Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Baikkan


__ADS_3

"Tapi bagaimana dengan ku?"Tanya gadis itu dengan mata berkaca kaca, ia tak terima dirinya dicampakkan begitu saja oleh laki laki yang ia cintai. Daffa menghelai napas panjang .


"Kita akhiri saja hubungan ini, karena sejujurnya aku tak memiliki perasaan apapun pada mu." Sudah terdengar isakan dari bibir **** gadis disampingnya. Daffa sudah memprediksi ini.


"Aku begitu mencintainya, mungkin saat ini dia belum mencintai ku. Tapi aku yakin suatu hari dia bisa mencintai ku seperti aku mencintainya." Lanjutnya.


"Aku mempertahankan mu hanya karena ingin memastikan hati ku saja saat itu. Apakah benar aku sudah jatuh cinta padanya atau hanya ketertarikan seorang laki laki pada seorang wanita." Tambahnya lagi membuat gadis disampingnya semakin terisak.


"Tapi nyatanya aku tak bisa jauh darinya, tak bisa melihatnya sedih, bahkan aku tak rela ia dekat dengan laki laki manapun." Ia tersenyum tipis saat mengucapkan kalimatnya saat ini. Menandakan bahwa ia sungguh menginginkan pernikahannya itu. Sementara gadis disampingnya tak mampu mengatakan apapun lagi.


"Maaf karena memberi mu sebuah harapan palsu, yang tak bisa aku wujudkan." Sesalnya sambil menatap gadis disampingnya yang saat ini tertunduk sedih.


"Kau gadis yang baik, aku yakin banyak pemuda yang baik diluar sana selain aku yang bisa membahagiakan mu." Lanjut Daffa lagi.


"Tapi aku... aku hanya...ingin kamu Daffa. Hikz.." Isakannya semakin menjadi.

__ADS_1


"Sorry Laura. Aku tidak bisa." Ucap Daffa. Keadaan hening untuk sesaat. Hingga akhirnya Laura bersuara.


"Kau berengsek Daffa....Hikzz.." Upat laura sambil memukul lengan Daffa dengan kedua tangan mungilnya.


"Ya aku tahu, aku brengsek." aku Daffa.


"Masuklah, mama mu pasti sudah mencari mu dan lagi pula istri ku pasti cemas menunggu ku diApartemen." Lanjutnya lagi. Dengan Isak tangis yang menjadi jadi, akhirnya gadis itu pun keluar dari mobil dan masuk kerumah tanpa menatap kearah Daffa*.


Flash Back Off


"Bagaimana aku bisa percaya pada mu." Ucap Audry yang masih ragu dengan penjelasan Daffa barusan.


"Lalu kau mau aku bagaimana, supaya kau bisa percaya pada ku." Tanya Daffa.


"Aku mau bukti." Ucap Audry.

__ADS_1


"Aku akan membuktikannya pada mu, jika aku tak memiliki gadis lain lagi diluar sana." Ucap Daffa mantap. Audry hanya mangut mangut saja.


"Ngomong ngomong, sampai kapan kita akan seperti ini?" Tanya Daffa dengan wajah menggodanya kearah sang istri. Audry memasang wajah datarnya saat menyadari tatapan menggoda sang suami.


"Ngak usah ngarap, aku belum memaafkan mu!" ketus Audry. Ia segerah bangkit tapi lagi lagi ia meringis saat bagian bawah tubuhnya terasa nyeri.


"Mana yang sakit sayang." ucap Daffa panik. Terlihat jelas wajahnya yang cemas dengan keadaan sang istri.


"I..itu.." Audry menunduk, Ia tak sanggup mengatakannya karena malu. Daffa yang mengerti maksudnya, Ia pun bangkit dari tempat tidur dengan tubuh polosnya membuat Audry teriak.


"Daaaafffffaaaa.. Ish pake dulu bajunya." Teriaknya sambil menutup mata. Daffa terbahak bahak melihat reaksi Audry.


"Ngak usah malu. Tadi malam kamu kan udah liat dan lagi kamu juga udah nikmatin." Ucap Daffa vulgar tanpa dosa membuat sang istri mendengus sebal.


"Dasar mesum." Upatnya kesal. Daffa hanya terkekeh menanggapinya.Ia mengangkat tubuh polos Audry dan membawanya masuk kekamar mandi.

__ADS_1


Terima kasih karena tetap setia dengan cerita saya ini. Bagi yang ngak suka. Ngak usah dibaca, saya tidak memaksa kalian untuk membacanya.🙏😊


__ADS_2