
Sudah lima hari sejak kejadian di Aparteman Daffa, Audry menghindar dari Daffa. Setiap Daffa menelpon tak ia angkat, pesan dari Daffa pun tak dibalas atau di baca. Jika Daffa datang kerumah, ia tak akan keluar dari kamar dengan alasan sakit atau sibuk. Jika melihat Daffa, kejadian di Apartement akan melintas difikirannya.
☆☆FlashBack☆☆
"*Masuk Hon,"Ucap Daffa pada sang tunangan.
"Untuk apa kita kesini?"Ujar Audry bingung.
"Aku datang mengambil barang bang Dika." Ucap Daffa menuntun Audry duduk disofa.
"Duduklah dulu Hon"Ucap Daffa dan meninggalkan Audry masuk kesebuah ruangan.
Tak selang berapa lama Daffa keluar membawa sebuah map ditangannya, dan mendapati Audry tertidur dengan posisi bersandar pada sofa. Daffa mendekat dan duduk disamping Audry dengan perlahan memindahkan kepala Audry agar bersandar dibahunya.
"Kau sudah bangun." Ucapnya ketika merasakan pergerakan kepala gadis itu dibahunya.
"Hmm,"Gumam Audry belum sepenuhnya sadar. perlahan Audry mengagat kepalanya dan memandang kearah Daffa dengan mata sayu khas orang bangun tidur. Sesaat pandangan mata mereka bertemu, cukup lama posisi mereka seperti itu, tanpa sadar wajah Daffa sudah mulai mendekati wajah Audry.
__ADS_1
Cup.... Mata Audry membelalak ketika merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel pada bibirnya. Daffa yang melihat tak ada perlawanan menganggap itu sebagai lampu hijau. Daffa semakin memperdalam ciumannya walau Audry tak membalasnya.
Audry mengerjap untuk menyadarkan fikirannya.
Plaaaakkk,, satu tamparan mendarat diwajah tampan Daffa, membuatnya terkejut, begitu pun dengan Audry ini untuk pertama kalinya ia menampar seseorang.
"Beraninya kau!" Bentak Audry menunjuk Daffa dengan tangannya. Matanya sudah mulai berkaca kaca. Daffa yang masih syok, hanya diam.
"Atas dasar apa kau berani mencium ku? Ha?" bentaknya lagi menuding Daffa. airmatanya sudah mulai mengalir. Daffa menarik tangan Audry dan membawanya kepelukannya. Ntah kenapa ia tak tega melihat Audry menangis.
"Ada apa sayang." Ucap Bunda Riana mengelus rambut sang putri, dan membuyarkan lamunan Audry.
"Tidak ada Bun,"Ucap Audry meletakan kepalaya di pangkuan sang Bunda, yang saat ini duduk disampingnya sambil menonton acara realitishow disalah satu saluran Tv.
"Apa kamu tidak senang dengan perjodohan mu dengan Daffa?" Ucap Bunda Riana masih dengan kegiatannya semula.
"Bukankah ini keputusan Ayah?"Ujar Audry
__ADS_1
"Jika Riry sedih dengan keputusan Ayah, Bunda akan bujuk Ayah agar membatalkan pertunangan kalian." Ucap Bunda lagi. Audry hanya diam, sejujurnya dia sangat ingin perjodohannya dengan Daffa dibatalkan, tapi bagaimana dengan Ayahnya? Pasti Ayahnya akan sedih.
"Tidak Bunda. Riry cuma merasa, ini terlalu cepat." Ujarnya membalik posisinya agar wajahnya terbenam diperut sang bunda.
"Apa Rirynya Bunda merasa takut?" Ucap Bunda Riana. Audry semakin membenamkan wajahnya diperut sang bunda.
"Dua Bulan lagi kamu genap 17 tahun, dan hari itu juga hari pernikahan kalian." Ucap Bunda lagi. Audry seketika memandang bundanya, lalu kembali ke posisinya semula.
"Ada apa sayang? Katakan pada bunda." Pinta Bunda Riana.
"Riry hanya takut tak mampu menjalaninya" Ucap Audry kembali membenamkan wajahnya keperut sang bunda.
"Kalau saat ini yang Riry takutkan tentang cinta. Bunda kasih tau, Cinta itu akan hadir karena terbiasa sayang."Jelas Bunda.
"Jika Riry sudah biasa dengan kehadiran Daffa disamping Riry, dengan sendirinya cinta itu akan tumbuh."Jelas Bunda lagi.
"Mengerti sayang."Ucap Bunda Riana yang di Angguki Audry.
__ADS_1