gadis itu. Sepertinya tak asing. batinya berucap.