
"Daffa udah pulang?" Tanya Sisi. Saat ini keduanya masih di salon. Audry menggeleng.
"Katanya sih lagi di Lantai satu. Ada pertemuan sama papa dan rekan bisnis nya." Jelas Audry, sambil membalas chat dari Daffa yang baru masuk. Sementara Sisi hanya berOh ria menanggapinya.
"Lo bahagiakan?" Tanya Sisi lagi. Audry yang habis membalas pesan dari Daffa pun, menatap Sisi dan memasang senyum manisnya.
"Bahagia kok. Walau pun Daffa tiap hari nyebelin dan sifat Resse nya ngak ilang ilang. Tapi gue senang kok." Balas Audry masih dengan senyum manisnya, membuat Sisi ikutan tersenyum.
"Syukurlah kalau lo bahagia." Sisi tersenyum lega.
"Gue khawatir aja, Daffa balik jadi player lagi" Sambungnya lagi.
"Makasih karena udah khawatir."Tersenyum kearah Sisi.
"Elo tau, Serly juga sering banget nanyain hal yang sama kaya yang elo tanyain." Lanjutnya.
"Lo gak kenal Daffa dulu sih." Ucap Sisi lirih, tapi masih mampu didengar oleh Audry.
"Emang Daffa dulu gimana?" Memandang Sisi penasaran. Sisi menghelai nafas panjang.
"Suka gonta ganti pacar." Ucap Sisi.
__ADS_1
"Tapi kayanya, sekarang dia udah berubah banyak semenjak kenal lo." Sambung Sisi lagi.
Sementara Audry hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hati ia berdoa, semoga suaminya itu tetap seperti saat ini. Setia padanya seperti yang Daffa janjikan dulu, saat meminta kesempatan padanya.
Sementara itu, dilantai satu. Daffa dan papa Septian yang saat ini berada direstaurant tengah mengadakan pertemuan bisnis dengan rekan papa Septian dari luar kota.
"Selamat siang tuan Wijaya." Sapa pria paruh baya seusia papa Septian. Daffa dan papa Septian pun mendongak saat mendengar sapaan itu. Mereka berdua pun bangkit dan mengulurkan tangan saat pria paruh baya yang tadi menyapa mereka mengulurkan tangan kearah merwka.
"Siang juga pak Kusuma." Balas papa Septian ramah.
"Apa ini putra bungsu anda?" Menunjuk Daffa dengan ibu jarinya, demi kesopanan.
"Ah, iya.. Ini Daffa putra bungsu saya." Ucap papa Septian sambil menepuk punggung Daffa, sebagai isyarat agar Daffa memperkenalkan diri.Daffa pun mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
"Putra anda sangat tampan tuan Wijaya." Goda tuan Kusama yang dibalas tawa oleh papa Septian dan senyum Canggung Daffa.
Akhirnya mereka pun duduk dan mulai membicarakan masalah kerjasama antara perusahaan mereka.
Setelah mencapai kesepakatan dari kedua bela pihak, merekapun melanjutkan ke acara makan siang dan berbincang bincang, guna mengakrabkan diri satu sama lain.
"Ah, saya dengar Nak Daffa masih kelas XII ya sekarang?" Tanya tuan Kusuma disela acara makan siang mereka.
__ADS_1
"Iya pak." Jawab Daffa sopan.
"Sebentar lagi akan ujian ya?." Tanya tuan Kusuma lagi. Daffa pun hanya menjawab 'iya'.
"Apa benar Nak Daffa sudah menikah?" Terlihat jelas raut penasaran dari wajah pria paru baya ini.
"Iya tuan kusuma." Jawab papa Septian.
"Anda tahu Danu? " Lanjut papa Septian lagi.
"Ah, Danu Dirja? tentu tuan Wijaya, siapa yang tak kenal dengan orang kepercayaan tuan Wijaya yang satu itu." Tersenyum cerah, meski ia bingung, kenapa harus membicarakan orang kepercayaan Wijaya grub saat ini.
"Menantu saya adalah putri satu satunya dari Danu Dirja." Seolah dapat melihat kebingungan diwajah tuan Kusuma.
"Wah, Danu memiliki putri?" Malah terlihat antusias. Sekarang Daffa yang bingung menatap kearah rekan bisnis papanya itu. Apa pria paru baya ini tertarik dengan istrinya. Ia berdecak tak suka dengan fikirannya sendiri.
"Audry menantu saya, satu satunya putri dari Danu." Jawab papa Septian dengan senyum hangat saat mengingat menantunya.
"Terlihat jelas anda begitu menyayanginya." Ucap tuan Kusuma.
"Jika anda melihatnya dan anda memiliki putra, pasti anda akan berfikir untuk menjadikannya menantu." Tetawa kecil kearah tuan Kusuma.
__ADS_1
"Pa!" Tegur Daffa dengan mimik tak suka kearah papanya. Yang membuat kedua paru baya itu terbahak bahak.
"Wah,,Saya jadi penasaran dengan menantu anda tuan Wijaya." Dengan aksen menggoda kearah Daffa.