
Suara ketukan heels terdengar memasuki ruangan megah didalam kapal pesiar yang hanya berlayar untuk mereka yang ber-uang.
Nuansa malam bergaya spanyol sangat terasa.
Lyra melihat punggung lelaki bertubuh tegap itu dibaluti jas berwarna hitam. Ia juga masih mengingat style rambutnya.
Ia membungkuk dan menyapa. Lelaki itu masih sama, terlihat dingin. Moeis Meyers.
“Aku baru saja sampai, tetapi mereka cepat-cepat memberiku pakaian ini dan menyiapkan mobil. Aku butuh istirahat ” ucap Lyra ragu.
Moeis mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Ia tidak memperdulikan keluhan Lyra. Menurutnya itu berlebihan, mereka bahkan sama sekali tidak pernah berkomunikasi, sejak sebelum bahkan sesudah menikah.
Selagi menikmati makan malam, Moeis akan langsung berbicara.
“Pindahlah kerumahku secepatnya sebelum orang tua kita berkunjung. Ku dengar kamu akan bekerja menjadi Akuntan? Ingin jabatan yang lain? aku akan urus secepatnya”
“Tidak bisa, aku pulang hanya untuk menemanimu menghadiri perayaan pernikahan orang tuamu dan akan segera kembali ke German” masih banyak yang harus ia lakukan, meskipun S2 nya telah usai.
Moeis sedikit tidak menduga dengan sikap Lyra, berbeda dengan 2 tahun lalu. Saat itu Lyra hanya diam dan mengiyakan pernikahan mereka.
“Lelaki itu tidak akan memberimu apa-apa. Dia hanya seorang manager. Itu kan yang membuatmu betah berlama-lama di German?” ucapnya dengan acuh sambil mengusap mulutnya dengan kain persegi berwarna merah.
Siapa yang sedang Moeis bicarakan? apa lelaki itu adalah Abe, sahabat terdekatnya. Bagaimana bisa Moeis mengetahui kehidupannya disana.
“Lelaki? aku tidak mengerti…”
“Abe Gervais, lelaki yang bersama mu 24 jam. 1 lantai apartemen, dan 1 kampus”
“Dia sahabatku. Jangan salah faham..”
Moeis tersenyum miring menatap Lyra. Apa itu tadi? salah faham.
“Ku rasa kamu yang salah faham. Aku bukan sedang cemburu atau semacamnya. Tidak ada hal seperti itu diantara kita, tetap gunakan batasmu agar keluarga kita tidak curiga”
__ADS_1
Setelah itu Moeis hanya pergi begitu saja meninggalkan Lyra.
Entah apa yang baru saja terjadi. Ia berdesir, tangannya sedikit bergetar namun ditahan. Wanita selalu saja perasa dengan fikiran ‘akan bertemu suaminya setelah 2 tahun’.
Keluarga besar Moeis adalah keluarga terpandang, sementara keluarganya hanyalah pebisnis biasa. Persahabatan ayahnya dengan ayah Moeis benar-benar bisa membawanya menjadi Ny. Meyers.
2 tahun lalu mereka menikah hanya dihadapan saksi dan keluarga besar di sebuah bangunan kastil mewah secara tertutup dan tanpa pesta, hanya makan malam keluarga besar. Rasanya tidak mungkin bagi pewaris tunggal dari keluarga konglomerat sepertinya. Tetapi itulah yang terjadi.
Selama 2 tahun itupun keluarga mengira mereka sering mengunjungi satu sama lain dan berkomunikasi dengan baik. Nyatanya, tidak sekalipun mereka berkomunikasi. Ini adalah kali pertama Lyra menginjakkan kaki di Indonesia lagi.
Sementara Moeis telah mendapatkan saham mayoritas diperusahaan keluarganya yaitu BARA GROUP hasil dari pernikahan nya dengan Lyra.
***
Ia memandangi wajahnya tanpa ekspresi didepan cermin besar sebuah ruang ganti di kamar nya. Memasang dasi hingga menggunakan jas.
Ponselnya berdering. Ia berjalan keluar kamar menuju ruang kerjanya. Membuka-buka file yang ia kerjakan pagi buta tadi.
“Temui saya 2 jam lagi” semuanya beres, ia segera menuju mobil yang sudah menunggu didepan.
“Halo”
Lyra menerima panggilan dari Moeis.
“Aku sudah diperjalanan menuju…”
“Cari gaunmu sendiri saja. Ada bayak hal yang harus ku kerjakan. Sampai bertemu nanti malam”
Panggilan itu terputus, membuat Lyra menghela nafasnya. Ia bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Bahkan semalam Moeis meninggalkan nya sendirian, hingga ia harus memutuskan untuk kembali ke hotel lebih awal. Lelaki itu tidak benar-benar menerima nya padahal jika dipikir-pikir berkat menikahi dirinya, dia telah menerima saham mayoritas, beberapa bangunan serta warisan lainnya.
Hingga kini pernikahan mereka masih menjadi rahasia dan belum diketahui publik, entah apa alasannya Lyra tidak mengerti.
Sudah pukul 7 malam, Lyra masih menunggu mobil jemputan di lobby hotel nya.
__ADS_1
Gaun polos berwarna merah yang membentuk badannya dengan sempurna dengan tali tipis di kedua pundaknya adalah yang sedang ia kenakan. Tatanan rambut digerai bervolume juga platform heels berwarna senada.
“Nyonya, saya sudah sampai. Silahkan..” seorang supir menghampiri nya dengan sopan.
Hampir saja ia terjatuh karena syok melihat ada seseorang lainnya di dalam.
“Bisakah kamu tidak membatalkan janji seperti itu?”
“Aku akan mengutamakan mana yang lebih penting” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.
Lyra diam, Moeis belum melihat kearahnya. Apakah ia memenuhi standar untuk menghadiri acara tersebut, apa ini terlalu norak?
“Lihat aku..”
“Diamlah..” ia menghela nafas dan memejamkan matanya.
“Lihat penampilanku, jika ada yang kurang katakan”
Moeis pun menoleh dan mantap wanita disampingnya dengan tatapan yang pekat. Dia cantik sempurna, ia menyukai gadis dengan pakaian berwarna merah.
“Terserah jika itu seleramu. Dengarkan, aku belum memberi tahu mu sesuatu”
“Apa”
“Jangan menemui keluarga Bibi ku”
Lyra penasaran.
“Kenapa?”
“Aku melarangmu. Itu saja”
Laki-laki disebelahnya terlihat sangat gugup. Pasti ada alasan mengapa ia tidak boleh menemui mereka.
Bersambung...
__ADS_1