
Sampai dikamar Audry masih diam. Ia mengamati kamar Daffa yang begitu luas. Berbeda dengan kamarnya dulu yang tak seluas kamar Daffa. Tempat tidur yang besar, meja rias disisi kiri ranjang yang sudah dilengkapi dengan peralatan Daffa diatasnya.
Disudut ruangan terdapat Lemari besar dengan empat pintu. Sofa yang berada dipojok ruangan dan meja TV. Seperti sebuah hotel bintang lima, begitu fikir Audry. Mata Audry juga menangkap foto pernikahanya yang dipasang diatas tempat tidur dengan bingkai besar.
"Sampai kapan mau berdiri dipintu?" Ucap Daffa membuyarkan segala kekaguman Audry dengan luas kamar Daffa itu.
"Hah? I-iya." Ucapnya gugup. Ia berjalan mendekat kearah Daffa.
"Baju kamu biar diatur bi Surti dilemari bagian kanan. Sedangkan baju aku udah diatur disebelah kiri." Jelas Daffa. Audry hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak lama bi Surti datang membawa koper Audry. Mereka mengatur baju baju Audry seperti yang dikatakan Daffa tadi. Setelah selesai urusan beres memberes. Audry memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Karena tadi saat ia berberes, Daffa sudah mandi duluan.
☆☆☆
Malam harinya dikediaman Wijaya.
__ADS_1
Saat ini, seluruh keluarga inti Wijaya tengah berkumpul diruang makan. Mereka sedang menikmati makan malam.
"Bagaimana sayang. Kamu sukakan dengan pengaturan kamar kalian?" Ucap mama Rima diselah acara makan malam mereka. Audry mendongak menatap mama mertuannya.
"Suka ma." Ucap Audry. Ia tersenyum kepada mama mertuanya.
"Syukurlah kalau kamu suka." Ucap mama Rima senang.
"Tapi, jika kamu merasa ada yang kurang, bisa bilang ke Daffa atau mama langsung. Nanti biar mama cek ulang." Ucapnya lagi. Audry lagi lagi mengangguk sopan.
"Iya ma." Ucap Audry. Sementara tuan Septian dan Daffa hanya diam saja menikmati makan malam mereka sambil mendengar kedua wanita itu ngobrol.
"Kalian masih liburkan besok?"Ucap tuan Septian. Beliau memandang putra dan juga mantunya.
"Iya Pa. Soalnya Daffa cuma minta libur lima hari sama Om Arman kemaren." Jelas Daffa.
__ADS_1
"Tersisa tiga hari." Ucap papa Septian sambil memandang Daffa dan Audry bergantian. Keduanya mengernyit saling memandangi dengan bingung.
"Pergilah ke pula dewata. Ajak istri mu bulan madu. Nanti biar papa yang minta izin sama om Arman buat tambahin libur kalian tinggal satu hari lagi." Ucap papa Septian lagi. Mama Rima dan Daffa mengangguk setuju. Berbeda dengan Audry yang terkejut mendengar perkataan papa mertuanya.
"Gimana Audry? kamu setujukan?" Ucap papa Septian pada mantunya. Karena melihat Audry diam saja sejak tadi.
"Audry terserah papa, mama sama Daffa aja." Ucapnya memaksakan senyumnya.
"Baiklah. Kalau begitu, kalian istirahat sana. Supaya besok pagi pagi kalian bisa berangkat." Ucap Mama Rima.
"Tapi Audry belum ngabarin Ayah sama Bunda." Cicit Audry. Sebenarnya ia tak ingin pergi kemana pun apalagi bulan madu dan hanya berdua saja dengan Daffa.
"Kita telpon Ayah aja Hon untuk memberitahu mereka." Ucap Daffa memberi saran Audry.
"Iya sayang kamu bisa telpon Bunda kamu sekarang." Ucap mama Rima antusias. Dengan berat hati Audry mengangguk dan bangkit berniat mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Pakai Handphone aku aja Hon." Ucap Daffa mengurungkan niat Audry. Dan lagi lagi Audry mengangguk dengan senyum kepalsuannya. Ia mengambil ponsel ditangan Daffa dan menelpon sang Ayah.
'Bulan Madu? Astaga. itu si Resse ngak bisa apa bilang ngak gitu sama kedua orang tuannya!'batin Audry menggerutu kesal.