Ketua Osis Reseh

Ketua Osis Reseh
Dibela Audry


__ADS_3

"Hon biar aku jelasin dulu." Daffa mengetuk kaca jendela taxi yang Audry tumpangi. Tapi tak dihiraukan oleh Audry. Mala taxi yang Audry tumpangi telah melaju meninggalkan Daffa yang terus terusan teriak memanggil nama istrinya.


"Ahhh sial!!!" Teriak Daffa frustasi saat taxi sudah menjauh. Ia pun segera masuk kemobil dan mulai mengikuti taxi tersebut dari belakang. Ia terlihat gusar saat melihat arah taxi menuju kekediaman Wijaya. Dia takut mama dan papanya marah melihat Audry pulang dalam keadaan menangis seperti saat ini.


Hingga taxi berhenti didepan kediaman Wijaya. Dengan cepat Daffa menghampiri Audry yang baru saja turun dari taxi setelah membayar ongkos taxi. Daffa menarik pergelangan tangan Audry agar menghadap kearahnya.


"Hon, Aku bisa jelasin semuanya." Daffa meraih tubuh Audry kedalam dekapannya. Tapi Audry memberontak.


"Lepas!" Sambil memukul punggung Daffa agar pelukannya terlepas.


"Dia hanya masa lalu ku sayang." Ucap Daffa. Audry masih memberontak dalam dekapan Daffa.


"Berhenti berbohong! Kejujuran mu yang aku harapkan." Ucap Audry lirih sambil memukul punggung Daffa dengan kedua tangannya.


"Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ku." Pinta Daffa masih memeluk tubuh mungil Audry. Tak ada respon dari Audry selain suara isakan yang terdengar lirih ditelinga Daffa.

__ADS_1


"Maaf."Sesalnya. Ia mempererat pelukannya pada tubuh mungil sang istri meskipun Audry tak membalas pelukkannya. Hingga pelukkan mereka terlepas karena kehadiran sang mama yang baru keluar dari dalam rumah.


"Kalian sudah pulang?" Suara mama Rima membuat keduanya diam. Audry memilih menunduk agar mama Rima tak melihat wajahnya yang memerah karena menangis.


"Wah sayang kamu ganti model rambut. Coba mama liat." Mama Rima Antusias. Beliau mendekat kearah Audry membuat Daffa gusar ditempatnya berdiri.


"Wah mantu mama can- loh kamu nangis?" Suaranya berubah panik. Beliau menatap Daffa tajam meminta penjelasan.


"Kenapa mantu mama bisa nangis." tanya mama Rima garang membuat Daffa semakin gusar. Ia sudah akan menjawab pertanyaan sang mama.


"Kamu apain mantu mama sampai nangis kaya gini." Sandal rumahan yang mama Rima pakai mendarat dipunggung Daffa.


"Aww.. Ampun ma.." Ringis Daffa. Karena tak puas mama Rima menarik telinga Daffa keras.


"Kamu diapain sama dia sayang? kasih tau mama, biar mama aduin sama papa." Tanya mama Rima pada sang mantu yang sejak tadi menunduk. Bukannya menjawab Audry semakin terisak.

__ADS_1


"Ma Lepas dulu telinga Daffa sakit ma." Pinta Daffa pada sang mama. Bukannya terlepas, tangan mama Rima yang satunya mala mencubit lengan Daffa.


"Aww.. ma ini namanya kekerasaan pada anak." Ujar Daffa sambil meringis.


"Biarin! Siapa yang mengajarkan mu menyakiti hati perempuan?!" Teriak mama Rima.


"Apa kamu sadar, air mata seorang istri adalah dosa bagi seorang suami!" Bentak mama Rima lagi. Daffa hanya meringis tanpa mampu menjawab ucapan sang mama.


"Ngak gitu Ma." Ucap Audry berniat menghentikan amukan mama Mertuanya pada sang suami.


"Audry hanya kesel sama Daffa karena ngak nepatin janji." Ucap Audry lagi. Daffa menengada menatap wajah sang istri yang masih menunduk.


"kamu dijanjiin apa sama anak nakal ini sayang." Tanya mama Rima.


"Dia janji akan nginap dirumah Ayah tadi malam, tapi nyatanya dia ngajak Audry ke Apartemen Bang Dika." Ucap Audry lirih. Ia sengaja tak mengatakan yang sebenarnya pada mama mertuanya. Karena tak ingin membuat keributan.

__ADS_1


maaf ya cerita aku mengaduk aduk perasaan kalian😁


__ADS_2