
Sabtu pagi, tepatnya jam 5 pagi kedua orang tua Audry telah berangkat ke kampung halaman mereka guna menyelesaikan proyek pembangunan sebuah unit perbelanjaan diberbagai daerah.
Sepanjang mengantar kedua orang tuanya kebandara, drama haru terus saja terjadi. Karena Audry yang tak mau melepaskan pelukkannya dari sang Bunda. Membuat Daffa ekstra sabar membujuk sang istri yang baru ia ketahui memiliki sikap yang kekanak kanakan.
Tapi bukannya ilfeel, Daffa justru senang. Karena menurutnya, saat menlihat Audry merajuk dan merengek seperti itu, membuatnya sangat gemes.
Setelah pesawat yang ditumpangi kedua orang tua Audry lepas landas, seluruh keluarga Wijaya pun meninggalkan bandara menuju tujuan masing masing. Tuan dan Nyonya Wijaya menuju kediaman Wijaya, sedangkan Daffa dan Audry menuju sekolah, untuk menyelesaikan sisa ujian mereka.
¤¤
"Jangan sedih dong Hon." Ucap Daffa pada Audry yang sejak pagi tadi hanya diam membisu dengan wajah murung yang tak jua berubah. Saat ini keduanya sedang berada didalam mobil menuju Kaffe milik Daffa.
"Bagaimana kalau kita susul aja Ayah dan Bunda besok?" Ucapnya lagi seraya sebelah tangannya menggenggam tangan Audry yang berada dipangkuan sang istri dan sebelahnya lagi berada pada kemudi. Audry yang tadinya menatap keluar jendela dengan pandangan sendu, kini menoleh dan menatap pada Daffa yang masih fokus dengan jalanan didepannya.
"Ngak usah." Ucap Audry seraya menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik napas panjang lalu membalas genggaman tangan Daffa, lalu memasang senyumnya kearah Daffa.
"Pasti sekarang kamu berfikir aku kekanak kanakkan." Ucap Audry lirih dan menundukkan kepalanya menatap kedua tangannya yang berada dipangkuannya yang sedang digenggam Daffa.
Daffa menoleh saat mendengar ucapan lirih sang istri, saat melihat jalanan agak sepi ia pun menepikan mobilnya.
"Ngak sama sekali." Ucap Daffa. Ia memiringkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Audry.
__ADS_1
"Kamu pasti ilfeelkan sekarang sama aku." Lirih Audry.
"Kenapa?" Tanya Daffa heran.
"Listen to me. Mau kamu kekanak kanakkan, kaya bayi kek, ingusan, ileran sekali pun, aku tetap cinta kok." Ucap Daffa tulus. Dan Audry bisa melihat kesungguhan pada mata Daffa saat ia mengucap kalimatnya itu. Membuat pipi Audry bersemu.
"Dih gombal!" Ucap Audry lirih sambil memukul lengan Daffa sedikit keras membuatnya meringis.
"Awwhh Yank." Ringis Daffa seraya mengelus lengannya yang memanas karena pukulan Audry.
"Maaf.. Abis kamu sih gombal, dasar nyebelin!" Gerutu Audry sambil mengelus lengan Daffa lembut. Daffa hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Walau nyebelin, tapi kamu suka kan?" Goda Daffa yang lagi lagi membuat pipi Audry bersemu.
"Why?" Tanya Daffa dengan raut wajah geli karena melihat cara Audry merajuk.
"Ngak usah pura pura lupa! Tadi kamu ngatain aku ileran, ingusan!" Jawabnya ketus dengan bibir menyeruput sebel, membuat Daffa terkekeh geli sekaligus gemas.
"Daffa!" Teriak Audry kesal karena Daffa menertawainya.
"Habisnya kamu gemesin." Jawab Daffa dengan senyum geli yang tak ditutup tutupi.
__ADS_1
Sepanjang jalan tak henti hentinya Daffa menggoda Audry yang membuat sang istri kadang merajuk dan kadang bersemu karena gombalannya.
¤¤
Minggu pagi dikediaman Wijaya.
Pagi pagi sekali Audry sudah bangun untuk belajar membuat kue bersama mama mertuanya.
"Pagi ma." Sapa Audry pada mama Rima, saat ia sampai didapur.
"Pagi juga sayang." Balas mama Rima.
"Daffa mana?" Tanya mama Rima lagi, karena melihat menantunya turun sendiri tanpa sang putra.
"Masih tidur ma." Jawab Audry dan berjalan mendekat ke mama mertuanya.
"Kita mau buat apa hari ini ma?" Tanya Audry sambil membantu mama Rima yang menata bahan kue diatas meja dapur.
"Enaknya kita buat bolu aja. Gimana?" Tanya mama Rima balik.
"Riri terserah mama aja. Kan Riri cuma bantu sekalian belajar. " Jawab Audry antusias, membuat mama Rima tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Keduanya pun kini asik dengan adonan kue yang akan mereka buat. Sedangkan bi Surti ART dikediaman Wijaya, pagi pagi tadi sudah ke pasar untuk belanja keperluan dapur.
"Selamat pagi bidadari bidadari ku."