
Kami berjalan beriringan, mau gimana lagi ini orang resse pakai nyeret tangan ku segela, dikira aku ngak bisa jalan sendiri apa. ish bikin kesel aja.Dengan wajah yang tertekuk dalam, aku mengikuti langkahnya. Eh? tapi tunggu dulu, ini bukan jalan ke kamar hotel yang kami tempati, melain ke parkiran hotel.
"Eh, Elo mau bawa gue kemana?" Ucapku bingung. Dia hanya diam tak menggubris ucapan ku.
"Masuk." Ucapnya dingin dan membukakan pintu mobilnya. Kok merinding ya dengar suaranya.
"Gak mau."Tolak ku, mengibaskan tangan agar tangannya yang besar terlepas dari lenganku.
"Masuk Hon"Ucapnya berubah lembut. Aku semakin takut mendengar perubahan suaranya, apalagi sekarang dia sedang tersenyum kearah ku.
"Gue mau tidur." Ucapku hendak pergi dari hadapannya. Tapi terlambat, tangan ku sudah dicekal lagi olehnya.
"Mau masuk sendiri? atau perlu digendong?" Bisiknya tepat ditelinga ku membuat ku merinding. Aku mendengus sebal dan mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh dariku. Membuat ku susah bernapas saja.
"Minggir." Ucapku ketus dan masuk ke dalam mobilnya dengan muka tertekuk.
"Pintar, kenapa ngak dari tadi aja sih Hon." Ucapnya dan mengusap rambut ku lembut. Ntah kenapa, perlakuan lembutnya kini mengundang sensasi aneh dihati ku. Yang baru pertamana kali aku rasakan. Aku mengerjap untuk menghilangkan fikiran ngaur ku itu, segara aku menepis tangannya dari rambut ku dan melotot tajam kearahnya, dia malah tertawa membuat ku semakin kesal.
__ADS_1
Sepanjang jalan seperti biasanya, aku lebih memilih diam ketimbang bicara. Entah kenapa, jika bersamanya, aku malas mengeluarkan suara. Ketika aku sibuk dengan fikiran ku, tak aku sadari mobilnya berhenti disebuah gedung yang sangat tinggi.
"I-ini dimana?" Tanya ku bingung. Dia tak merespon dan malah keluar yang membuat ku semakin bingung.
"Ayo keluar."Ucapnya seraya melepaskan sabuk pengaman ditubuh ku. Eh kapan dia membuka pintu mobil disampingku? batin ku.
"Kita dimana?" Ucap ku lagi. masih setia duduk dimobil.
"Keluar dulu Hon." Ucapnya.
"Jawab dulu." Ucapku tegas
"Ngapain elo ngajak gue kesini."Ucap ku penuh selidik.
"Menurut mu?" Ucapnya menyeringai, membuat ku bergidik.
"Jangan macam-macam, gue akan teriak." Ucap ku waswas. Dia malah tertawa.
__ADS_1
"Kamu lupa ya Hon kalau kita itu udah tunangan kemaren, jadi kalau kita macam-macam ngak masalah donk." Bisiknya lagi. Ish nih orang ingin rasanya ku tabok aja deh kepalanya
" Ayo keluar." ucapnya dan menuntunku masuk ke gedung tinggi ini. Eh jangan heran ya aku ngak tau apartemen, kalian pada tahu kan kalau aku berasal lari luar kota.
☆☆
Kami sampai di lantai 10, aku masih setia mengikutinya dari belakang. Aku mengedarkan arah pandang ku ke segalah arah, sungguh aku begitu takjub dengan gedung ini.
"Ayo Hon,"Ucapnya menghentikan rasa takjub ku.
"ini Apartement siapa?" Ucap ku saat masuk kedalam ruangan nuansa Hitam Putih ini.
"Apartement Abang Dika." Ucapnya, Abang Dika yang dia maksud itu adalah Kakaknya, yang saat ini berada diluar negeri.Aku hanya berOh ria menanggapi ucapannya.
"Kalau kita menikah, kau ingin tinggal dimana?"Tanyanya yang berhasil membuat ku menoleh ke arahnya.
"Hah? Maksud loh?"Tanya ku balik.
__ADS_1
"Mau di Apartemen atau Rumah?" Ucapnya lagi.
"Terserah." Jawab ku enteng.