Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Wejangan Bunda


__ADS_3

Pagi harinya. Audry yang terlebih dulu membuka matanya . Ia sempat terkejut saat mendapati Daffa lagi lagi memeluknya saat tidur.


Padahal semalam ia sudah membuat pembatas dengan guling agar Daffa tak melewatinya.


"Dasar nyebelin. Ngambil kesempatan dalam kesempitan." Gerutu Audry. Ia memindahkan lengan Daffa yang melingkar diperutnya kesamping dengan perlahan.


Setelah memastikan Daffa tak terusik dengan pergerakannya. Ia pun bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sebenarnya tanpa Audry sadari, Daffa sudah bangun terlebih dahulu darinya. Senyum penuh kemenangan terbit diwajah tampan itu.


"Aku yakin bisa menaklukkan mu." Ujarnya menyeringai. Ia pun bangkit dan turun kelantai bawah untuk menyapa ayah dan ibu mertuanya.


Tak selang berapa lama Audry sudah turun dengan baju rumahannya. Ia terlihat segar dan wangi. Ia menyapa kedua orang tuanya.


"Pagi Ayah, Bunda." Sapanya mencium pipi kedua orang tuanya bergantian. Lalu ia melirik sang suami.


"Pagi Daff." Sapanya.

__ADS_1


"Pagi juga "Sapa Daffa balik.


"Ngak dicium pipi suaminya?" Goda sang Bunda. Seketika pipi Audry jadi memanas karena ucapan sang Bunda. Semua orang tertawa melihatnya termasuk Daffa.


"Ish..Bunda ihhh.." Rajuknya manja. Ia memeluk bunda Riana untuk menyembunyikan mukanya yang merah karena malu.


Hahahaha..Tawa semua orang memenuhi ruang tamu keluarga Dirja itu. Melihat itu hati Daffa merasa hangat. Keluarga kecil ini begitu saling mencintai begitu fikirnya.


"Kamu udah mandi Daff?" Tanya bunda Riana setelah aksi bercanda mereka selesai.


"Belum Bun. Tadi nunggu Audry keluar dari kamar mandi Daffa langsung turun kesini." Ujar Daffa sambil menggeleng.


"Sayang, siapin air hangat buat suami kamu." Ucap bunda lagi. Beliau menatap Audry yang sejak tadi menempel padanya.


"Daffa bisa nyiapin sendiri Bun. Iyakan Daff?" Tolak Audry. Ia tak mau melayani suaminya itu. Memangnya aku pembantunya apa gitu kata hati Audry.


"Ish sayang. Ngak boleh gitu sama suami." Ucap bunda Riana mengingati. Pak Danu dan Daffa hanya diam mengamati keduanya.

__ADS_1


"Kalau jadi istri itu kudu wajib ngelayanin suami."Ucap bunda Riana lagi.


"Jangan ngebantah apapun kata suami. Kalau suami mau makan kamu harus nyiapin, baju kerjanya juga harus kamu yang nyiapin. terus kalau mau kerja anter dia keluar" Ucap bunda Riana. Audry diam saja. Kalau ngebantah pasti diomelin lagi fikirnya.


"Tuh dengar kata bunda kamu." Ujar ayah Danu.


"Jadilah istri yang berbakti sama suami." Tambah ayah Danu lagi. Audry hanya mengangguk. Ia melirik Daffa yang sejak tadi mendengar petua kedua orangtuanya.


"Gu- eh.Maksudnya Aku akan nyiapin air hangatnya dulu. Nanti aku panggil." Ucap Audry sengera berlalu dari ruang tamu menuju kamarnya. Ia sebel karena melihat senyuman mengejek dari Daffa tadi saat kedua orang tuanya menasehati Audry.


"Makin besar kepala aja tu si Ketos Resse." Gerutunya. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan wajah tertekuk.


Setelah selesai Audry keluar berniat memanggil Daffa. Tapi Daffa sudah berdiri menjulang dihadapannya.


"Yang iklas donk hon." Ucap Daffa. Ia puas melihat wajah Audry kesal padanya.


"Sana minggir. Gue mau lewat." Ucap Audry ketus. Ia tak bisa keluar karena Daffa berdiri diambang pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Bilang sayang dulu. Baru aku minggir." Ucap Daffa bermaksud menggoda sang istri. Ntah kenapa dia senang sekali menggoda gadis itu. Mukanya yang jutek sangat menggemaskan dimata Daffa.


__ADS_2